Misteri Jubah Merah
Rabu, 17 Maret 2021
TAGUR-50 (365)
***
Misteri Jubah Merah
Karya : Sutarti
Kampung itu kelihatan senyap dan gulita. Tanpa ada penerangan, sepi seperti kuburan. Rumah-rumah terlihat gelap seperti tidak ada napas kehidupan. Semua warga sedang beramai-ramai pergi ke kantor polisi yang ada di kota. Kemarin malam ada kejadian yang sangat mencekam dan menakutkan. Ada salah satu warga yang meninggal dengan beberapa luka di tubuhnya.
Sebut saja Surti, gadis manis dan pendiam yang dianggap warga adalah pelakunya. Duduk diam di balik jeruji besi dan membayangkan kejadian malam itu. Ia dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Menurutnya, orang itu meninggal dan ia yang menemukan. Namun, warga tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh gadis itu. Akhirnya ia diseret ke kantor polisi dan diamankan di sana.
Dari hasil penyelidikan memang ditemukan bukti yang kuat. Di tangan gadis itu ada sebilah pisau yang berlumuran darah. Ketika warga menemukan dan melihat, sontak mereka percaya bahwa Surti pembunuhnya. Gadis itu masih terdiam di balik jeruji besi. Tidak ada lawab bicara, hanya berteman dengan nyamuk-nyamuk yang datang dan tidak menghiraukan kesedihannya.
***
Terbayang dengan jelas malam itu. ketika ia berjalan pulang dari tempat kerjanya menuju ke rumah. Saat itu kampung memang sepi karena malam Jumat. Warga sering dilanda ketakutan karena kabarnya adanya sosok berjubah merah. Namun, semua itu hanya mitos belaka. Belum ada bukti dan hanya dengar dari orang-orang terdahulu. Mitos yang sudah mendarah daging dalam hati warga.
Surti tiba-tiba bertemu dengan Pak Dirman. Pria paruh baya yang entah mau kemana dan kesulitan menyeberang jalan. Dengan penuh kesabaran ia membantunya. Tak lama kemudian ia mendengar suara teriakan dari seberang jalan. Ia pikir apakah itu suara Pak Dirman? Segera ia berlari dan mencari sumber suara. Mungkin berasal dari pria paruh baya itu, bisa juga tidak. Gadis itu kaget, terlihat beberapa luka di dada sehingga badannya bersimbah darah. Ia kaget, ada pisau juga di sana. Tanpa pikir panjang ia ambil dan pisau itu sudah berpindah tangan.
Ada satu warga yang datang karena mendengar teriakan tersebut. Jarot namanya, ia melihat Surti membawa pisau dan di sebelahnya ada orang yang jatuh tak bernyawa, serta merta mereka menuduh gadis itulah pelakunya. Segera pemuda itu berteriak kencang dan menyerukan bahwa ada pembunuhan. Banyak warga yang datang dan gadis itu segera dibawa ke kantor polisi.
Di kantor polisi warga segera memberitahukan bahwa pelaku sudah ditemukan dan berharap segera ditahan. Surti kemudian mendekam dalam penjara tanpa bisa membela diri. Semua bukti mengarah pada dirinya.
***
Rumah tua itu tampak sepi dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya. Namun, tiba-tiba ada sosok bayangan yang berkelebat masuk dan duduk di kursi reyot. Napasnya terengah-engah, keringat dingin keluar dari tubuhnya yang mungil. Ia lepas baju yang dipakainya itu dan segera ia masukkan ke dalam plastik hitam.
Pemuda mungil itu duduk diam. Ia tersenyum karena dendamnya sudah terbalaskan. Iya, Pak Dirman sudah terbunuh dan pembunuhnya sudah ada dalam tahanan. Jarot merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya. Ia manfaatkan situasi malam itu untuk sengaja membunuh Pak Dirman. Ia kenakan jubah merah yang selama ini meresahkan.
[ Selamat malam pak, bisa ke rumah saya sebentar? ]
[ Sudah malam Mas Jarot, ada apa saya disuruh ke sana? ]
[ Bapak tukang pijit kan? Badan saya terasa capek sekali, bagaimana? ]
[ Baiklah, sebentar lagi saya ke sana, tunggu ya? ]
Percakapan melalui telepon antara Pak Dirman dan Jarot. Ternyata pemuda itu meminta pria paruh baya itu untuk memijit tubuhnya. Di balik semua itu, ia telah merencanakan hal buruk, ia ingin mengabisi nyawa Pak Dirman. Segera ia keluar rumah dan menunggu di seberang jalan. Tak sengaja ia melihat Surti sedang berjalan sendirian.
Jarot memanfaatkan situasi malam itu. ketika sunyi, sepi, dan tak ada orang sama sekali. Di seberang jalan itu ia habisi Pak Dirman dengan pisau dapur. Pria paruh baya itu meninggal seketika. Pemuda itu teriak sambil berlari menuju ke rumahnya. Teriakan itu membuat Surti mendengar dan segera menghampiri. Terjadilah peristiwa tersebut dan akhirnya gadis itu yang masuk sel tahanan, bukan Jarot.
Pemuda itu tampak puas. Ia ambil plastik hitam dan dibuangnya di tempat sampah depan rumah. Segera ia berlalu dan terlihat tukang sampah yang setiap hari mengambil sampah di rumah-rumah. Ia lihat ada bungkusan plastik hitam dan agak berat. Segera ia buka dan ia kaget sekali. Di dalamnya ada jubah merah dan berlumuran darah. Ia ketakutan dan segera berlari menuju ke salah satu rumah warga.
“ Pak RT, saya menemukan ini, “ kata tukang sampah sambil menyodorkan plastik hitam yang ia temukan.
“ Dimana kamu menemukannya? Apa isinya? “ tanya Pak RT.
“ Buka saja pak, saya takut,” jawabnya lagi.
Perlahan kantong plastik itu dibuka oleh Pak RT. Ia juga kaget dan segera menanyakan ke tukang sampah.
“ Dimana kamu menemukan plastik hitam ini? “
“ Di depan rumah Mas Jarot pak, “
“ Baiklah, kita langsung ke kantor polisi saja, saya takut ada sesuatu yang terjadi di balik semua ini, “
“ Ayo Pak kita ke sana. “
Pihak kepolisian meminta keterangan pada tukang sampah tersebut. Dengan terbata-bata karena ketakutan, semua yang dilihat diceritakan. Tentunya yang berhubungan dengan plastik hitam itu. Segera polisi bertindak, dengan sangat hati-hati menuju lokasi penemuan plastik hitam yang berisi jubah merah.
Sesampai di rumah Jarot. Polisi segera menyelidiki, rumah itu tampak sepi dan sepertinya tidak ada penghuninya. Ia perhatikan semua sisi rumah dan di belakang ia menemukan sesuatu yang membuatnya kaget. Di sana terpajang foto yang terpanah dan di sebelahnya ada tulisan yang membuat polisi dan Pak RT tercengang. “ Kamu harus mati Dirman “.
Polisi mengetuk pintu rumah Jarot. Pemuda itu mengintip dari dalam dan kaget dengan apa yang dilihatnya. Ia berusaha kabur melalui pintu belakang. Ketika ia membukanya, tampak Pak RT dan tukang sampah ada di sana. Akhirnya ia tertangkap dan dibawa ke kantor polisi.
“ Surti, kamu sekarang bebas, “ kata polisi yang menghampirinya.
“ Saya bebas pak? Apakah pelaku yang sebenarnya sudah ditemukan? “
“ Sudah, itu dia ada di depan.”
Gadis itu keluar tahanan dan merasa sedikit lega. Ia penasaran dengan pelaku pembunuhan tersebut. Surti kaget setelah ia melihat siapa pelaku sebenarnya.
“ Mas Jarot? Jadi kamu pelakunya mas? “ tanya Surti
Pemuda itu hanya diam tidak menjawab pertanyaan Surti. Segera polisi memasukkannya ke dalam penjara. Gadis itu pulang dan sesampainya di rumah sudah banyak warga yang menyambutnya dengan ramah. Pak RT meminta maaf atas nama pribadi dan warga. Surti tersenyum dan mengangguk. Ia berharap kejadian itu tidak akan terulang lagi. Hatinya lega karena pelaku yang sebenarnya sudah ditemukan. Ia ingin segera mengubur dalam-dalam cerita pahit itu. Ia berjanji akan menggantinya dengan cerita manis dalam kehdupannya.
Senyum itu mengembang bersama datangnya sang malam. Gadis itu istirahat dan berusaha lebih tenang dari sebelumnya. Dalam hatinya ia berkata, “ Selamat jalan Pak Dirman “.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
