Susan Dewi Cahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika guru dituntut tepat waktu , namun hak belum menyapa.
Ketika guru dituntut tepat waktu

Ketika guru dituntut tepat waktu , namun hak belum menyapa.

Ketika Guru Dituntut Tepat Waktu, Namun Hak Belum Menyapa

Tanggal 4 Februari. Pagi hari tetap dimulai dengan langkah yang sama: guru datang ke sekolah, menyiapkan perangkat ajar, membuka kelas, dan mendidik dengan penuh tanggung jawab. Namun di balik papan tulis dan senyum di hadapan murid, tersimpan kegelisahan yang tak terucap,gaji bulan Februari belum juga cair.

Sebagai guru, kami diajarkan dan diajak untuk menjadi teladan kedisiplinan. Absen harus tepat waktu. Terlambat satu menit mengisi kehadiran di aplikasi Pusaka, konsekuensinya jelas: potongan gaji. Sistem berjalan tegas, tanpa ruang dialog, tanpa mempertimbangkan situasi di lapangan. Guru dituntut patuh, profesional, dan selalu siap.

Namun pertanyaannya sederhana: di manakah ketepatan waktu saat hak guru menunggu kepastian?

Gaji bagi guru bukan sekadar imbalan kerja. Ia adalah penopang keberlangsungan hidup,untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, biaya transportasi ke sekolah, hingga sekadar menjaga ketenangan agar dapat mengajar dengan fokus. Ketika gaji terlambat, beban itu tidak ikut tertunda. Justru bertambah, perlahan namun pasti.

Ironisnya, keterlambatan pencairan gaji sering dianggap sebagai hal yang “bisa dimaklumi”. Guru diminta bersabar, diminta memahami sistem, diminta tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Padahal di sisi lain, sistem tidak pernah meminta maaf ketika keterlambatan itu terjadi.

Tulisan ini bukan bentuk keluhan tanpa dasar. Ini adalah refleksi tentang keadilan. Jika guru diwajibkan tepat waktu dalam menjalankan kewajiban, maka institusi juga semestinya tepat waktu dalam memenuhi hak. Disiplin sejati adalah disiplin yang berjalan dua arah.

Guru tidak menuntut keistimewaan. Kami hanya berharap adanya keseimbangan antara tuntutan dan tanggung jawab. Karena mendidik bukan sekadar soal kehadiran fisik di kelas, tetapi juga tentang ketenangan batin yang lahir dari rasa dihargai.

Sistem pendidikan akan kuat jika gurunya sejahtera. Aturan akan bermakna jika keadilan dirasakan. Dan keteladanan akan tumbuh jika semua pihak,bukan hanya guru,menjalankan disiplin dengan integritas yang sama.

Semoga suara kecil ini tidak dianggap sebagai pembangkangan, melainkan sebagai pengingat: guru juga manusia, yang mengabdi dengan hati, namun hidup dengan kebutuhan yang nyata.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post