Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cinta Tak Harus Memiliki
Sumber: Wattpad written Febri P

Cinta Tak Harus Memiliki

one day one cerpen

#kelascerpen2

#day1

***

Air mata ini jatuh mengalir, saat aku melihatmu duduk di pelaminan. Kesedihan itu kian memuncak saat kau bersanding dengannya, bukan aku yang mengucap janji suci di hadapanmu, tapi laki-laki lain. Lelaki pilihan orang tuamu.

Aku pergi terlalu dini tak ingin larut dalam kesedihan. Namun, air mataku tak sanggup untuk berbohong. Berlinang jatuh membasahi pipi ini. Kususuri hidup yang sepi ini tanpamu. Semua terjadi serasa begitu cepat.

Ingatkah kau saat itu aku meyakinkanmu, akulah pilihanmu yang paling tepat. Aku akan menjagamu, bila hatimu sedang sedih aku akan ada. Bila kau butuh dukungan tentang apa saja, akulah orangnya. Namun, semua menjadi sia-sia, saat kau lebih memilih dia, jodoh pilihan dari orang tuamu. Hancur luluh lantah hati ini. Dengan jalan yang terkulai lemas aku tinggalkan tempat acara resepsi itu.

Air mataku masih jatuh berlinang di sepanjang jalan. Kucari tempat untuk berlabuh. Tepat pada sebuah masjid aku berhenti, tempat inilah yang biasa aku singgahi di kala hati dirundung pilu, walau hanya sekadar untuk mencurahkan isi hati kepada Sang Ilahi. Kuambil air wudu dan dua rakaat kujalankan. Sedikit lega dan tenang jiwa ini setelah menyampaikan isi hati kepada sang Khalik.

Dalam lamunan ku teringat pertanyaanmu waktu itu.

"Kamu ingin punya anak berapa nanti?" tanyamu waktu itu.

"Aku pengen punya anak perempuan kembar yang cantik dan salihah seperti kamu." jawabku.

Kau tersenyum indah. Aku adalah lelakimu yang tak banyak menuntut, apa adanya kamu. Tak ingin aku mencari-cari apa yang tidak ada padamu, saat ini kamu lebih dari cukup. Saat kau dapati aku mulai rewel memintamu begini begitu, saat itu aku takut kau menjadi marah padaku. Aku hanya ingin kamu, kamu saja sudah cukup.

Lamunanku tersadar tatkala ada suara yang menyapaku. Ternyata Pak Ade yang menyapaku, ia penjaga masjid itu. Ia melihat mataku berair, namun aku tidak ingin ia mengasihaniku.

"Dek...kamu kenapa kok meneteskan air mata dari tadi?" tanya Pak Ade.

"Tidak apa-apa Pak!" jawabku. Lidahku menjadi kelu, berat untuk mengungkapkan semua.

"Bicaralah sama bapak sapa tau bisa menghilanglan rasa gundahmu.!" Pak Ade sambIl merangkul pundakku.

"Tenang...bapak akan jaga rahasia ini," Pak Ade menenangkanku.

Sambil berkaca-kaca aku mulai bercerita sama Pak Ade.

"Gini Pak, malam ini orang yang aku sayangi selama ini melangsungkan pernikahan dengan laki-laki lain. Lelaki pilihan orang tuanya, padahal kita saling menyayangi," kataku sambil tersedu-sedu.

"Terus...?" tanya Pak Ade.

"Tadi aku dari sana, kebetulan bersamaan acara ijab kabul. Hatiku hancur Pak, aku sangat kehilangan dia...aku harus bagaimana Pak?" rengekku.

"Tenang Nak, jangan terlalu berlarut...!" nasihat Pak ade.

"Tapi...aku sayang dia pak!" jawabku.

"Iya, aku tahu kamu sayang sama dia, tapi ikhlaskan sekarang dia sudah menjadi milik orang lain," pinta Pak Ade.

"Ya Pak," sambil meneteskan air mataku.

"Semua ini kehendak Allah, percayalah Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik dari dia. Hidup, mati, jodoh, semua kehendak-Nya. Ingat rencana Allah lebih indah," nasihat Pak AdeĀ 

"Ya Pak, terima kasih atas nasihatnya." dengan hati yang sudah mulai tenang.

Setahun setelah peristiwa itu, di acara wisudaku aku mendengar nama Aulia disebut. Kebetulan kita kuliah di Universitas dan jurusan yang sama walaupun beda kelas. Aulia adalah nama perempuan yang mengisi hatiku. Sempat bertanya-tanya dalam benakku apakah dia Aulia yang pernah mengisi kehidupanku? Setelah kulihat ternyata benar dia sosok yang pernah aku idam-idamkan. Aku memutar otak bagaimana caranya aku bisa ketemu dia. Setelah acara wisuda selesai aku langsung turun menuju pintu keluar. Satu persatu aku pandangi setiap orang yang keluar dari pintu itu. Kulihat dia dengan balutan busana wisuda, anggun...cantik rupawan...

"Aulia...!" teriakku.

"Mas...!" dengan sedikit kaget dan wajah memerah Aulia bersuara lirih.

Kutarik lengan dia menuju ke suatu tempat yang agak jauh dari keramaian.

"Gimana kabarnya Dek?" sapaku.

"Alhamdulillah, Mas gimana?" tanya Aulia.

"Ya beginilah keadaanku saat ini!" jawabku sambil mata berkaca-kaca.

Sekarang tubumu tidak berisi. Apakah kesedihan telah membelenggu selama ini bersama lelakimu itu? Aku tak mau menduga-duga. Tapi senyummu masih sama seperti saat pertama kali aku mulai menyukaimu. Senyum yang bisa menghadirkan rasa sejuk di hatiku. Apalagi sekarang kamu berhijab, lebih anggun, dan menawan.

"Mas...aku merindumu!" suaramu agak lirih kudengar.

Aku tak ingin melihat tepat di bola matanya, aku takut akan tenggelam di sana.

"Bahagia itu jadi milikmu?" tanyaku.

Kau menggeleng.

"Kenapa Aulia?"

Aulia menunduk dan meneteskan air mata.

"Kamu harus semangat dalam hidupmu yang baru bersama keluargamu, itu sudah menjadi pilihanmu!" lirihku buat Aulia.

"Terima kasih Mas, atas nasihatnya," jawab Aulia.

Kesedihan ingin menyusup masuk ke hatiku, namun aku tidak mau. Pilihan sudah kuambil, pertahankanlah sepahit apapun itu.

Setelah itu kita pamitan karena keluarga sudah menunggu. Sebelum berpisah kita saling tukar nomor HP.

Aku pulang ke rumah meninggalkan sedihku di tempat itu. Aku tidak tahu lagi kehidupanmu dan memang selayaknya tidak ingin tahu. Semoga kau selalu bahagia bersamanya yang sudah menjadi pilihan hidupmu.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post