Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kemuning, Aku Kembali ( Part-2 )

Kemuning, Aku Kembali ( Part-2 )

Senin, 22 Maret 2021

TAGUR-55 (365)

***

Kemuning, Aku Kembali ( Part-2 )

Karya : Sutarti

Pagi itu tampak berkabut. Udara segar masuk melalui celah-celah jendela kamar Emo. Gadis itu menggeliat dan menarik selimutnya kembali. Tiba-tiba ia terbangun dan segera melirik jam yang tergantung di dinding kamar. Masih pagi sekali, ayam jantan belum bekokok juga, pertanda masih.pagi sekali.

Rasa malas masih menyelimuti Emo. Namun, tiba-tiba ia bangun dan panik, sepertinya sedang mengingat sesuatu. Ia ingat telepon dari Dito tadi malam. Gadis itu segera menuju ke kamar mandi.

Emo sudah bersiap-siap menuju ke Kemuning. Tak lupa sarapan terlebih dahulu untuk menambah tenaga. Ia berpamitan pada Ibunya yang sedari tadi memperhatikan kesibukan putrinya itu.

“ Bu, aku pamit dulu ya? “ kata Emo pada sang bunda.

“ Memangnya kamu mau kemana, Mo? “ jawab Bunda Erina.

“ Aku ada janji sama Dito di Kemuning, pamit dulu ya, Bun?”pamit gadis itu sambil mencium tangan bundanya.

Gadis itu mengayuh perlahan sepedanya. Jarak antara rumahnya dengan Kebun Teh Kemuning tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Sepanjang perjalanan gadis itu membayangkan pertemuannya nanti dengan Dito. Karena melamun, hampir saja ia menabrak penjual Siomay.

Sesampainya di Kemuning, gadis itu meletakkan sepedanya di parkiran. Segera ia menuju ke gazebo dan menunggu Dito di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB namun belum tampak kehadiran pemuda pujaannya itu. Ia masih menunggu dengan sabar, sambil sesekali melirik ke sekeliling kebun teh.

Emo jadi gundah, mukanya tampak pucat karena terkena sinar matahari pagi. Pemuda pujaannya itu belum datang juga. Ia panik dan rasa khawatir menyelimuti perasaannya. Ia takut sesuatu terjadi pada Dito.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, Dito tidak datang juga. Akhirnya dengan langkah gontai, gadis itu mengambil sepedanya dan mengayuhnya pulang. Sesampai di rumah, ia sandarkan sepedanya dan segera masuk ke kamar. Tangisnya pecah dan dadanya terasa sesak. Ia merasa dibohongi oleh Dito.

***

Dua hari telah berlalu. Emo masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Yang ia lakukan hanya mandi, berdiam di kamar, dan makan itupun hanya sedikit. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang menimpanya. Ia merasa dibohongi, sampai hari ini pun belum ada kabar dari Dito.

Terdengar suara pintu depan diketuk. Emo mengintip dari balik jendela. Tampak seorang Ibu yang sangat asing baginya. Segera ia buka pintu kamarnya dan menuju ke pintu depan. Ia persilakan masuk dan memanggil ibunya yang masih berada di belakang.

“ Maaf, saya Neni, Ibunya Dito,”

“ Dito? “ jawab ibu Emo.

Emo mendekat dan penasaran setelah ada nama Dito disebut. Gadis itu duduk di sebelah ibunya.

( Bersambung ... )

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post