Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Jejak Rindu di Kemuning

Jejak Rindu di Kemuning

Minggu, 14 Maret 2021

TAGUR-47 (365)

***

Jejak Rindu di Kemuning

Karya : Sutarti

Sore ini kau katakan rindu padaku. Melalu chat kau sampaikan ingin bertemu denganku. Ku terhenyak, terdiam, dan termangu. Kata-katamu kali ini membuat pikiranku tidak tenang. Hati berdesir dan jiwa meronta ingin merasakan hal yang sama. Bertemu, tertawa lepas, dan menikmati rasa rindu yang menggebu bersamamu.

Dalam chat yang kau kirimkan padaku, kau katakan ingin bertemu di tempat terindah itu. Rasanya tak sabar ingin segera bertemu. Segera kubayangkan, begitu asri, nyaman, dan membuat jiwa ini tenang. Iya, di Kebun Teh Kemuning.

Rasanya tak sabar menunggu esok hari. Malam ini pun seperti orang-orang yang sedang dilanda rindu, aku tak bisa tidur. Membayangkan wajahmu dan senyuman manismu yang hanya untukku. Kupejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Akhirnya ku terlelap dalam harapan indahku.

Keesokan harinya, dengan sedikit tergesa-gesa kuambil handuk dan segera melangkah ke kamar mandi. Ku bersiap-siap untuk bertemu denganmu. Setelah rapi, tak lupa kuambil selembar roti tawar sebagai pengganjal perutku yang sedang lapar. Kumakan sehingga buat hati ini tenang.

Udara pagi ini tampak segar sekali. Ku menyusuri jalan sambil kukayuh sepeda merah jambuku ini untuk bersiap bertemu denganmu. Di kebun teh ku akan menunggumu, setelah sampai di sana segera kusandarkan sepeda itu pada tempatnya. Kulihat sekeliling kebun kau belum kelihatan. Dimana kamu? Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sesuai janji kita kemarin sore.

Satu jam berlalu, namun kau belum datang juga. Kuhubungi melalui chat WA dan telepon, tidak ada balasan dan tidak tersambung. Kamu di mana? Apakah kamu lupa akan janji kita? Ada apa denganmu?

Dengan langkah gontai kuambil sepeda dan ingin segera berlalu dari situ. Perasaan sedih dan kecewa menyelimuti hatiku. Air mataku mengalir dengan sendirinya. Saat hendak kukayuh sepedaku, dari belakang ada suara yang memanggilku.

“ Ema! Tunggu ! “

Segera ku menoleh ke arah suara itu. Ku lihat kamu di sana. Berdiri dengan napas yang tidak teratur. Segera kusandarkan sepeda itu lagi dan melangkah menghampirimu.

“ Dito, ada apa denganmu? Mana sepedamu? ”.

“ Maaf, aku terlambat. Sepedaku tadi bannya bocor dan di sekitar situ tidak ada tukang tambal ban,” katanya padaku.

“ Oh, maafkan aku juga sempat berpikir tidak baik tentangmu, lalu bagaimana kamu bisa sampai ke sini? ” jawabku lagi.

“Tadi aku lari, takut kamu pulang duluan, maafkan aku ya? “ katanya lagi padaku.

Aku pun tersenyum padamu. Ternyata engkau menepati janjimu padaku. Walaupun harus menunggu selama satu jam. Namun, semua itu terbayar dengan kehadiranmu di sini bersamaku.

Kami pun menyusuri kebun teh dengan perasaan suka cita dan bahagia. Rasa ini sudah terobati. Rindu ini sudah sampai ke pelabuhan cinta yang indah. Kami tinggalkan jejak rindu di sana.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post