Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Semburat Cinta di Kalipucung

Semburat Cinta di Kalipucung

Selasa, 6 April 2021

TAGUR-70 (365)

***

Semburat Cinta di Kalipucung

Karya : Sutarti

Semilir angin segar sore ini membawaku ke tempat terindah itu. Tampak di sekelilingku kebun teh yang menghijau, menambah suasana asri dan nyaman. Aliran sungai yang tenang dan kelihatan bersih sekali, menambah keindahan alam ciptaan Tuhan itu. Di sini aku menunggumu, menanti kepastian darimu. Empat tahun yang lalu kamu pernah berjanji akan menemuiku di tempat ini.

Kunikmati semua ini dengan penuh senyuman. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan datang. Kusimpan rindu ini hanya untukmu. Tak kan kubiarkan ada seseorang yang membukanya selain dirimu. Engkaulah harapanku satu-satunya, tidak ada yang lain.

Hari menjelang senja, kukayuh sepeda ini menuju ke rumah. Kurasakan udara yang semakin dingin. Sejenak ku berhenti dan kupakai jaket yang sempat kuletakkan di tas ranselku. Kembali kulanjutkan perjalanan dengan suasanan hati senang. Sesampainya di rumah terlihat ibu sedang berada di teras depan. Kusandarkan sepeda dan segera menghampirinya.

“Dari mana saja, Nduk?” tanya beliau sambil tersenyum.

“Kalipucung Bu, ingin menikmati udara segar di sana,” kataku.

“Iya, sekarang kamu mandi dan istirahat,” kata beliau padaku lagi.

“Iya, Bu.” jawabku sambil tersenyum.

Udara semakin dingin menusuk tulang, aku harus segera mandi agar tidak kedinginan. Tak berapa lama selesai dan sambil menunggu azan maghrib tiba, kusandarkan tubuh ini di kursi ruang tamu. Sebelumnya telah kuambil album foto yang ada di laci meja belajarku.

Kubuka lembar demi lembar album foto itu. Kenangan manis masa SMA tampak tersimpan rapi di sana. Dari ketika pengumuman kelulusan, baju yang dicorat-coret dengan spidol, sampai nongkrong di angkringan depan sekolah. Semuanya ada di sana, entah siapa dulu yang mengambil gambarnya. Itu tidak begitu penting, yang pasti ada kamu di sana. Iya, kamu teman SMAku yang selalu di hatiku.

Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri mengingatnya. Ternyata ibu juga sudah ada di sebelahku dan bertanya dengan penuh keheranan.

“Ibu perhatikan dari tadi kok senyum-senyum sendiri, memangnya ada apa di situ?” kata beliau sambil menunjuk album foto yang kubawa.

“Ini Bu, sedang lihat foto-foto ketika SMA, seru sekali,”jawabku.

“Lihat foto-foto atau sedang kangen dengan yang ada di foto itu?” ledek ibuku sambil mencubit pipiku.

Seketika aku malu dan untuk menyembunyikannya segera kututup album foto itu. sebenarnya apa yang dikatakan ibu benar, aku sedang kangen dengan orang yang ada di foto itu. Tapi, tidak mungkin kubilang sama ibu kalau benar.

“Sudah 4 tahun kita ada di sini ya, Bu?” tanyaku kemudian pada beliau.

“Iya, tidak terasa dan sekarang kamu juga sudah hampir lulus kuliah, kamu harus semangat ya, Nak! Buat kami bangga dengan keberhasilanmu,” kata beliau sambil tersenyum.

“Pasti, aku akan berusaha membuat ayah dan ibu bangga padaku.”jawabku sambil tersenyum mantap.

Suara azan terdengar dan segera ku beranjak menuju ke musala. Ku berdoa di sana untuk orang tua dan kamu yang ada di sana. semoga selalu dalam lindungan-Nya.

Jelang malam rasanya tubuh ini sudah terasa lelah. Ku mencoba berbaring di kamar dan memejamkan mata. Terlelap dalam buaian angin malam dan mimpi indah.

***

Suara ayam jantan berkokok telah membangunkanku. Kulihat jam weker yang ada di meja belajarku. Ternyata memang sudah pagi dan aku masih malas beranjak dari tempat tidur ini. Ku teringat ibu yang pasti sudah sibuk di dapur. Ku ke sana dan membantu beliau memasak.

“Hari ini kamu libur, Rin?”

“Iya, sudah mulai libur semester, Bu.”

Sarapan sudah siap dan kami menikmatinya dengan lahap. Terdengar suara motor berhenti di luar. Kulirik dari balik jendela dan ternyata Pak Pos yang datang membawa surat. Segera ku berlari dan tidak sabar kubuka dan kubaca. Senyumku mengembang setelah membaca surat itu. Liburan ini ia akan datang, teman SMAku.

“Surat dari siapa Rin?” tanya ibu.

“Deni bu, liburan semester ini ia akan datang,” jawabku.

“Pasti kamu senang sekali, rasa kangennya terobati,” ledek ibu kemudian.

“Ah ibu bisa saja.” sambilku menahan malu.

Deni teman SMAku. Empat tahun yang lalu ia pergi untuk melanjutkan kuliah di kota. Kalau aku memang sengaja memilih kuliah di dekat kota asal yaitu Karanganyar. Selain dekat juga bisa menemani ibu setiap hari di rumah.

Ia berjanji akan kembali dan mengajak bertemu di Kalipucung. Termpat terindah yang pernah kami datangi ketika SMA dulu bersama dengan teman-teman. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengannya. Penasaran dengan keadaannya sekarang. Seperti apa? Pertanyaan itu yang saat ini muncul dalam hatiku.

***

Pagi itu tampak cerah, matahari bersinar dengan terang. Kukayuh sepeda ini menuju ke Kalipucung. Hari ini kita berjanji untuk bertemu, rasanya sudah tidak sabar ingin melihatmu. Sesampai di sana segera ku duduk di tepi aliran sungai buatan yang jernih itu. airnya yang jernih membuat suasana tempat itu terlihat semakin sejuk dan segar.

“Reni, benarkah itu kamu?”terdengar suara dari belakang yang memanggil namaku. Ku berbalik dan sedikit kaget.

“Iya benar, kamu Deni kan?” jawabku sambil tersenyum.

“Iya benar, aku Deni.”jawabnya.

Pertemuan kali ini benar-benar begitu menbahagiakan buatku. Sudah empat tahun tidak bertemu dengannya. Ia semakin terlihat gagah dan tampan. Ada sedikit kumis tipis yang menghiasi wajahnya. Kami bercerita banyak hal, dari mengingat masa SMA sampai ketika perpisahan itu tiba.

Deni menatapku dengan lembut. Sambil tersenyum ia berkata lirih padaku. Aku dengan setia mendengarkannya . Apa yang dikatakannya membuatku terkejut. Tapi, itulah yang kuharapkan.

“Ren, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu, empat tahun telah kusimpan rasa ini, aku suka sama kamu, bagaimana dengan kamu?”

“Kamu jangan bercanda, memangnya apa yang membuat kamu menyukaiku?”

“Kesetiaanmu menungguku yang membuatku semakin yakin kalau aku menyukaimu,”

“Hanya suka?”

“Memangnya apa lagi?” katanya sambil menggodaku.

Aku terdiam dan pura-pura cemberut. Ia melihat dan segera melanjutkan perkataannya.

“Selain suka, aku juga mencintaimu,”katanya kemudian.

“Yakin? Kamu cinta sama aku?”

“Iya, Kalipucung jadi saksi cinta kita berdua. Kamu mau kan?” katanya lagi.

“Mau apa?”

“Mau jadi kekasihku. Belahan jiwaku yang selalu ada di saat aku butuhkan,”bisiknya padaku.

“Iya aku mau.”jawabku tidak menunggu waktu lama.

Kami tersenyum dan saling memandang. Kalipucung jadi saksi cinta kami berdua. Berusaha saling mencintai dan akan berjuang bersama. Saling memberi semangat dalam menuntaskan kuliah yang sebentar lagi selesai. Saling menguatkan demi meraih gelar sarjana yang sedang kami perjuangkan.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post