Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Tiap Hari Rindu ( THR )

Tiap Hari Rindu ( THR )

One day one cerpen

Kelas cerpen 2

#day2.

***

Tiap Hari Rindu

( THR )

Karya : Sutarti

Muka Eva memerah menahan malu. Pagi itu ia bertemu dengan Fendi teman kampusnya. Ia naksir berat sama cowok itu. Wajahnya yang putih bersih, matanya sipit, dan senyumnya yang manis membuatnya klepek-klepek.

Tak biasanya ia disapa oleh cowok itu sehingga membuat tersipu malu.

"Pagi cantik, bagaimana kabarnya?" tanya Fendi sambil tersenyum.

"Eh.. eh.. Baik Kak," jawab Eva gugup.

"Baiklah, aku duluan ya? Ada kelas pagi." kata cowok itu sambil berlalu.

Eva membalas senyum itu walaupun cowok itu mungkin tak melihatnya. Gadis itu masih senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang baru saja terjadi.

Segera ia menuju ke kelas karena dilihatnya Bu Erli dosennya sedang menuju ke kelasnya.

Kuliah pagi hingga siang itu membuat Eva merasa haus. Setelah selesai ia segera menuju ke kantin kampus. Di sana sudah ada Vanya yang menunggunya.

"Va, sini!" kata Vanya sambil melambaikan tangannya ke arah Eva.

"Iya." jawab Eva sambil melambaikan tangannya ke arah sahabat terbaiknya itu.

Keduanya lalu duduk dan menikmati roti bakar serta jeruk dingin.

"Lapar banget kayaknya Va!" kata Vanya sambil melihat temannya itu.

"Iya, tadi pagi belum sempat sarapan, kamu makan juga kan?" jawab Eva.

"Aku nanti aja, masih kenyang, nii mau minum aja." jawab Vanya.

Keduanya menghabiskan waktu siang itu bersama sampai kuliah selesai dan pulang ke rumah masing-masing.

***

Di lain tempat tampak Fendi sedang duduk termenung. Mukanya kelihatan tegang banget. Di tangannya terdapat kertas yang baru ia dapat tadi pagi. Surat dari kekasihnya yang jauh di sana. Isinya membuatnya sedih. Kekasihnya bilang jika akan dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Itu sama artinya bahwa ia minta putus. Hatinya jadi kacau, tiap hari ia berharap kapan akan berjumpa. Tiap hari merindu kapan akan kembali bertemu. Namun, yang datang hanyalah surat yang pemutus hubungan rindu, bukan pengobat rindu.

Segera ia ayunkan langkah kakinya ke taman sebelah rumah. Duduklah ia di bangku taman yang bercat warna merah. Tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang melihatnya.

"Kak Fendi, tumben jalan-jalan ke sini?" kata gadis itu mendekat.

"Oh, eh.. kamu. Iya baru suntuk aja," jawabnya dengan gugup.

"Saya ke sana dulu ya, Kak?" kata gadis itu lagi.

"Kamu mau kemana Va? Sini aja," sambil menangkap tangan gadis itu.

Ternyata dia Eva gadis yang telah lama naksir sama dia. Hati gadis itu berdegup kencang. Tangannya kokoh pemuda itu masih mencengkeramnya dan sepertinya enggan untuk melepaskannya.

Gadis itu kemudian duduk di samping Fendi. Dengan leluasa ia langsung curhat sama Eva. Tentang kekasihnya dan persoalan yang ada antara dia dengan kekasihnya itu. Eva hanya diam, ia tidak berani untuk bicara, takut salah. Gadis itu kemudian pamit dan tidak berani menatap wajah Fendi. Sesampainya di rumah ia baru bisa berpikir tentang semuanya. Dalam hatinya ikut merasakan sedih atas kejadian yang menimpa Fendi. Di sisi lain ia juga senang bahwa orang yang selama ini dia taksir sudah sendiri alias jomblo.

***

aku merindu, kuyakin kau tahu, tanpa batas waktu

Dari kamar mandi terdengar suara Eva sedang menyanyi lagu yang sedang hits itu. Hatinya sedang berbunga-bunga karena sebentar lagi mereka akan jalan bersama. Eva dan Fendi akan pergi berdua, entah kemana.

Gadis itu sudah siap, dilihatnya dari jendela kamar ternyata Fendi belum datang. Terdengar suara motor dari arah depan rumah, ia intip dan senyumnya melebar, ia telah datang. Seseorang yang selama ini ia rindukan.

"Kita jalan, Yuk!" kata Fendi dengan senyum manisnya.

" Kemana Kak?" jawab Eva.

"Kemana aja, yang penting kamu suka," katanya lagi.

"Baiklah, kita jalan aja dulu." jawab Eva sambil naik ke motor Fendi.

Fendi menuju ke taman dekat dengan Alun-Alun kota. Mereka turun dan duduk bersama di kursi yang ada di sana.

"Va, boleh aku omong sesuatu?" tanyanya.

"Apa Kak?" jawabnya.

"Aku suka sama kamu, setiap hari merindukanmu. Bahkan sebelum aku putus dengan kekasihku itu," kata Fendi.

"Maksudnya?" kata Eva menyembunyikan rasa kagetnya.

"Aku merindumu setiap hari, sejak pertama kali kita bertemu, rasanya jantung ini sudah berdebar-debar sangat kencang," kata Fendi.

"Benarkah? Aku juga tiap hari rindu sama kamu Kak, tapi aku takut," kata Eva.

"Takut apa?"

"Takut rasa ini bertepuk sebelah tangan," jawab Eva.

Fendi menatap wajah Eva sambil tersenyum. Ia berjanji akan menjaga rindu itu hanya untuk gadis itu. Sekarang dan selamanya.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post