Engkau Ibuku Sekaligus Bapakku
Sabtu, 9 Januari 2021
Memasuki tantangan gurusiana 365 hari ke-348
***
#LOMBA JANUARI
Engkau Ibu Sekaligus Bapakku
Oleh : Sutarti, S.Pd.SD
Semua orang tua di dunia ini pasti ingin melihat anaknya berhasil dan bahagia. Begitu juga dengan ibuku, meregang nyawa ketika melahirkan dan bekerja keras dalam membesarkanku. Perjuangan yang luar biasa tercurah demi meraih masa depan yang lebih baik. Berjuang sendirian demi sebuah kata berhasil. Tanpa kehadiran pendamping di sisinya, engkau berjuang tanpa lelah.
Mengapa demikian? Ibuku membesarkanku di tengah masa-masa sulit. Beliau mendidik dan membimbingku sendirian tanpa kehadiran suami yaitu bapakku di sisinya. Masih ingat betul waktu itu, ketika demi untuk mendapatkan makanan. Ia rela berjualan kerupuk bungkus yang bergambar artis ternama waktu itu. dibeli dari pasar dan dijual di rumah. Dari hasil berjualan itulah, ibuku mampu membesarkanku.
Peluh dan keringatnya semua tercurah untukku. Ketika aku mulai besar dan masuk sekolah. Awal masa sulit kami tanpa kehadiran seorang bapak yang telah tiada, meninggalkan kami berjuang sendiri. Ibu dengan rela menahan pedih, menahan kantuk, dan tidak memperdulikan kesehatannya. Bekerja tanpa lelah hanya ingin melihat aku bahagia.
Tidak sampai di situ, ketika hidup mulai sulit dan kebutuhan semakin banyak. Ibuku berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan demi untuk menambah penghasilan. Masih ingat betul waktu itu. Ketika aku berusia 4 tahun. Ketika fajar menyingsing selalu ikut bangun. Menemani beliau saat membuat makanan yang berasal dari singkong dan tengahnya diberi gula, atau yang dinamakan utri. Setelah siap dengan sigap menjualnya ke pasar di pagi buta, tanpa memperdulikan perut yang keroncongan. Yang ada hanya keinginan yang kuat untuk menghidupi kami.
Begitu besar perjuangan beliau dalam membesarkanku. Sendirian menapak kerasnya hidup. Menerjang panasnya matahari demi sesuap nasi. Ibuku engkau sekaligus bapakku. Ketika anak-anak yang lain bisa berkumpul dengan ayah mereka, tapi aku tidak. Ketika anak lain pergi bermain dengan ayah mereka dan aku tidak. Setiap hari ibu menguatkanku dan selalu berkata, "Kita berjuang sama-sama, Nak!".
Ibu tak kenal lelah dan berusaha membuat aku bahagia. Masih ingat kala itu jelang lebaran. Anak-anak lain sibuk dengan baju barunya. Mereka tertawa penuh kegembiraan karena kaos dan celana mereka yang bagus, yang akan dipakai lebaran nanti. Aku hanya melihat dari kejauhan. Terbersit dihatiku bahwa akupun menginginkannya. Ku sembunyikan tangisku di bawah bantal, aku berusaha melupakan keinginanku dengan tidur. Namun, semua itu tidak bisa dan masih saja terbayang.
Pagi itu kulihat ibu pulang dari pasar dan membawa sebuah bungkusan. Plastik hitam yang disisipkan di bakul tempat untuk berjualan. Diambil dan diberikannya kepadaku dengan senyumnya yang tulus. Kubuka dan aku merasa girang. Iya, baju baru berwarna merah jambu dan berpita ungu. Kucoba dengan hati senang. Baju itu pas di badanku dan kata ibu, “Kamu cantik pakai baju itu, Nak!”.
Kuucapkan rasa syukur pada Allah SWT karena telah mendengar doaku. Bisa memakai baju baru seperti teman-temanku. Tidak diejek lagi karena tidak punya baju baru. Terima kasih ibu atas semuanya. Pengorbananmu untukku sangat luar biasa.
Suatu ketika aku tahu yang sebenarnya. Ketika aku ikut ke pasar, kudengar suatu berita yang membuat hatiku trenyuh dan menangis. Baju baru itu didapat ibu dari membayar secara mencicil di penjual pakaian alias kredit. Mendengar hal itu tangisku tertumpah dan segera memeluk ibu. Masih dengan senyum tulisnya beliau berkata,”Buat kamu, apapun akan ibu lakukan, Nak!”.
Perhatianmu hanya tercurah demi aku dan masa depanku. Tak kau hiraukan kesehatanmu. Tak kau pikirkan akan tenaga rapuhmu kala itu. Kebahagiaanmu kau abaikan, yang ada hanya ingin membahagiakanku.
Sampai detik ini, aku berjanji akan membuat engkau bahagia. Berusaha yang terbaik dan ingin lebih perhatian padamu. Kasih sayangmu begitu sampai detik ini begitu besar untukku. Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak. Namun, aku mendapat kasih sayang yang begitu besar darimu. Engkau ibu sekaligus bapakku.
Profil Penulis
Sutarti, S.Pd.SD, Saat ini masih aktif mengajar di SD Negeri 1 Plosoharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan.
Buku mandiri telah berhasil diterbitkan di MediaGuru. Di antaranya adalah Cerita Sang Juara: Cerita Anak Pengembang Karakter (2018), Mamah, Cepat Pulang, Ya! (2020), Kisah Gadis Penjual Keripik Bayam (2020), dan Bunga Tidur yang Mencekam (2020).
Penulis saat ini menjadi pengurus aktif di AGPG ( Asosiasi Guru Penulis Grobogan ). Sebuah organisasi yang membersamai para penulis di Kabupaten Grobogan.
Penulis bisa dihubungi di WA. **(censored)**Alamat email: **(censored)** . FB. Tatiex_tweet dan IG: tatiex_tweet.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
