Kado Untukmu
Kamis, 6 Mei 2021
TAGUR-100 (365)
***
Kado Untukmu
Karya : Sutarti
Wendah kembali memeriksa isi tas sekolahnya. Dicocokkannya kembali dengan jadwal hari ini. Kaos olahraganya juga sudah masuk ke dalam tas. “Bisa-bisa kena sanksi dari guru olahraga nih, kalau lupa membawa kaos,” ia bergumam. Air putih dalam botol plastik juga sudah masuk ke dalam tas. Segera ia keluar rumah dan mengunci pintu. Tak ada yang bisa ia pamiti ketika berangkat ke sekolah seperti hal nya teman-temannya. Ayahnya sudah meninggal di saat ia masih balita. Ibunya sudah berangkat bekerja sesaat setelah subuh menuju rumah orang-orang yang akan dibantunya mencuci, menyeterika, dan bersih-bersih. Namun tak apa, Wendah sudah terbiasa dengan kondisi semacam ini.
Wendah berjalan agak cepat menuju sekolah supaya tidak terlambat. Biasanya ia sampai di tempat duduknya 10 menit sebelum bel tanda masuk kelas. Waktu yang tak seberapa lama itu ia gunakan untuk duduk istirahat sambil mengatur nafas dan sesekali berbincang dengan teman-temannya di dalam kelas.
Sekolah sudah ramai di saat Wendah sampai. Beberapa anak laki-laki terlihat main bola di halaman sekolah. Anak perempuan ada yang duduk melingkar bercengkerama di bawah pohon. Namun Wendah hanya menyapa sambil melambaikan tangan kepada mereka. Wendah memang anak yang ramah. Segera ia menuju kelasnya yang berada di lantai 2 gedung SD Flamboyan.
Ketika sampai di bangku tempat duduknya, sesegera mungkin ia mengeluarkan buku-buku yang akan digunakan untuk pelajaran jam pertama. Matanya melirik ke laci meja. Ada kotak makanan lagi di sana. Wendah sudah tidak heran, karena itu hampir tiap hari ada. Wendah pun sudah tahu siapa yang meletakkannya. Iya, Darma. Anak pendiam dan kutu buku yang sudah sibuk dengan bacaannya sepagi ini.
Darma putra dari bu Endang, salah seorang pemilik rumah tempat ibu Wendah bekerja. Bu Endang hampir tiap hari menerima pesanan kue-kue. Bu Endang pula yang menyuruh Darma untuk membawa beberapa kue untuk Wendah. Pernah suatu waktu Wendah mengucapkan terima kasih pada Darma. “Jangan mengucapkan terima kasih tiap hari. Tidak enak dilihat teman-teman,” ucap Darma kala itu. Akhirnya ibu Wendah lah yang sering mengucapkan terima kasih pada bu Endang.
Waktu terus berjalan. Hingga Ujian Nasional bagi siswa SD minggu depan akan diselenggarakan. Wendah menambah jam belajarnya. Ia bercita-cita masuk ke SMP unggulan di kotanya dan mendapatkan beasiswa supaya meringankan beban ibunya.
Tiba sesaat sebelum pengumuman kelulusan, Darma mengatakan pada teman-temannya jika kelak ia akan melanjutkan sekolah di Sumatra karena ayahnya dipindah tugaskan ke sana. Besok lusa setelah asar ia mengundang teman-temannya datang ke rumahnya untuk menghadiri acara perpisahannya.
Di saat jalan bersama sepulang dari sekolah, Dian teman sebangku Wendah membuka percakapan.
“Tadi di sekolah teman-teman berkasak-kusuk untuk memberikan kado pada Darma sebagai kenang-kenangan. Rencana kamu akan memberi apa?” tanya Sekar.
“Entahlah, aku belum tahu. Kamu sendiri rencana akan memberinya apa?” Wendah balik bertanya.
“Aku akan sampaikan pada bunda. Terserah bunda nanti akan membelikan apa,” jawab Dian.
Sesampainya di rumah Wendah merenung. Memikirkan akan memberikan kado apa pada Darma yang begitu baik kepadanya. Ia tidak mungkin meminta pada ibu karena tentu akan ada pengeluaran di luar rencana keseharian. Penghasilan ibunya sebagai buruh hanya cukup untuk makan dan membeli kebutuhan sekolah. Ibunya sering memberi pengertian pada Wendah, tentang kondisi keuangan mereka yang sebenarnya. Wendah sudah bersyukur karena walau rumah sederhana mereka sudah mempunyai tempat tinggal peninggalan ayahnya dulu.
Malam sebelum acara perpisahan Darma, Wendah mengambil selembar kertas di buku tulisnya. Wendah akan menulis surat untuk Darma, dan surat itulah yang akan dibungkus dengan kertas kado sebagai kenang-kenangan untuk Darma.
Untuk Darma
di rumah
Salam sejahtera,
Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa memberi kenang-kenangan untukmu seperti yang dilakukan teman-teman kita. Hanya selembar surat ini yang bisa saya berikan untukmu. Lewat surat ini pula aku akan mengucapkan terima kasih padamu karena telah berbaik hati padaku dengan membawakanku kue hampir tiap hari. Sampaikan salam hormatku untuk ayah dan ibumu. Beliau berdua telah berbaik hati padaku dan ibu.
Semoga nantinya di tempat baru kamu lebih semangat belajar, dan bisa meraih cita-cita yang kamu impikan. Jangan lupa untuk selalu berdoa ya.
dari temanmu,
Wendah
Wendah melipat kertas yang telah selesai ditulisnya. Memasukkannya ke dalam kotak bekas bungkus sabun mandi. Lalu membungkusnya dengan kertas kado. Tak lupa ia memberi pita kecil sebagai pemanis. Pita tersebut didapatkannya dari undangan pernikahan tetangganya. Akhirnya Wendah bahagia karena bisa memberikan kado untuk Darma walau hanya dengan selembar surat.
Pada malam setelah acara perpisahan di rumah Darma, ketika Wendah berbincang-bincang dengan ibunya, ibunya memberikan suatu bungkusan pada Wendah.
“Ini ada titipan dari Darma,” kata ibu.
“Apa ya, Bu?” Wendah mengernyitkan dahi.
“Entahlah, ibu tidak tahu.”
Serta merta Wendah membuka bungkusan bermotif batik warna coklat itu. Matanya terbelalak ketika tahu isinya sebuah buku harian warna hijau muda, tebal, dengan gembok kecil warna perak. Selama ini buku harian seperti itu hanya bisa dilihatnya di toko buku terbesar yang ada di kotanya.
Untuk Wendah
Aku tahu jika kamu suka menulis. Ini ada kenang-kenangan dariku. Mudah-mudahan kamu suka.
Dariku, Darma
Wendah sangat senang mendapatkan buku harian yang ia impikan. Selama ini ia menuliskan kata-kata yang ada di angan-angannya pada buku tulis biasa. Mulai malam ini ia bisa mulai menulis di buku harian.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
