Kepingan Rindu Ini Masih Untukmu
Senin, 8 Maret 2021
TAGUR-41 (365)
***
Kepingan Rindu Ini Masih Untukmu
Karya : Sutarti
Senja itu nampak gadis bertubuh mungil sedang melamun di teras rumahnya. Wajahnya kelihatan muram tanpa senyuman. Sepertinya sedang ada sesuatu yang menyelimuti pikirannya. Ia hela napas panjang, seperti ingin melepas berat beban yang ada di hatinya itu.
Mentari sudah kembali ke peraduannya. Namun, gadis itu masih tetap enggan beranjak dari kursi kesayangannya. Teringat ia akan sebuah kenangan yang membuat sesak di dada. Butiran air mata itu turun dengan sendirinya. Percakapan antara dirinya dengan tambatan hatinya yang telah pergi meninggalkannya.
“Percayalah padaku, suatu saat nanti aku pasti kembali,” ucap pemuda bertubuh kekar dan berambut belah tengah itu sambil memegang tangannya.
“Kapan kamu akan kembali, jika terlalu lama rasanya aku tidak sanggup menahan rindu ini,” sahut gadis manis dan mungil itu sambil menatap manja.
“Tunggu aku pasti akan datang, senyum ini jadi saksi janjiku padamu,” ucap pemuda itu lagi sambil tersenyum menggoda.
“Baiklah, aku akan menunggu dengan kepingan rindu yang kusimpan di hatiku” Ucap gadis itu sambil tersenyum manis.
Pemuda itu kemudian merengkuh bahu gadis itu. Menariknya ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu merasakan kehangatan yang luar biasa. Hatinya seperti sudah di zona nyaman. Tak ingin ia melepaskan pelukan itu karena ia tak sanggup untuk berpisah dengannya.
Perlahan genggaman jemari mereka merenggang dan lepas. Tinggal lambaian tangan yang mengiringi kepergian pemuda itu dan isakan tangis yang tak mampu disembunyikan gadis itu. Separuh hatinya itu menghilang di keheningan malam.
Gadis itu senyum-senyum sendiri ketika mengingat hal itu. ia tidak sadar jika ada sepasang mata yang mengawasinya dari belakang.
“Berlian, sudah azan maghrib, segeralah mandi.” kata ibu dari belakang pintu.
Lamunan gadis itu sirna dan ia malu dengan keadaan ini. Tanpa menjawab ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamar mandi. Segera ia bersihkan tubuh dan pikirannya yang sedang gundah.
“Ibu, kapan ya dia akan beri aku kabar?” tanya gadis mungil itu.
“Sabar, Nak! Mungkin ia masih sibuk dengan pekerjaannya.”jawab ibu.
Berlian menunduk di meja kerjanya. Ia menatap tumpukan kertas yang berisi kisah manisnya dengan Ega, pemuda yang dikasihinya itu. Dalam hatinya bimbang dan ragu. Ia sepertinya tidak kat lagi dan pasrah dengan keadaan. Sudah hampir setahun pemuda itu tidak memberi kabar padanya.
Ia baringkan tubuhnya di peraduan yang lembut itu. pikirannya menerawang jauh. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi pada tambatan hatinya itu. Gadis itu tidak bisa tidur sampai fajar menyingsing.
***
Mentari pagi masih enggan muncul. Langit kelihatan mendung dan nampak suram seperti hatinya saat ini. Namun, ia harus tetap semangat dalam menjalani semua ini. Tidak mungkin ia pikirkan terus pemuda itu. Gadis itu berjanji akan bangkit dalam kegundahan.
Tiba-tiba dari balik jendela kamarnya tampak hujan turun. Mengguyur bumi pagi itu tanpa permisi terlebih dahulu. Berlian semakin enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini tak banyak yang dilakukan. Tugas kuliah sudah kelar dan ulangan semester sudah selesai tinggal menunggu hasilnya. Ia menatap pada butiran hujan yang turun itu sambil membayangkan pemuda yang telah pergi meninggalkannya itu.
“Berlian, ayah dan ibu berangkat dulu ya?”kata ibu dari balik pintu.
“Iya, Bu. Hati-hati di jalan.”kata gadis manis itu sambil keluar kamar dan mencium tangan orang tuanya itu.
Begitulah keseharian gadis manis itu. Jika ia sedang tidak kuliah pasti akan sendirian di rumah. Segera ia kembali masuk ke kamarnya. Duduk di sebelah jendela sambil menikmati hujan turun. Rasanya dingin dan sepi, sesunyi hatinya saat ini.
Gadis mungil itu mengambil handphone dan segera mengetik nomor tujuan. Ada jawaban bahwa nomor sudah tidak aktif lagi. Hatinya kembali beku dan gundah. Galau merasuki pikirannya. Heran dan penasaran dengan semua ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
Tiba-tiba terdengar suara berdering dari handphone it. Ada nomor baru yang masuk dan segera ia angkat.
[Assalammalaikum, benar ini nomornya Berlian?]
[Iya benar, ini siapa?]
[Bisakah kita bertemu sekarang, saya adiknya Ega,]
[Boleh, dimana saya siap.]
Berlian kaget dan penasaran dengan semua ini. Begitu mendengar dimana ia harus bertemu segera gadis itu menutup teleponnya dan berlari untuk mandi. Ia sudah tidak sabar dengan berita pagi ini. Bayangan ketakutan itu ada dan terlihat jelas di wajahnya.
Mobil putih itu melaju dengan kencang. Hujan masih mengguyur kota Semarang pagi itu. Segera ia masuk ke kafe yang dijanjikan tadi dan mencari pemuda yang mengubunginya tadi melalu telepon.
Nampak seorang pemuda melambaikan tangan kepadanya. Segera gadis itu menuju ke sana dan segera duduk di hadapannya.
“Maaf, apa tadi Anda yang telpon?”tanya Berlian.
“Iya, kamu Berlian kan?”tanya pemuda itu lagi.
“Iya benar. Ada apa? Kamu benar adik dari Ega?”tanya gadis itu tidak sabar ingin mendengar jawaban dari pemuda itu.
Pemuda itu mengeluarkan secarik kertas kumal dari dalam sakunya. Diberikannya pada gadis itu dan memintanya untuk membaca. Segera diterimanya kertas itu dan dibaca secara perlahan. Tiba-tiba muka berlian berubah menjadi sendu dan seketika menangis tersedu-sedu. Matanya berkunang-kunang dan ia tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika gadis itu terbangun, ia sudah berada di kamar rumah sakit dan di sebelahnya nampak orang tuanya. Melihat putrinya bangun mereka seger menghampiri dan mencium keningnya. Ucapan syukur pada Allah SWT meluncur dari bibir ibu itu karena gadisnya telah siuman.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?”tanya ibu.
“Aku sudah kehilangan dia, ia telah pergi,”kata gadis itu.
“Siapa Nak? Ega kah?”tanya ayah sambil memegang tangan putrinya itu.
“Iya.”jawab Berlian sambil memberikan secarik kertas kumal yang ada di samping ranjangnya.
Kedua orang tua gadis itu kaget ketika tahu bahwa Ega telah pergi meninggalkan putrinya itu. Mereka berusaha menguatkan Berlian dan membuatnya senyaman mungkin berada dalam dekapan kasih sayang kedua orang tuanya.
***
Seminggu telah berlalu. Wajah gadis itu masih terlihat suram. Namun, ia sempat tersenyum. Dalam hatinya berkata, mungkin ini adalah jawaban atas doanya. Dibukanya kembali secarik kertas kumal itu dan dibacanya sekali lagi.
Dear Berlian sayang,
Maafkan aku harus pergi meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini
Aku yakin kepingan rindu darimu itu masih ada untukku
Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu di surga
Percayalah sayang, aku tulus mencintaimu
Sangat tulus menyayangimu
Dari kekasihmu, Ega
Surat itu disimpannya rapi dalam buku diary. Ega telah meninggalkannya. Namun, kepingan rindu itu akan selalu ada untuk pemuda itu. Ia berjanji akan melanjutkan hidupnya tanpa kehadiran Ega di sisinya.
Selamat jalan Ega, kepingan rindu ini masih untukmu.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
