Maaf, Salah Masuk!
Rabu, 28 April 2021
TAGUR-92 (365)
One day one cerpen
#day3
***
Maaf, Salah Masuk !
Karya : Sutarti
Sore itu suasana komplek Aji Mumpung terlihat begitu ramai. Bagaimana tidak, kemarin baru saja ada peristiwa yang menghebohkan. Namanya saja di perumahan pasti ada apa sedikit langsung ramai. Terlihat Rafia keluar dari rumah bercat biru muda. Ia sedikit berlari ke arah warga yang sedang berkerumun. Ia dekatkan telinganya, seakan berharap mendengar sesuatu yang sedang viral itu. Karena sangat seru akhirnya ia bergabung.
Di sana sudah banyak emak-emak yang kece badai berkumpul. Biasa sore-sore gitu mereka free dan tidak ada kerjaan. Hanya menunggu suami mereka yang pulangnya masih nanti malam. Akhirnya mau apa lagi kalau tidak bergosip.
“Eh, tahu ndak sih, tadi malam ada seorang perempuan yang tidak dikenal masuk ke komplek kita,” kata Emak Sialita dengan berapi-api.
“Beneran ndak tuh ceritanya? Jangan-jangan kamu mengada-ada,” kata Kolori.
“Benar lah, bagaimana kalau besok kita lihat CCTV. Sayangnya suamiku belum pulang jadi belum bisa lihat deh,” kata Emak Sialita yang terkenal paling kaya di komplek itu.
“Saya jadi penasaran juga, siapa perempuan itu sebenarnya, tapi dari mana kamu tahu kalau ada yang masuk ke komplek kita?” tanya Tulki menyahut.
“Dari Pak Satpam depan, tadi malam pas ronda ia melihatnya, kalau tidak percaya nanti tanya saja dia,” kata Emak Sialita.
“Baiklah, kita buktikan besok pagi ya? Kan hari Minggu, suami kita sudah pada di rumah.” kata Kolori.
“Saya boleh gabung ndak ya?” tanya Rafia.
“Boleh saja, besok langsung ke rumah aja ya Fi?” kata Emak Sialita.
Rafia mengangguk perlahan. Ia sebenarnya agak khawatir dengan berita itu. Rasa penasaran dalam hatinya semakin membuncah.
Hari semakin senja akhirnya mereka bubar dengan membawa rasa penasaran. Rafia yang sempat mendengarkan segera masuk ke dalam rumah dan beranjak mandi. Setelah semuanya bersih lagi ia segera berbaring ke kamarnya. Suaminya dari tadi pagi belum pulang. Maklum lah seorang supervisor besar dari pabrik rokok ternama.
Begitulah suasana hati Rafia yang setiap malam galau karena suaminya tidak di rumah. Lain lagi di rumah seberang jalan sana. Suasana rumah masih terang benderang. Di dalamnya masih terlihat keluarga Emak Sialita yang sedang becanda.
“Eh Pa, besok kan hari Minggu. Boleh ndak emak minta satu permintaan?” kata Emak Sialita merajuk.
“Minta apa ya sayang? Apapun yang kamu inginkan pasti kupenuhi,” jawab Papa Sonice dengan senyum khasnya.
“Mau lihat CCTV yang dipasang di komplek ini, boleh ya?” katanya lagi.
“Memangnya ada apa?” kata Papa Sonice heran.
“Besok papa tahu sendiri.” Kata Emak Sialita sambil mengajak tidur.
Malam makin larut, hanya ada suara katak yang bersahut-sahutan. Iramanya membuat hati Kolori yang sendirian menjadi nyaman. Serasa ada yang menemani, walaupun itu hanya katak.
***
Pagi itu udara sangat cerah. Komplek Aji Mumpung tampak ramai karena banyak yang sedang jogging. Biasa lah rutinitas setiap Minggu. Tampak Emak Sialita mengenakan celana legging dan kaos yukensi. Di sampingnya terlihat Papa Sonice pakai celana kolor pendek yang warnanya putih pucak seperti wajahnya waktu itu. Mereka jogging sambil melirik kanan kiri dan ingin menampakkan keharmonisan rumah tangganya itu.
Dari arah depan tampak pula Kolori yang masih malu-malu karena ia sendirian. Kaos singlet hitam, celana pendek motif batik, dan topi bunga-bunga menemaninya jogging pagi itu. diliriknya Emak Sialita yang tampak mesra bergandengan tangan. Jogging masak gandengan, batin Rafia.
Dari arah belakang Kolori muncul Mpok Tulki yang kece badai juga. Celana ketat berwarna putih dan kaos berwarna merah hiasai badannya. Sudah mirip kayak bendera saja. Ia pun tersenyum melihat Rafia dan Emak Sialita. Dengan tidak sabar ia hampiri dan bertanya panjang lebar.
“Eh, nanti kita jadi kan Jeng Sialita?” tanya Mpok Tulki.
“Jadi dong, suamiku sudah ijinin kita melihat CCTV nanti.” katanya lagi.
“Wah, keren sekali. Rasanya sudah tidak sabar aku ingin melihatnya,” Kolori nyeletuk.
“Aku gabung ya?” kata Rafia yang tiba-tiba datang.
“Yuk!” kata Emak Sialita.
Segera mereka mempercepat kegiatan jogging pagi itu. Dengan sedikit berlari satu persatu kembali ke rumah masing-masing dan mandi supaya terlihat segar. Begitu juga dengan Kolori, ia bersiap-siap untuk menyaksikan kehebohan yang sedang viral itu. Dengan tetap sendirian tapi tetap merasa nyaman iapun melenggang menuju rumah Emak Sialita.
Sesampainya di rumah Emak Sialita tampak yang lainnya sudah siap dengan dandanan yang luar biasa. padahal hanya mau lihat CCTV saja tapi ada yang dandan heboh. Sebut saja Tulki, ia bela-belain pakai baju baru yang kemarin baru dibeli di mall waktu diskonan. Dengan malu-malu Rafia mendekat.
Papa Sonice keluar dari balik pintu kamar. Ia pakai jas hitam dengan celana putih. Bak artis yang sedang keluar ia berjalan dengan penuh percaya diri. Emak-emak yang hadir segera memalingkan wajahnya ke Papa Sonice. Tampak Emak Sialita terbatuk-batuk, ah pasti dia sedikit cemburu. Tapi memang suaminya itu sangat ganteng dengan kumis tipisnya itu.
“Jadi mau lihat sekarang?” kata papa Sonice kemudian.
“Iya, segera putar aja Pa.” Kata Emak Sialita.
Segera ia berada di depan laptop dan terlihat menggerak-gerakkan jarinya di atas keyboard. Emak-emak tanpa berkedip memperhatikan setiap sudut tempat di komplek itu. tiba-tiba terlihat ada yang aneh. Tampak seorang perempuan sedang berjalan dan wajahnya ditutup dengan masker. Perempuan itu berhenti di depan rumah Emak Sialita.
“Stop Pa, siapa dia ya? Kok berhenti di depan rumah kita?” tanyanya dengan penuh keheranan.
“Kita lihat saja apa yang akan dilakukannya,” kata Tulki penuh semangat.
Video diputar kembali. Perempuan itu terlihat menyelinap masuk rumah. Tapi ia buru-buru pergi lagi. Sambil sedikit berlari ia pergi keluar dari rumah itu.
“Lho kok lari, siapa dia ya?” tanya Emak Sialita lagi.
“Mungkin ia salah masuk,” kata Rafia sambil mukanya terlihat berkeringat. Sedikit gerah siang itu karena AC di rumah Emak Sialita sedang diperbaiki.
“Mungkin juga ya? Kita sudahi saja penyeidikan kita ini, siapa tahu besok ada titik terang lagi,” kata Tulki.
“Baiklah, terima kasih ya Pah sudah diputerin CCTVnya, “kata Emak Sialita manja.
“Sama-sama Ma, jika masih penasaran besok kita cari lagi,” kata Papa Sonice.
Mereka kemudian bubar dan sudah tidak penasaran. Namun, Rafia sedikit berlari menuju rumah. Sesampainya di dalam rumah ia duduk dan segera mengambil air putih. Diminumnya sampai habis tiga gelas. Dalam diamnya ia sambil berfikir.
“Maaf ya semuanya, kemarin itu saya salah masuk rumah.” katanya dalam hati. Ah, ternyata perempuan yang ada dalam CCTV itu adalah dia.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
