Bukan Salahku
Kamis, 11 Maret 2021
TAGUR-44 (365)
***
Suara gebrakan meja memecah kesunyian siang itu di ruang kelas XI. Mata Hega tampak memerah dan hendak menangis. Lesung pipi yang biasanya hiasi wajahnya kali ini pun tak terlihat. Yang ada hanyalah raut muka tegang dan kepalan tangan pertanda saat itu dia sedang menahan amarah.
Dalam hatinya merasa sedih dan penuh amarah serta menahan kepedihan yang mendalam. Entah apa yang terjadi siang itu. Yang pasti Tika merasa terpukul dan perasaannya tidak karuan. Selang beberapa waktu kemudian ia berusaha mengalahkan egonya, berusaha menata hatinya supaya tidak penuh dengan amarah. Raut mukanya berangsur-angsur cerah. Dahinya yang dari tadi ditekuk sekarang sudah tak tampak lagi. Nafas yang tadinya ngos-ngosan karena menahan marah tiba-tiba menghilang.
Gadis itu terduduk di bangku kelasnya. Siang itu suasana kelas tampak sepi, teman-temannya sudah pulang karena memang sudah waktunya. Hega masih duduk di bangku kelas sambil sesekali menyibakkan rambutnya yang tergerai.
***
Hega adalah gadis manis yang memiliki dua lesung pipi. Jika sedang tersenyum pasti akan kelihatan cantik sekali. Teman-temannya menyukainya karena sifat dan perangainya yang sangat sopan dan santun. Pagi itu, seperti biasa ia berangkat sekolah dengan naik sepeda. Jarak rumahnya dengan sekolah memang tidak begitu jauh, kurang lebih 1 km. Perjalanan menuju ke sekolah memerlukan waktu 20 menit. Di persimpangan jalan dia bertemu dengan Reno, kakak kelasnya. Sempat kaget juga karena sepeda mereka hampir bertabrakan. Untungnya mereka pandai mengendalikan laju sepeda masing-masing jadi tidak ada insiden yang parah.
“Berangkat bareng yuk Ga!“ ajak Reno sambil mempercepat laju sepedanya
“Boleh, kira-kira ada yang marah tidak Kak?” jawab Hega sambil tersenyum.
“Marah? Kenapa?“ tanya Reno keheranan.
“Tidak apa-apa, Yuk!“ ajak Hega sambil mempercepat laju sepedanya.
Mereka bersepeda beriringan, tawa dan canda mengiringi perjalanan mereka. Hega sempat terdiam beberapa saat padahal Reno ada di sampingnya dan mengajak dia bicara. Pemuda itu memberanikan diri untuk bertanya, karena tidak seperti biasanya gadis itu diam seperti itu.
“Hega!“ sapa Reno.
“Hega!” panggilnya lagi
Hega tampak kaget mendengar panggilan itu. Kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Reno. Wajahnya tampak memerah.
“Eh, iya kak,“ jawab Hega.
“Ada apa Ga? Ini di jalan, jangan melamun! Apa ada masalah?“ tanya Reno lagi kepadanya
“Tidak ada kak.“ jawab Hega singkat.
Hega merasakan ada sesuatu yang berbeda jika dekat dengan Reno. Namun, ia berusaha menepisnya. Dadanya terasa sesak, napasnya naik turun dan perasaannya tidak karuan. Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Dari kejauhan sudah tampak gerbang sekolah mereka yang megah. Semakin dipercepat laju sepedanya karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 menit. Masih ada waktu 15 menit lagi untuk sampai ke kelas. Dia sandarkan sepedanya di tempat parkir yang letaknya tidak jauh dari kelasnya. Reno pun juga segera parkir dan mereka berpisah menuju kelas masing-masing. Gadis itu tergesa-gesa sekali, masih ada waktu 10 menit untuk sampai di kelasnya. Tiba-tiba dia tergelincir dan terjatuh.
“Aduh!“ kata Hega sambil berusaha berdiri
Dari kejauhan tampak 2 gadis sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat Hega jatuh. Salah satu dari mereka berkata dengan nada mencibir.
“Syukurin, salah sendiri jalan tidak lihat-lihat!“ seru Lila.
Hega tertegun mendengarnya, ia berusaha berdiri dan berjalan tertatih-tatih untuk sampai ke kelasnya. Kakinya terasa sakit dan nyeri, kemudian dia menuju bangkunya yang tempatnya ada di belakang sendiri. Tampak terlihat Nilam dan Lila temen sekelasnya itu mencibir melihatnya. Memang mereka terkenal sekali sebagai biang kerusuhan. Terlihat sekali kalau mereka itu tidak suka padanya.
Terdengar bunyi bel masuk dan siswa kelas XI berhamburan masuk ke dalam kelas. Mereka langsung duduk rapi di bangku masing-masing. Tampak Bu Ela memasuki ruangan sambil sambil tersenyum, beliau meminta ketua kelas untuk memimpin doa. Setelah semua selesai, dengan tiba-tiba beliau berkata,
“Keluarkan selembar kertas, hari ini kita ulangan Matematika,“ kata Bu Ela.
Seketika membuat panik seisi kelas. Tetapi tidak untuk Hega, dia berusaha tenang karena tadi malam sudah belajar walau tidak sampai larut malam. Gadis itu termasuk anak yang rajin dan cerdas.
“Mengapa mendadak begini Bu?” tanya Nilam.
“Iya bu, kami belum siap,“ sela Lila.
“Kalau kalian tidak siap, sebaiknya sekarang juga bisa keluar kelas dan menikmati udara segar di lapangan sana!“ kata Bu Ela dengan sedikit geram.
“Bukankah tugas kalian adalah belajar? Ada dan tidak adanya ulangan, kalian harus tetap belajar dan siap jika sewaktu-waktu ada ulangan,“ kata beliau lagi.
“Iya bu.“ seru seisi kelas kompak.
Bu Ela mulai membagikan kertas ulangan ke siswanya. Tampak raut muka mereka berbeda-beda. Ada yang mengernyitkan dahi tanda sedang bingung. Ada yang pegang kepala kemudian menggeleng-gelengkannya. Ada saja polah tingkah mereka. Di depan tampak Nilam dan Lila sedang sibuk melihat teman-temannya, mereka sepertinya merasa kebingungan karena semalam tidak belajar.
Akhirnya timbul ide jelek dalam diri keduanya. Lila mengambil kertas dan diberi tulisan kemudian dilemparkan ke arah Hega. Hal itu membuat Hega kaget. Kertas itu mendarat cantik tepat di atas kertas ulangannya. Dia tengok kanan kiri dan berusaha mencari siapa yang telah melemparkannya. Tetapi tiba-tiba bu guru mendekat dan Hega sempat panik karena memegang kertas itu. Dari arah depan ada yang menyeletuk.
“Bu, di kelas kita ada yang mencontek!” kata Lila.
“Siapa Lil?” tanya bu Ela
“Hega, lihat saja ditangannya ada apa? Pasti kertas contekan itu,” jawabnya lagi dengan yakin
Hega tampak kaget, semua mata tertuju padanya. Bu guru juga demikian dan bergegas menghampirinya.
“Hega, ada apa di tanganmu itu? Coba buka!” kata bu Ela dengan nada tinggi.
Hega terdiam, raut mukanya kelihatan bingung, dia tidak sadar bahwa kertas tersebut sudah berpindah tangan. Bu Ela membuka kertas tersebut dan melihat isinya. Seketika mata beliau terbelalak seakan tidak percaya, tetapi di hadapan siswa-siswanya dia berusaha untuk berlaku adil.
“Hega, keluar kamu dari kelas ini!” kata Bu Ela.
Hega kaget dan tanpa pikir panjang dia keluar kelas. Bu Ela duduk terdiam, dalam hati dia juga berontak. Seakan tidak percaya bahwa siswa kesayangannya mampu melakukan itu. Kelihatan dari raut mukanya bahwa beliau menyesal telah memperlakukan Hega seperti tadi.
Bel berbunyi tanda pelajaran sudah selesai. Soal dikumpulkan dan meminta siswanya untuk istirahat. Di luar kelas tampak Nilan dan Lila sedang asyik ngobrol. Mereka tidak menyadari kalau bu Ela sedang memperhatikannya.
“Rencanaku berhasil kan?” dia diusir dari kelas, salah sendiri kenapa dia berani mendekati Reno,” kata Lila.
“Jadi kamu yang melakukan semua ini karena itu!” tanya Nilam.
“Yuk, kita cari dia, aku sudah tidak sabar ingin melihat mukanya,“ ajak Lila.
“Ayo!” kata Nilam lagi.
***
Dari kejauhan tampak sesosok gadis sedang duduk di bawah pohon kelapa sambil memandang hamparan padi di depannya. Pandangannya sangat jauh ke depan, terlihat dia memejamkan mata. Ada sesuatu yang disembunyikannya daan membiarkannya tersimpan rapi di sana.
“Hega!” sapa seseorang dari belakang.
Gadis itu masih terdiam sambil terus memejamkan mata, seolah sedang menyimpan rasa pedih dan perih di dalam hatinya.
“Hega!” sapa seseorang itu lagi, dengan sedikit nada lebih tinggi dari sebelumnya.
Gadis itu membuka matanya, tanpa memandang siapa yang telah memanggilnya. Dia masih diam dan tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Sesegera mungkin dia hapus air mata itu dan berharap suara yang memanggilnya tadi tidak melihatnya. Namun, dari arah belakang terdengar suara lagi.
“Ada apa denganmu? Kamu menangis?”
Hega menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok cowok yang dari tadi memanggilnya itu ternyata adalah Reno. Ditatapnya mata Reno seakan-akan dia ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Tapi diurungkannya niatnya itu, kemudian dia mengalihkan perhatiannya lagi. Belum sempat bertanya lagi dia berlari. Hega berlari ke kelas dan sampai sana ada seseorang yang membuat dia marah lagi.
“Hai, Ga. Sudah kamu rasakan kan? Itulah akibatnya kalau merebut cowok orang!“ kata Lila.
“Maksud kamu apa? Cowok siapa?“ jawab Hega heran.
“Reno, dia cowokku kenapa kau dekati?” tanya Lila lagi.
Seketika Hega diam tanpa kata, ada rasa marah dan geram dalam hatinya kemudian dia berkata,
“Reno bukan siapa-siapaku!” jawab gadis itu.
“Jangan mengelak, tadi kulihat kamu sedang berduaan dengannya,“ kata Lila lagi.
Hega tampak geram dan menahan marah. Segera ia jawab pertanyaan Lila itu.
“Sekali lagi aku bilang, Reno bukan siapa-siapaku,“ sambil menunjuk ke Lila.
Tiba-tiba Lila terjatuh dan kemudian dia bilang kepada seseorang yang sedang melintas di depan kelasnya. Beliau adalah pak Dito guru olahraga di sekolahnya.
“Kau telah menyakitiku, kenapa kau lakukan itu!” kata Lila.
“Siapa yang mendorongmu, perasaan aku tidak melakukan apa-apa?” jawab Hega dengan heran melihat tingkah Lila.
“Ada apa ini kok ribut-ribut?” kata Pak Dito.
“Hega telah mendorongku hingga jatuh pak,” jawab Lila.
“Tidak pak,” sanggah Hega.
“Betul pak, Hega telah mendorong Lila sampai jatuh “ jawab Nilam berusaha meyakinkan Pak Dito.
Serta merta Pak Dito berkata dengan nada tinggi.
“Hega, sekarang juga kamu lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali!”
“Eh.. eh.. saya pak? Tapi saya tidak...
“Sudahlah segera laksanakan!” perintah Pak Dito.
Dengan langkah gontai Hega berjalan pelan menuju ke lapangan, di belakangnya tampak Pak Dito mengikutinya. Sampai di lapangan, ia perintahkan Hega untuk lari keliling lapangan sebanyak 10 kali.
Hega lari mengelilingi lapangan, tampak dari kejauhan Pak Dito menghitung. Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Lima ... Baru selesai hitungan ke lima tiba-tiba Hega jatuh pingsan. Pak Dito panik dan segera berlari menghampiri Hega Tetapi sudah terlambat, dia sudah digendong oleh seseorang menuju ke ruang UKS.
Wajah Hega terlihat pucat, bibirnya tampak memutih dan dari tubuhnya keluar keringat dingin. Butuh waktu lama untuk menyadarkannya. Sudah diberi minyak kayu putih di dahinya,di tangannya, di kakinya dan di hidungnya, belum sadar juga. Selang waktu 20 menit akhirnya dia sadar. Dia terdiam, dari sudut matanya keluar buliran air bening. Ia palingkan wajahnya ketika merasa ada seseorang yang memegang tangannya.
“Hega, kamu tidak apa-apa? Apanya yang sakit?” tanyanya
Laki-laki itu adalah Reno, kakak kelasnya yang selalu memperhatikannya. Hega merasa heran, dari mana Reno tahu kalau sedang ada di UKS. Seperti mendengar suara hatinya tiba-tiba Reno menyeletuk.
“Hega, jangan tanya kenapa aku di sini. Tadi kebetulan aku lewat lapangan dan melihat kamu di hukum, kamu tampak kelelahan, kemudian kulihat kamu jatuh, segera ku berlari menggendongmu dan membawa ke UKS,“ kata Reno panjang lebar.
“Oh, ternyata begitu ceritanya. Terimakasih kak,” kata Hega dengan senyum manisnya
Kemudian datang Bu Ela dengan Pak Dito. Beliau menyapa Reno dan Hega dengan lemah lembut. Mereka berdua meminta maaf.
“Hega, bapak minta maaf ya? Bapak tidak menyelidiki dulu siapa yang salah dan yang benar, tapi bapak sudah tahu ternyata Lila dan kawan-kawannya yang salah,“ kata pak Dito.
"Hega, ibu juga minta maaf. Ternyata kertas tadi punyanya Lila. Ibu sudah menghukum mereka," kata Bu Ela.
“Iya pak, bu.” jawab Hega.
Kondisi Hega berangsur-angsur pulih dan dia sudah bisa berdiri tegak. Reno membantunya, tetapi gadis itu tidak mau dan kemudian dia berkata,
“Kak, sebaiknya kakak jangan dekat-dekat denganku,“ kata Hega.
“Kenapa Ga?” tanya Reno heran.
“Maaf, tidak apa-apa, Kak. “
Hega pergi meninggalkan Reno yang diam dalam kebingungan. Terdengar sayup-sayup suara dari ruang BP dan Reno mendengarnya. Ternyata alasan Hega tidak mau didekati adalah karena Lila. Dia saat di interogasi oleh bu kepala sekolah mengatakan bahwa Reno adalah pacarnya. Dari obrolan itu Reno seketika lemas dan kemudian terduduk, gadis yang selama ini disukainya ternyata dia baik dan mengalah demi temannya. Bel pulang berbunyi, siswa-siswi berhamburan keluar kelas dan pulang menuju rumah masing-masing.
Reno tampak celingukan sepertinya dia sedang berusaha mencari seseorang. Dia ke kelas dan melihat gadis yang dicarinya tadi sedang duduk di sana. Dia melihat gadis itu menggebrak meja, pipinya tampak memerah dan dari sudut matanya tampak butiran air yang hampir jatuh.
“Ini tidak adil.“ katanya dengan geram.
Sepuluh menit kemudian dia tampak duduk dan menundukkan kepala. Seseoarang duduk di sebelahnya dan memegang pundaknya.
“Hega, aku sudah tahu semuanya. Kamu tidak salah,“ katanya.
Hega menoleh, matanya menatap ke arah cowok itu dan tanpa sadar air matanya keluar. Cowok itu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya
“Hega, tolong jangan nangis. Atau ...atau .. menangislah sampai kamu puas” kata cowok itu yang tidak lain adalah Reno.
Gadis itu masih sesenggukan di depan Reno. Dengan penuh kasih pemuda itu menggenggam jemari Hega, ia melakukan supaya gadis itu jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Hega, jangan kau minta aku untuk menjauhimu, aku sayang padamu, aku ingin melindungimu” kata Reno.
Gadis itu kaget dan melepaskan genggaman jemari Reno. Mereka saling bertatapan, tampak ada rasa nyaman dari tatapan mata mereka.
“Maafkan aku kak, “ kata Hega.
“Mengapa harus meminta maaf?” sahut Reno.
“Maafkan aku karena aku juga telah menyimpan perasaan ini sama kakak,” kata Hega.
“Jadi, kamu juga menyukaiku?“ tanya Reno dengan tidak sabar karena merasa senang.
Hega menjawab dengan anggukan dan senyum manis dari bibirnya. Mereka saling bertatapan kembali. Kelas itu jadi saksi tautan hati mereka. Lila dan siapapun tidak akan bisa memisahkan hati mereka.
Reno mengajak gadis itu pulang. Mereka ambil sepeda dan mengayuhnya bersama. Sampai di persimpangan jalan mereka jalan terpisah. Senyum mereka merekah dan saling melambaikan tangan.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
