Cinta yang Rumit
Jumat, 12 Maret 2021
TAGUR-45 (365)
***
Cinta yang Rumit
Karya : Sutarti
Di sudut kantin kampus, terlihat seorang pemuda yeng tengah duduk menyendiri ditemani segelas teh manis. Ia tampak gugup, tangannya gemetar dan keluar keringat dingin dari tubuhnya yang putih bersih. Di tangannya terdapat secarik kertas berwarna merah jambu. Entah apa isinya, yang pasti ada sebuah rahasia yang disembunyikan di balik kertas itu.
Seorang gadis manis mendekatinya dan membuat pemuda itu kaget luar biasa. Hampir saja kertas itu jatuh. Untungnya ia cekatan menangkap dan menyembunyikannya di balik saku celananya.
“Kak Ciko, maafkan aku karena telat datang,”kata gadis itu dan langsung duduk di hadapan pemuda itu.
“Tidak apa-apa Ve, memangnya ada apa di kelas sampai kamu telat?” tanya Ciko pada gadis itu.
“Tadi ada pengumuman mengenai kegiatan pensi minggu depan,”jawab Ve sambil memesan minuman.
Pemuda itu ternyata bernama Ciko dan gadis manis yang mendekatinya itu bernama Veli. Mereka berdua sudah janji untuk bertemu di kantin kampus.
“Oiya Kak, ada apa mengajakku bertemu di sini? Sepertinya ada sesuatu yang penting?” tanya Ve lagi.
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin ngobrol saja sama kamu. Sudah lama kan kita tidak minum bareng seperti ini?” jawab Ciko lagi.
“Kirain ada yang penting, ternyata hanya ingin minum bareng,” kata Ve.
“Memangnya apa yang kamu pikirkan?” tanya pemuda itu.
“Tidak ada.”jawab Ve singkat.
Keduanya sejenak terdiam. Ve duduk sambil sesekali minum teh yang sengaja ia pesan. Begitu juga dengan Ciko. Duduk diam tanpa bicara sedikitpun pada gadis itu. Mereka berdua adalah teman dekat sejak duduk di bangku SMA.
“Kak, kita pulang aja yuk!” ajak Ve pada Ciko.
“Kamu duluan saja, aku masih betah di sini,”jawab Ciko kaku.
“Kalau gitu aku pulang dulu ya?” kata Ve sambil berlalu dari hadapan Ciko.
Ciko memperhatikan Ve hingga hilang dari pandangannya. Ia merasa bersalah pada gadis itu. Dari awal sudah bersikap acuh, padahal ia yang mengajak gadis itu ke kantin.
Pemuda itu mendengar bahwa gadis itu sudah punya kekasih. Sebenarnya ia ingin menanyakan itu pada Ve. Namun, ia tidak berani. Ia takut mendengar kenyataan kalau memang benar Ve sudah punya pacar. Akhirnya ia pergi ke kasir dan melenggang pulang.
Sesampainya di rumah pemuda itu kaget karena ada orang tua Ve di rumahnya. Mereka sedang asyik ngobrol dengan kedua orang tuanya. Melihat Ciko datang, ibu Ve langsung menyapanya.
“Eh Ciko, baru pulang ya? Tadi kamu bertemu dengan Ve tidak?”tanya Ibunya Veli.
“Iya tante, tadi Ciko bertemu di kampus,” jawabnya sambil senyum dan pamit masuk ke kamar.
Dalam hati Ciko bertanya-tanya tentang kedatangan orang tua Ve ke rumahnya. Ia penasaran sebenarnya ada apa?. Hingga kedua orang tua Ve pulang pertanyaan itu masih mengganggu perasaannya. Ia beranikan diri untuk bertanya sama mamanya.
“Ma, ada acara apa Tante Neni dan Om Ben ke sini?” tanya Ciko.
“Penasaran ya? Memangnya Veli tidak cerita sama kamu?” tanya Mama Ina.
“Tidak, ia tidak bilang apa-apa,” jawab Ciko lagi.
Mama Ina kemudian menceritakan semuanya pada Ciko. Semua itu membuat pemuda itu menjadi lemas dan hatinya hancur. Ternyata sebentar lagi Ve akan bertunangan dengan Tedi, yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Ia merasa bersalah dan kalah dengan keadaan.
***
Di tempat lain tampak Ve sedang melamun. Ia menemukan sebuah foto dirinya dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Ciko. Teman SMA yang saat ini satu kampus dengannya. Ia tersenyum mengingat kejadian dulu waktu SMA. Semua menyisakan kenangan yang indah. Hanya kenangan, karena sekarang ia sudah dekat dengan seorang pemuda. Tedi yang sekarang sudah menjadi kekasihnya.
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Ia letakkan foto itu terbalik di meja dekat dengan handphonenya. Segera Ve ke luar dan ia sempat kaget ternyata ada Tedi di sana. Diajaknya pemuda itu masuk dan duduk di taman belakang.
“Tumben datang, kok tidak bilang dulu, ada apa Kak?” tanya Ve sambil tersenyum dan mengajaknya masuk.
“Main aja, memangnya tidak boleh?” jawab Tedi sambi senyum.
“Boleh, aku ambi minum dulu ya?” kata Ve sambil berlalu dari hadapan pemuda itu.
Sambil menunggu Ve ambil minuman, pemuda itu duduk dan matanya tertuju pada meja yang di atasnya ada sebuah kertas yang sekilas mirip foto. Karena penasaran kemudian ia dekati dan kaget ternyata betul foto. Semakin kaget ketika mengetahui siapa yang ada di foto itu. Tak berapa lama kemudian Ve datang sambil membawa minuman.
“Ini kak minumannya,” kata Ve sambil memberikan segelas teh manis pada pemuda itu.
“Terima kasih ya?” jawab Tedi sambil meminum apa yang diberikan oleh gadis itu.
“Oiya, aku ingin pastikan sekali lagi sama kamu Ve. Kamu jawab jujur ya?” kata Tedi lagi.
“Kakak mau nanya apa? Aku akan jawab jujur semua pertanyaan dari kakak,” jawab Ve lagi.
“Ve, kamu benar mau jadi pacarku kan? Kamu juga bersedia bertunangan denganku?” tanya Tedi sambil menatap wajah gadis yang begitu dicintainya itu.
Ve mendekati pemuda itu sambil tersenyum manja. Ia pandangi wajah Tedi penuh arti.
“Kak, harus aku bilang berapa kali kalau aku mau jadi pacar kamu?”tanya Ve sambi tersenyum.
Sejenak Tedi menikmati senyum itu. Dari senyum itulah ia jatuh cinta dan tertarik pada gadis itu. Namun, ia teringat pada foto yang ia temukan tadi di meja. Seketika wajahnya berubah dan penasaran.
“Kamu berkata jujur kan?” tanya Tedi lagi.
Ve sempat kaget dengan pertanyaan pemuda itu. Padahal ia sudah berusaha meyakinkan bahwa apa yang ia katakan itu adalah benar. Ia begitu mencintai Tedi. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya dan tiba-tiba ia menangis.
Melihat gadis yang ia sayangi itu menangis, Tedi merasa iba dan segera mendekatinya. Ia usap air mata itu dan merengkuh gadis yang ia cintai itu.
“Maafkan aku telah membuat kamu menangis, maafkan aku,” kata Tedi sambil menggenggam tangan gadis itu.
Mendengar apa yang dikatakan Tedi, air mata gadis itu semakin mengalir deras dan pemuda itu merasa sangat bersalah.
“Mengapa kakak masih meragukan perasaanku? Apa aku seperti sedang berbohong?” tanya gadis itu lagi sambil masih berada dalam dekapan pemuda itu.
Tedi semakin erat menggenggam jemari gadis itu. Akhirnya ia beranikan diri bertanya mengenai foto yang ia temukan di atas meja itu.
“Aku tadi melihat foto kamu bersama dengan seorang laki-laki di meja itu. Siapa dia?” tanya Tedi.
Ve kaget dan segera melepaskan rengkuhan pemuda itu. Diambilnya foto itu dan ia berusaha menjelaskan.
“Jadi karena foto ini kakak bertanya seperti itu? Ini foto teman kampusku. Dia sahabatku sejak SMA. Dulu aku sempat naksir dia, tapi karena ia menganggap aku hanya sebagai sahabat jadi ya begitulah. Kukubur dalam-dalam rasa itu sampai akhirnya aku bertemu dengan kakak,” jawab Ve dengan panjang lebar.
“Kamu tahu siapa yang ada dalam foto itu?” tanya Tedi lagi.
“Kok masih tanya lagi, kan tadi aku dah jelasin,” jawab Ve.
“Dia adikku, Ve.” Kata Tedi.
Apa yag dikatakan Tedi itu sempat membuat Ve kaget. Ternyata Ciko itu adiknya Tedi. Gadis itu terdiam, dengan tegarnya Ve berkata pada pemuda itu.
“Mungkin saat ini aku sedikit kaget dengan semua ini. Namun, asal kakak tahu. Semua tidak merubah perasaanku. Hati ini masih sama, hanya milik kakak.” kata Ve sambil mengangguk untuk meyakinkan Tedi.
Tedi melihat kesungguhan di mata gadis itu. Ia temukan cinta di sana. Sekarang ia sudah yakin dan tidak ragu lagi dengan gadis itu. Ia sudah berkata jujur padanya. Ia genggam tangan gadis itu dan tersenyum sambil mengusap rambut hitam Ve yang tergerai.
“Ve, terima kasih atas kejujuran kamu. Aku sudah yakin dan semakin percaya sama kamu, aku begitu mencintaimu,” kata Tedi sambil tersenyum.
“Iya Kak, aku juga sayang dan cinta sama kamu.” kata Ve sambil membalas senyum itu.
Keduanya sudah saling meyakinkan diri masing-masing. Yang pasti mereka saling sayang dan sudah mantap untuk bertunangan bulan depan.
***
Di rumah, Ciko berusaha menata hatinya. Selama ini memang dia tidak pernah mengungkapkan jika dia sayang sama Ve. Ia hanya bisa menuliskan isi hatinya pada secarik kertas berwarna merah jambu. Kertas yang sempat ia sembunyikan dari Ve waktu itu.
Ternyata dalam kertas itu tertulis, “Ve, aku sayang kamu sejak kita duduk di bangku SMA. Namun, aku tak berani untuk bilang ke kamu. Aku takut kamu menolaknya.”
Sekarang Ciko sadar bahwa ketakutannya dulu membuat ia kehilangan gadis yang dicintainya itu. Ia sekarang harus rela jika Ve sudah menjadi milik kakaknya. Veli milik Tedi, dan ia harus berusaha mengikhlaskannya. Segera ia sobek kertas merah jambu itu. Ia buang jauh-jauh dan berjanji dalam hati. Ia yakin, suatu saat nanti pasti akan menemukan seseorang yang tulus sayang dan mencintainya.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
