Puncak Rindu di Malam Tahun Baru
Selasa, 9 Maret 2021
TAGUR-42 (365)
***
Puncak Rindu di Malam Tahun Baru
Karya : Sutarti
Udara pagi ini buatku menggigil kedinginan. Segera kutarik selimut merah lusuh itu untuk menutupi seluruh tubuhku. Mentari tampak enggan muncul menyapa hari. Suasana terlihat begitu gelap, sunyi, dan hanya sapaan angin yang menemani. Kubayangkan sesuatu yang indah untuk malam nanti. Bertemu denganmu penjaga hatiku. Rasanya tidak sabar ingin meluapkan isi hati ini untukmu.
Waktu sudah beranjak siang. Namun, raga ini rasanya masih enggan turun dari peraduan. Kuambil arloji di meja dekat tempat tidurku. Ternyata memang sudah saatnya bangun dan memanjakan tubuh ini dengan air hangat supaya kelihatan lebih segar.
Segera kuhampiri dapur mungil yang sudah menunggu jamahan tanganku ini. Kulakukan rutinitas ini hampir setiap hari, memasak air untuk mandi. Setelah hangat, kuambil ember hitam yang ada di pojok dapurku. Kutuangkan di sana dan kubawa ke kamar mandi.
Raga ini jauh lebih baik karena sudah tersiram air hangat.Terdengar ketukan pintu dari luar kamarku. Ibu memanggilku dan mengajak untuk sarapan.
“Nak, kita sarapan sama-sama yuk!” ajak ibu dari balik pintu kamarku.
“Iya Bu, sebentar lagi aku keluar,” kataku sambil merapikan rambut yang masih basah.
“Baiklah, ibu tunggu di meja makan ya?” kata ibu lagi.
“Iya.” Kataku sambil membuka pintu dan keluar dari kamar.
Kulihat di meja itu tampak makanan kesukaanku. Ibu tersenyum dan kami segera sarapan bersama. Perut ini rasanya kenyang sekali. Tidak lupa kuucapkan terima kasih pada ibu yang dengan setia menemani hari-hariku.
“Hari ini kamu ada acara ke mana?” tanya ibu padaku.
“Acara kampus. Walaupun gelap harus tetap semangat kan?” kataku sambil tersenyum pada ibu.
“Kampus? Bukankah hari ini .....” kata ibu tidak lagi dilanjutkan karena aku terburu-buru berpamitan.
Jalanan masih sepi dan sampai di sana belum ada satu satupun mahasiswa yang datang. Heran hati ini, kampus sepi seperti kuburan. Tiba-tiba satpam datang dan bertanya padaku.
“Mbak Rima ke kampus ada acara apa?” tanyanya padaku.
“Mau ada acara. Tapi, kenapa masih tampak sepi?” kataku dengan penuh rasa heran.
“Mbak ini bagaimana, lha ini hari Minggu kok, kampus kan libur,” katanya lagi.
“Lho...” jawabku tanpa sadar sambil melongo.
Harapan bertemu denganmu buatku lupa hari. Mungkin karena rindu yang sudah menggebu sehingga tanpa sadar aku melupakan yang lainnya. Termasuk kalau hari ini adalah hari libur.
Bergegas kuhampiri motor setiaku. Kutinggalkan kampus dan pulang lagi. Sampai di rumah ibuku menyambutku dengan senyum.
“Kok pulang lagi? Kampus sepi ya?” tanyanya padaku.
“Iya, kenapa ibu tadi tidak bilang jika hari ini libur,” kataku perlahan.
“Ibu tadi sudah hendak bilang, tapi kamu terburu-buru pergi,” kata ibu lagi.
“Rima ke kamar lagi ya bu?” kataku dengan sedikit malu.
Rinduku padamu telah membuat ku lupa akan hari. Kuambil album foto di bawah bantal. Kupandangi wajahmu nan rupawan. Kapan kamu akan datang?. Kulihat pula kalender di kamarku. Aku kaget, ada tanda lingkaran merah di sana. Itu artinya hari ini ia akan pulang. Hati ini panik bukan kepalang. Apa yang harus aku lakukan?
***
Lima bulan yang lalu, Eno pergi untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Papanya yang seorang polisi di pindah tugaskan di sana. Masih ingat betul waktu itu, ketika ia berpamitan padaku.
“Rim, aku pasti akan kembali, tunggu aku ya?” kata Eno waktu itu.
“Kamu janji ya akan ada untukku nanti,” kataku sambil tersenyum padanya.
“Iya aku janji.” jawabnya sambil masih menggenggam erat jemari ini.
Perasaanku waktu itu terasa senang dan tenang. Ia berjanji akan pulang dan menemani hari-hariku lagi. Mengisi kehampaan yang pastinya kurasakan tanpa kehadirannya.
Eno menemaniku semenjak SMA. Kami berdua saling memberi semangat dalam belajar. Tanpa kami sadari benih-benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Kami jalani hari indah bersama, hingga akhirnya ia harus pergi bersama orang tuanya ke Bandung.
Kujalani hari-hariku tanpa kehadirannya. Kami masih saling berhubungan melalui surat. Ia katakan rindu juga untukku. Dalam surat terakhirnya ia katakan bahwa di malam tahun baru nanti ia akan datang. Segera kulihat kalender dan kulingkari dengan spidol merah.
Ternyata hari itu telah datang. Rindu yang selama ini kurasakan akan terobati. Segera ku keluar kamar dan menuju ke dapur. Kucari sesuatu di sana. Tanpa kusadari ada sepasang mata yang memperhatikanku dan menyapa dari belakang.
“Kamu cari apa, Nak?” tanya ibu.
“Rima mau buat roti bu, apakah telurnya masih?” jawabku.
“Tumben mau buat roti, tidak biasanya seperti ini,” kata ibu telihat heran.
“Malam nanti ada tamu spesial bu,,” kataku lagi sambil masih sibuk mencari.
“Apa Eno akan datang?” tanya ibu sambil tersenyum padaku.
“Iya, ibu bantu aku ya?” kataku sambil memandangnya dengan penuh harapan.
Kami berdua sibuk membuat roti. Terdengar pintu diketuk dan ku berlari ke luar. Kubuka dan kulihat Ayah pulang sambil membawa buah kesukaanku. Kucium tangan beliau dan segera kubawa masuk oleh-oleh darinya.
“Siapa yang datang, Nak?” tanya ibu.
“Ayah, Bu.” jawabku sambil tersenyum.
Ibu mengangguk dan tersenyum mendengar jawabanku. Kamipun kembali melanjutkan membuat roti untuk malam tahun baru nanti. Beberapa jam kemudian semua selesai dengan sempurna dan kuucapkan terima kasih pada ibu karena telah membantu.
Hari menjelang senja. Roti sudah kuhias manis dan tersaji di meja makan. Aku juga sudah tampak rapi dan siap menunggu kedatanganmu. Rindu ini semakin menggebu. Namun, belum ada kabar darimu.
Hati ini makin resah. Kulirik jam tanganku, baru di angka 8. Ku mencoba bersabar, mungkin kamu sedang dalam perjalanan. Kutunggu lagi dan lagi sampai di angka 11. Rasa gelisah semakin melanda hati ini, pikiranku tidak tenang. Jalan mondar-mandir seperti setrikaan.
Eno belum juga datang. Terdengar suara motor dari arah depan dan segera ku berlari ke sana. Ternyata yang ada adalah tukang terompet yang dikerubuti anak-anak. Galau rasanya hati ini, tubuh lemas dan hampir saja terjatuh. Ketika hendak berbalik terdengar suara menyapaku dari kejauhan.
“Rima, kamu pasti sedang menungguku kan?” kata seseorang dengan suara lantang.
Aku berbalik dan melihat kamu sudah ada di depanku. Senyum itu telah kembali dan hadir untukku. Obati rasa rindu yang selama ini menerpa jiwaku. Mengisi kesunyian dan kehampaan hati ini. Kupandangi wajah dan raganya yang kekar itu. kupegang dia dan kupastikan bahwa itu dia.
“Kamu Eno kan? Aku tidak mimpi?” tanyaku masih sambil tidak percaya.
“Iya, ini aku Eno, masih tidak percaya juga?” katanya sambil mencubit tanganku.
Aku tersadar bahwa semua ini bukan mimpi. Eno benar-benar hadir untukku. Ia tepati janjinya padaku. Rasanya hati ini bahagia sekali. Tiba-tiba terdengar suara terompet bersahut-sahutan, pertanda tahun baru telah datang.
“Selamat tahun baru Rima, aku tahu kamu pasti menungguku. Aku ingin mengatakan bahwa, aku sangat merindukanmu,” ucap Eno sambil menatap mataku tajam.
“Selamat tahun baru juga, aku yakin kamu pasti akan datang. Kamu pasti akan tepati janji itu. Aku juga begitu merindukanmu hampir setiap malam.” jawabku sambil kubalas tatapan matanya yang memancarkan rasa rindu.
Mata kami saling beradu dan jemari tangan ini sudah menyatu. Ternyata rasa rindu dan cinta itu masih ada. akan terus tumbuh dan bersemi di hati ini. Kami berdua sama-sama tersenyum dan hampir saja raga ini menyatu. Namun, tiba-tiba ayah dan ibu datang mengagetkan kami.
“Selamat tahun baru untuk kalian berdua, kita masuk yuk! Rima sudah menyiapkan roti kesukaanmu lho. Roti cinta katanya,” teriak ibu.
Kami kaget dan sama-sama tersenyum tersipu malu. Segera berlari masuk rumah sambil jemari tangan ini masih saling menggenggam. Roti cinta yang dibumbui rasa rindu buatanku akhirnya lahap dan habis tanpa sisa.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
