Urgensi Literasi dalam Perspektif Islam
Urgensi Literasi dalam Perspektif Islam
Membaca adalah cara menyerap ilmu.
Menulis adalah cara mengikat ilmu.
Berpikir kritis adalah cara menguji ilmu
Literasi merupakan fondasi utama dalam pembangunan manusia dan peradaban. Hal ini dapat dibuktikan melalui Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang menempatkan aktivitas membaca dan menulis sebagai perintah pertama yang diturunkan Allah kepada manusia. Turunnya lima ayat pertama ini menjadi deklarasi intelektual pertama di dunia. Di tengah masyarakat Jahiliyah yang mengagungkan tradisi lisan, Islam datang membawa perintah membaca sebagai wakyu pembuka. Fakta ini menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia.
Perintah iqra’ dalam ayat pertama menegaskan pentingnya membaca sebagai gerbang awal memperoleh ilmu pengetahuan. Membaca tidak hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami fenomena alam, peristiwa sosial, dan tanda-tanda kebesaran Allah. Tanpa kemampuan literasi, manusia akan kesulitan memahami realitas di sekitarnya sehingga berpotensi terjebak dalam kebodohan dan kesalahan berpikir. Apalagi, di era informasi digital saat ini yang banyak bertebaran berita hoaks, literasi harus bisa bermanifestasi menjadi konsep tabayyun (verifikasi/klarifikasi). Islam secara tegas memerintahkan umatnya untuk melakukan kroscek terhadap setiap informasi. Literasi informasi ini adalah bentuk tanggung jawab moral. Seorang muslim yang literat tidak akan mudah terprovokasi atau menyebarkan berita palsu karena ia memiliki kemampuan analisis yang didasarkan pada kejujuran intelektual.
Surah Al-‘Alaq ayat 4 menyebutkan bahwa Allah mengajarkan manusia dengan pena. Pena melambangkan kegiatan menulis dan mendokumentasikan ilmu. Melalui kegiatan menulis, pengetahuan dapat disimpan, dikembangkan, serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, literasi berperan penting dalam menjaga kesinambungan ilmu dan kemajuan peradaban manusia.
Selain itu, ayat kelima menegaskan bahwa Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini membuktikan bahwa derajat manusia ditinggikan melalui ilmu pengetahuan. Literasi menjadi sarana utama bagi manusia untuk terus belajar, berpikir kritis, dan meningkatkan kualitas hidupnya. Masyarakat yang memiliki budaya literasi yang kuat cenderung lebih maju, rasional, dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Dengan demikian, literasi adalah kewajiban dan kebutuhan fundamental manusia. Literasi bukan hanya alat untuk memperoleh ilmu, melainkan juga sarana pembentukan karakter manusia. Oleh sebab itu, penguatan budaya literasi sangat penting dan perlu terus dilakukan baik dalam dunia pendidikan, maupun kehidupan masyarakat secara luas.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
