Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rindu ini Masih Ada

Kamis, 8 April 2021

TAGUR-72 (365)

***

Rindu ini Masih Ada

Karya : Sutarti

Dinda berlari menuju ke kamar. Ia banting ponselnya ke kasur, wajahnya penuh dengan air mata. Sepulang dari taman itu dia menangis terus. Dari luar terdengar suara sang ibu yang memanggil dirinya. Dia mengurung diri seharian di kamar. Hatinya sakit karena diputus oleh Candra, kekasihnya yang selama ini setia menemaninya. Berjuta impian telah mereka lukis bersama untuk menghalalkan sebuah hubungan. Namun, saat Candra memutuskan cintanya, semua bagaikan alkohol yang dituangkan dalam cawan, menguap begitu saja, sirna tak berbekas.

"Dinda, ada hal yang serius aku omongkan, semoga kau ma mengerti," Candra berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, "ini tentang kita." kata Candra lirih sambil menatap sepasang angsa yang berenang di tepi danau. Dinda mengernyitkan matanya, tak tahu ke arah mana pembicaraan Candra.

"Apa maksudmu, aku gak paham," tanya Dinda sambil melirik Candra. Tampak mendung di wajah cowok itu. Lalu dia meraih tangan Dinda, menggenggam erat jemarinya.

"Mungkin ini teakhir kalinya aku meremas jemarimu dengan kedua tanganku. Setelah ini, aku tak bisa lagi."

"Mengapa?"

"Kita harus berpisah, terima kasih atas segala yang pernah kau berikan kepadaku. Kebersamaan kita tak akan aku lupakan. Akan aku bawa sampai mati."

"Aku masih tak paham maksudmu?"

"Dinda, carilah lelaki lain untuk mendampingimu. Karena aku tak pantas untukmu. Hubungan kita cukup sampai di sini."

"Apa salahku ...?"

"Kau tak salah, aku yang salah karena telah mencintaimu."

"Kalau kau cinta aku, kenapa kau ingin meninggalkanku?"

"Sudahlah, kita mungkin gak berjodoh. Maaf ... aku harus segera pergi. Jaga dirimu baik-baik!" Candra bangkit dan berjalan menembus gelap.

"Candra ... Candra ... Tunggu ...," Dinda mengejar Candra, namun ia bagaikan ditelan bumi.

Semenjak pertemuan di senja itu. Dinda tak pernah melihat Candra di kampus, bahkan saat dia menyambung rumahnya, tidak ada kabar yang diperoleh, Candra tak tahu di mana berada. Keluarganya menutup erat informasi tentang cowok itu.

Lambat laun Dinda berusaha berdamai dengan keadaan. Tujuh purnama dia menalani hidup tanpa Candra. Meski hatinya belum bisa berpaling, seraut wajah masih tetap bersemayam dalam kalbunya. Hingga suatu hari, tanpa sengaja Dinda melihat seseorang duduk di bangku taman, seseorang yang mirip Candra, namun nampak sangat kurus.

Dinda memberanikan diri mendekati sosok itu, dadanya berdegup kencang. Kerinduan itu mengantarkan dirinya menyapa sang cowok.

"Candra?" Dinda kaget, seolah tak percaya melihat sosok Candra yang jauh berubah. Tak ubahnya seperti Dinda, Candra juga ikut terkejut, tak menyangka bisa bertemu dengan Dinda di senja ini. Dia tersenyum.

"Dinda, kemarilah. Aku senang karena kau datang. Aku memanggilmu dalam setiap doaku. Kini Allah mengabulkannya."

"Candra, sebenarnya apa yang terjadi?" Dinda menangis sambil memeluk erat tubuh cowok itu.

"Sudah, jangan menangis. Aku yakin kau kuat tanpaku." Dihapusnya air mata Dinda dengan punggung tangannya.

"Dinda, maafkan aku. Aku tak ingin kau ikut sedih melihat kondisiku. Tapi karena kau sudah melihat, seperti inilah adanya aku sekarang."

"Aku terkena kanker otak stadium empat, jadi umurku tidak panjang lagi. Aku tadi minta tolong adikku mengantarkan ke sini. Mungkin untuk terakhir kalinya," Candra berhenti sejenak.

"Saat aku kangen dirimu, aku selalu ke sini. Hatiku menjadi tenang. Dian selalu cerita tentangmu."

Semakin sesak dadanya, bagaikan air bah yang menyeruak membobol bendungan. Begitu pula rasa yang ada di hatinya. Dinda pernah berpikir buruk tentang Candra, dia tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi pada diri kekasih hatinya itu. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Dia menyesal mengapa tak mendampingi saat-saat Candra berjuang untuk bertahan hidup.

Langit senja mulai berangsur meninggalkan warna jingga. Candra merebahkan kepalanya ke pangkuan Dinda. Sambil matanya menatap sendu. Dia memejamkan matanya sambil tangannya mengusap wajah gadis itu.

Tangan yang satunya menggenggam erat jemari Dinda seakan enggan untuk melepaskan. Perlahan genggaman itu memudar dan akhirnya terkulai. Candra menutup mata sambil bibirny menyunggingkan sebuah senyuman.

"Candra...Candra...bangun!" Dinda mengguncang-guncang punggungnya, namun Candra tak bergerak. Dengan panik dia mengambil gawainya, segera menelepon Dian.

Tak berapa lama Dian tiba bersama temannya.

"Innalilahi wa innailaihi rajiun," Dian mengusap wajah kakaknya. Tampak kristal bening jatuh di pipinya.

"Kak Dinda, Mas Candra sudah bahagia. Keinginannya untuk bertemu kakak dan meninggal di pangkuan kakak sudah terwujud. Sekarang dia tenang di sana."

Sirine ambulans membelah malam. Dinda mendampingi dan mengantarkan Candra ke peraduan terakhirnya.

***

Sayang...

Kutaburkan bunga-bunga ini untukmu,

sebagai bukti bahwa aku sangat mencintaimu dan mengasihimu.

Tapi mungkin karena takdir Tuhan kita tidk bersama lagi.

Aku harus merelakanmu pergi meninggalkan diriku selamanya.

Apa yang menjadi keindahan saat kita masih bersama-sama, semua kuabadikan dan kusimpan dalam catatan diari hatiku.

Dan aku jadikan setiap kenangan terindah cinta kita berdua adalah aku takkan pernah berhenti untuk tetap mendoaanmu.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post