Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Cinta Bersemi Kembali

Ketika Cinta Bersemi Kembali

One day one cerpen

#day5

***

Ketika Cinta Bersemi Kembali

Karya : Sutarti

Sri berlari menyongsongku, begitu melihatku tiba di gerbang sekolahnya. Wajahnya tampak ceria.

“Bun, tadi ada guru cakep. Wajahnya mirip Aldebaran. Teman-teman Sri pada berebut berkenalan.” ceritanya berapi-api penuh semangat.

“Oh, ya,” timpalku sambil menatap Sri, anak semata wayangku yang menjadi penyemangat hidup.

“Sri juga ikutan kenalan guru baru itu?” tanyaku sambil menatap bola matanya yang jenaka.

“Iyalah Bun. Abis mirip artis sinetron,” katanya sambil tertawa.

“Bunda, Pak Al baik banget dech sama Sri,” kata anakku sepulang sekolah,” tadi yang nganter pulang Sri dia, terus Sri dibeliin cokelat sama Pak Al,” celoteh Sri tampak bahagia.

Selama sebulan ini, Sri terus bercerita tentang guru barunya. Membuat aku menjadi penasaran, seperti apa sih idolanya Sri, si Al keren itu.

“Bun, dapat salam dari Pak Guru,” seru Sri suatu hari. Aku terbelalak, terkejut.

“Emangnya pak gurumu kenal sama Bunda?” tanyaku menyelusuri lorong mata Sri.

“Katanya kenal kok Bun, malah Pak Guru sering tanya kabar Bunda sama Sri, tapi malu bertemu sama Bunda,” kata Sri. Mulutnya ngoceh terus bercerita tentang guru barunya yang tiba-tiba menjelma menjadi idolanya. Aku makin penasaran.

“Bunda,” panggilnya lirih sambil berbaring menjelang tidur.

“Heemmm, ada apa Sri?” tanyaku sambil membelai rambut ikalnya.

“Besok Minggu ada kegiatan wisata keluarga di sekolah Sri, dan teman-teman mengajak ayah bundanya, terus kapan Sri punya ayah, Bunda? tanya sendu.

Aku hanya memandang langit-langit kamar, tampak butiran hangat mengalir dari sudut mataku. Segera kuhapus dengan punggung tangan. Tak ingin Sri tahu kesedihanku.

“Bunda menangis, maafkan Sri ya Bun.” katanya sambil memelukku. Kupeluk dia erat.

“Bunda, tadi pak guru Sri bilang, besok dia hadir mendampingi Sri sebagai ayahnya Sri, dan Sri senang sekali. Andaikan saja pak guru jadi ayah sesungguhnya, senengnya.” Netra Sri berbinar setiap bercerita tentang gurunya. Ingin rasanya bertemu dengan sang guru, seperti apa sebenarnya sosok idola anaknya.

“Bunda marah?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Tapi kok Bunda diam?” tanya Sri lagi.

“Gak apa Dik, pak guru Sri bisa ikutan besok Minggu, ya. Sekarang tidur, biar besok segar,” kataku sambil memeluk dirinya hingga kami terlelap.

Hari ini, aku sempatkan menjemput Sri di sekolahnya, sekalian membayar kekurangan biaya wisata keluarga besok Minggu.

Kulihat Sri berlari, wajahnya ceria sekali.

“Bunda, ini Pak Guru Sri. Pak Guru, ini bunda Sri.” seru Sri sambil menoleh ke arah mereka.

Wajahku mendadak bersemu merah, tak menyangka bertemu dengan sosok masa lalu. Seorang pemuda alim yang pernah membuat aku tersipu malu.

“Mas Paijo?” seruku sambil menyembunyikan debaran halus yang menyusup relung hatiku. Dia tersenyum, dan senyumnya itu masih sama seperti yang dulu.

“Iya, Nem. Ini aku. Maaf selama ini aku tak punya keberanian untuk bertemu denganmu. Tapi aku tau banyak tentang dirimu dari Sri,” katanya sambil menatapku tajam. Jantung berdetak lebih kencang.

“Bunda, aku beli es krim dulu ya,” Sri tanpa menunggu jawaban langsung berlari ke penjuas es krim yang mangkal di depan sekolah.

“Dah Nem, aku tahu ini begitu tiba-tiba. Tapi aku ingin membantumu menghadirkan sosok ayah buat Sri. Dia sering bercerita ingin seorang ayah. Dan aku siap menjadi ayahnya. Bagaimana Nem?” ada kesungguhan dalam nada bicaranya. Meskipun hatiku berbunga-bunga, namun aku malu kalau harus menjwab dengan kata iya sekarang.

“Aku butuh waktu, Mas. Insyaallah besok saya jawab.” Aku menunduk malu.

Sri merasa senang sekali saat acara wisata keluarga, pak gurunya mendampingi setiap kegiatan dengan rasa sayang.

“Bunda, aku mau Pak Al jadi ayah Sri. Lihat tuh ... Dia berjuang melawan ayahnya Zaki dalam permainan itu,” kata Sri sambil menunjuk ke tengah lapangan.

“Horeeeee, kita menang ... Bunda keluarga kita menang,” seru Sri sambil bersorak dan berlari memeluk Mas Paijo. Dengan cekatan Sri diangkatnya tinggi. Hatiku merasa bahagia melihat mereka memiliki rasa yang sama.

“Mas, ada yang ingin aku bicarakan,” kataku sambil menunggui Sri renang bersama teman-temannya. Aku sama Mas Paijo duduk di bangku pinggir kolam.

“Aku menerima lamaranmu, Mas,” kataku lirih. Wajahku memerah karena malu.

Ada bias bahagia di wajah lelaki di depanku.

“Terima kasih, Nem. Doa-doaku terkabul. Maaf karena selama ini mas menjadi seorang pengecut. Tak berani berterus terang, mas juga punya rasa yang sama denganmu. Begitu ada keberanian, Inem sudah menjadi milik orang lain. Hingga akhirnya, dengan hati yang hancur mas pergi mengabdikan diri di luar Jawa. Begitu mendengar berita tentangmu, Mas bertekad menebus kesalahan di masa lampau.” Paijo mengambil kotak merah dari sakunya, dan menyematkan cincin di jariku.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post