Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kenangan Bersamamu

Kenangan Bersamamu

Rabu, 10 Maret 2021

TAGUR-43 (365)

***

Kenangan Bersamamu

Karya : Sutarti

Udara pagi ini terasa dingin, membuat Emo menggigil dan enggan bangun dari peraduan. Ia tarik kembali selimutnya yang lembut itu sambil berusaha memejamkan matanya kembali. Namun, gadis itu tampak gelisah dan tidak bisa tidur lagi. Segera ia bergegas mengambil air wudu dan salat. Dalam doanya ia meminta pada Allah SWT, untuk kembali dipertemukan dengan seseorang yang sudah lama ia rindukan. Tak lupa ia doakan kedua orang tuanya yang telah lama tiada.

Gadis itu merasa jauh lebih tenang dan nyaman dari sebelumnya. Segera ia bersiap untuk ke kampus di mana ia menuntut ilmu selama ini. Sebelum berangkat tak lupa ia ambil menu hariannya yaitu selembar roti tawar manis. Motor bututnya sudah siap dan perlahan meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya tersebut.

Emo begitu menyukai perjalanannya kali ini. Sesekali ia melirik kanan dan kiri menikmati keindahan alam ciptaan-Nya. Langit tampak biru secerah hatinya yang sedang rindu menggebu. Beberapa menit kemudian sampailah ia di tempat ia menimba ilmu.

Suasana kampus tampak ramai sekali, padahal hari masih pagi sekali. Emo segera ke kelas dan di sana bertemu dengan sahabat yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka. Gadis itu tersenyum ceria dan menyapa dengan lembutnya.

“Pagi Vey! Tumben sudah berangkat?” kata Emo sambil meletakkan tas di meja, tepat di sebelah gadis yang dipanggil Vey tadi.

“Aku juga baru berangkat kok, kamu juga tumben sudah berangkat, biasanya sering terlambat,” jawab Vey sambil tersenyum melirik Emo.

“Tadi malam aku tak bisa tidur, makanya bisa berangkat pagi,” kata gadis itu sambil tersenyum dan terlihat lesung pipi di sana.

“Memangnya kamu mimpi apa? Atau ada yang kamu pikirkan?” kata Vey lagi.

Netra gadis itu terlihat sayu, wajahnya sedikit pucat, dan tampak lesu. Kemudian ia ceritakan pada sahabatnya.

“Tadi malam mimpi bertemu Rendi, tapi wajahnya tampak pucat,” kata Emo.

“Rendi baik-baik saja Mo, kamu tenang saja,” kata Vey berusaha menenangkan sahabatnya itu.

Apa yang disampaikan Emo membuat Vey menjadi sedih. Ia seolah merasakan apa yang menimpa sahabatnya itu. Rendi adalah kekasih Emo. Ia pergi bersama teman-temannya untuk naik gunung. Namun, pemuda itu tidak pamit pada Emo. Semuanya membuat gadis itu sedih dan khawatir. Ia sudah berusaha menghubungi tapi tidak bisa.

Gadis manis itu mengusap air mata yang hampir jatuh dan berusaha tersenyum kembali. Emo tidak mau kesedihannya itu terlihat oleh Vey. Namun, sahabatnya itu sangat paham dan mengerti kondisi gadis itu.

Untuk menghilangkan kesedihan sahabatnya itu, Vey mengajak Emo pergi ke kantin. Tanpa sengaja mereka melihat ada berita di papan pengumuman. Kampus mereka akan mengadakan kegiatan touring di puncak Lawu.

“Kamu nanti ikut kan Mo?” tanya Vey pada sahabatnya itu.

“Pastilah, kamu sendiri bagaimana?” tanya Emo.

“Aku pasti ikut jika kamu juga ikut,” jawab Vey mantap.

“Bagus lah kalau begitu.” kata Emo dan keduanya sama-sama tersenyum.

***

Mendung masih bergelayut manja. Matahari belum berani menampakkan wajahnya. Pagi itu jadwal mereka untuk touring ke Lawu. Emo dan Vey tampak kompak dengan jaket bulunya yang berwana merah jambu. Tas ransel hitam terlihat menghiasai punggung mereka. Bus yang akan membawa rombongan telah datang. Satu persatu masuk dan mencari tempat duduk. Mereka ke Lawu bersama dengan tim yang berjumlah 20 orang. Sebelum berangkat tak lupa berdoa supaya mendapat keselamatan di perjalanan.

Karanganyar, 24 Oktober 2020.

Udara dingin menyelimuti perjalanan mereka menuju ke Lawu. Rombongan tersebut tampak berhati-hati. Ketika gerimis datang mereka berhenti dan berhati-hati sekali karena jalanan yang licin. Emo dan Vey selalu kompak. Mereka sahabat sejati sejak duduk di bangku SMP. Beberapa jam kemudian mereka sampai ke puncak dan bisa bernafas dengan lega.

Emo berdiri tegak dan sejenak menikmati keindahan alam yang ada. Ciptaan Tuhan YME yang begitu luar biasa. Selanjutnya rombongan tersebut mendirikan tenda dan beristirahat. Malam itu tampak sepi dan sunyi. Teman baiknya itu telah tertidur dengan lelap. Gadis itu keluar tenda dan duduk sendiri menikmati suasana malam.

Dalam kesendiriannya itu ia tampak kaget ketika mendengar ada suara yang menyapanya. Suara seseorang yang tak asing di telinganya. Suara yang selama ini sangat ia rindukan.

“Kamu Emo kan?” tanya seseorang di belakangnya.

Segera gadis manis itu berbalik. Di hadapannya tampak seorang pemuda dengan muka sayu dan terlihat pucat karena kedinginan. Segera ia menghampiri pemuda itu dan diajaknya duduk.

“Rendi? Kamu juga ada di sini? Kita duduk di sini saja,” kata Emo kemudian.

Rendi menatap wajah Emo tanpa berkedip. Gadis itu sampai malu dan menundukkan wajahnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu di sini.. Selama ini, pemuda yang dikenalnya itu memang suka sekali dengan naik gunung. Pernah suatu hari ia naik gunung tapi tidak berpamitan dengannya. Ia tahu kabar itu dari Vey, teman dekatnya.

“Ternyata kamu suka juga ya, Mo?” tanya pemuda itu.

“Suka apa maksudnya? Naik gunung? Kan kamu yang membuatku jadi suka naik gunung,” sahut gadis manis itu.

“Iya, tapi kemarin waktu kuajak kamu tidak mau,” kata pemuda itu sambil tertunduk lesu.

“Bukannya tidak mau, tapi waktu itu kakakku sedang ada acara. Kamu marah?” tanya gadis manis itu lagi.

“Tidak, tenang saja. Kamu tidak usah khawatir, tapi aku ingin memberimu ini,” kata Rendi sambil menyodorkan selembar kertas berwarna gelap yang diambil dari sakunya.

“Ini apa?” kata Emo sambil terheran-heran.

“Nanti saja kamu baca, sekarang kita nikmati saja suasana malam ini, bolehkah aku menatap wajahmu sekali lagi?” kata Rendi.

“Kenapa sekali lagi, Ren? Kamu boleh kok menatapku lama dan sampai kapanpun kamu boleh menatap wajahku.” kata Emo sambil tersenyum.

Dibiarkan pemuda itu menatap wajahnya dan menikmati suasana malam itu bersamanya. Sudah lama ia tidak bertemu dengannya. Emo memejamkan matanya sembari mengingat-ingat pertemuannya dengan Rendi waktu itu.

“Mo...Mo...Mo!!” kata seseorang yang membuat gadis itu kaget luar biasa. Di sebelahnya tampak Vey sedang berusaha membangunkannya. Gadis itu segera membuka matanya dan terlihat hari sudah pagi. Ia panik seperti sedang mencari sesuatu.

“Kamu nampak bingung, Mo! Ada apa?” tanya Vey.

Gadis manis itu kemudian menceritakan semua kejadian malam itu. Vey tampak kaget.

“Mungkin kamu sedang bermimpi, Mo! Dia tidak ada di sini. Kamu lihat saja, tidak ada kan?” kata Vey.

“Tapi semuanya begitu nyata, Vey!” kata gadis itu lagi sambil mengeluarkan selembar kertas dari balik jaketnya.

“Apa ini?” tanya Vey lagi.

“Itu dari Rendi, ia ingin aku membacanya nanti ketika sampai rumah,” jawabnya.

“Baiklah, nanti kita baca sama-sama.” kata Vey sambil bersiap-siap akan turun gunung.

Lawu malam itu membawa kenangan yang sulit untuk diungkapkan oleh Emo. Wajahnya masih tampak bingung, antara nyata atau mimpi. Sudah tak sabar ia ingin membaca surat yang diberikan oleh Rendi.

Setelah tim siap, mereka segera turun gunung secara perlahan dan hati-hati sekali. Sampainya di bawah mereka sujud syukur pada Yang Maha Kuasa karena telah diberikan kelancaran penjalanan dari awal sampai akhir. Segera mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah masing-masing. Gerimis turun mengiringi kepergian mereka dari kaki gunung Lawu.

***

Ditaruhnya tas hitam itu di meja ruang tamu. Tidak sabar ia ingin membaca apa yang pemuda itu goreskan di sana. Vey menemani dengan sabar dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi. Perlahan gadis itu membuka selembar kertas berwarna gelap itu, setelah membaca tiba-tiba ia tertunduk dan badannya terlihat lemas. Vey yang melihat sahabatnya itu lemas, segera ia bawa ke kamar. Dengan tidak sabar segera ia mengambil surat yang dibaca sahabatnya itu.

Begini bunyi surat itu,

Dear Emo,

Aku tahu kamu rindu padaku

Maafkan aku karena tidak jujur padamu

Percayalah aku begitu menyayangimu

Saat ini aku hilang dan hancur

Ragaku belum kembali

Jiwaku masih meronta-ronta

Hatiku pedih menahan perih

Bantu aku,

Tolong aku,

Hanya kamu yang bisa membawaku kembali

Aku sayang kamu.

Yang menyayangimu, Rendi

Vey juga terduduk lemas. Dengan langkah gontai segera ia hampiri sahabatnya itu. Gadis itu tampak menangis dan air matanya tidak berhenti mengalir. Segera direngkuhnya sahabatnya itu. ia biarkan gadis manis itu menumpahkan semuanya.

“Vey, Rendi ternyata sudah tidak ada,” kata Emo.

“Kamu tenang ya? Besok kita ke rumahnya, kita cari tahu pada keluarganya dan berikan surat itu.

“Kita ke sana sekarang ya?” ajak Emo dengan sedikit memaksa.

Vey mengangguk tanda setuju. Ia tidak mau kesedihan sahabatnya itu berlarut-larut. Sesampainya di rumah Rendi, terlihat ibu Rendi berada di halaman rumah sedang duduk termenung. Dihampirinya ibu kekasihnya itu dan dengan hati-hati ia sampaikan tentang isi surat itu.

“Rendi tidak ada kabar sejak satu bulan yang lalu, “ kata Ibu Rendi dengan wajah sayunya.

“Tadi malam saya bertemu dengannya dan ia memberikan surat ini,” kata Emo sambil menyodorkan selembar kertas berwarna gelap pada Ibu Rendi.

Dibaca kata demi kata dan terlihat ibu Rendi menangis sesenggukan. Segera ia rengkuh bahu gadis itu dan berbisik di telinganya.

“Rendi begitu menyayangi kamu, ibu tahu itu. Sebelum pergi ia bilang begitu,” bisik ibu Rendi dan membuat Emo menangis semakin keras.

Ibu Rendi berusaha menghapus air mata gadis manis yang selama ini disayangi oleh putranya itu. Perlahan ia menceritakan semuanya pada Emo dan Vey. Ia berjanji akan terus mencari jasad putranya itu. Emo juga berjanji akan membantu karena ia sangat menyayangi pemuda itu.

Mereka pulang dari rumah Rendi dan berusaha beristirahat di rumah. Emo merebahkan badannya di kasur dan berusaha membayangkan kejadian malam itu. Beberapa kalimat dari mulut Rendi masih sangat terlihat jelas. Ia meminta ijin untuk menatapnya lebih lama. Ia lihat wajah pemuda itu sayu dan pucat. Ternyata ia sudah tiada.

Pertemuan di Lawu membawa kenangan manis dan pahit. Ia bahagia karena sudah bertemu dengan kekasihnya. Namun, ia sedih karena pemuda itu telah tiada. Mungkin pertemuan itu adalah pertemuan terakhir baginya. Ia berjanji akan selalu menyimpan kenangan manis itu. Sampai kapanpun dan selamanya.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post