Mungkin Hujan Segera Turun
One day one cerpen
#day08
***
Mungkin Hujan Segera Turun
Karya : Sutarti
Aku berhenti di depan sebuah rumah bertiang bambu yang sangat sepi. Pintunya tertutup kerai dari bambu juga. Hari ini cuaca sangat panas. Tiba- tiba mendung menggelantung tampaknya sebentar lagi berubah menjadi hujan.
Di halaman depan rumah ini gaplek setengah kering terjemur di atas beberapa tampi yang sudah koyak di sana-sini. Segera aku bersandar ke salah satu tiang rumah itu, setelah memarkir motor.
Beberapa waktu aku mengelilingi rumah, mencari si empunya. Kulihat seorang anak perempuan bertopi SD berjalan ke arahku.
“Tumini ya?” Kubuka masker kain yang menutupi wajahku. Kutatap lekat anak perempuan berponi lusuh di depanku ini. Rambutnya lusuh, terkena keringat.
“Iya, Bu.”
“Tum, tahu ndak saya siapa?” makin kudekatkan pandanganku ke arah wajahnya.
Dia menggeleng.
Kucermati wajah polos anak di depanku. Kulayangkan ingatanku pada sebuah foto hitam putih berukuran 3 x 4 yang tertempel di formulir pendaftaran masuk sekolah yang tadi kuletakkan begitu saja di atas meja kerjaku. Kusamakan kedua wajah itu. Benar, anak ini. Anak yang jadi masalah bagi beberapa guru di sekolahku.
Sekarang dia juga jadi masalahku. Aku harus mencari setelah dia alpa masuk terlalu lama. Jika anak lain alpa dan tidak mengumpulkan tugas, masih bisa kucari di jejaring sosial. Namun tidak dengan anak ini. Dia seperti hilang ditelan bumi. Di daftar nama, namanya nyata tertulis. Namun kehadirannya di grup sekolah sama sekali tak terekam. Karena anak inilah, aku harus bersusah-payah mencari.
“Saya Bu Rumi, guru konselingmu, Tum.”
“Oh maaf, Bu. Mari masuk.”
Kesopanan dia membuatku makin penasaran.
“Kita duduk di sini saja ya,” ujarku sembari menunjuk ke kursi kayu, yang sepertinya dulu berlapis busa. Masih bisa kulihat bekas potongan ban yang terpaku sekenanya, walau busanya telah raib.
Aku memberi ruang di kursi itu agar dia dapat duduk di sebelahku.
“Tum tahu Kenapa Bu Rumi kemari?”
Dia mengangguk.
“Sebentar lagi penilaian akhir semester. Tapi, Ibu dengar Tum tidak pernah mengumpulkan tugas ya? Bahkan laporan hadir pun tidak.”
Segera aku menyesali pertanyaanku saat melihat dia makin menunduk. Kakinya yang tak beralas sesekali memainkan debu di atas tanah liat yang mengering di bawah kursi. Aku tahu, dia sedang mengatasi rasa takut.
“Ibu bawakan kartu bantuan dari sekolah agar bisa Tum pakai untuk belajar.”
“Mungkin kartu itu baru bisa saya pakai bulan depan, Bu, saat Mamak pulang karena saya belum punya HP.”
Ah, begitu rupanya kenapa dia sama sekali tak pernah muncul di grup kelas selama dua bulan ini.
“Eh, Tum di rumah dengan siapa?”
“Adik, Bu. Itu dia.” Tangan Tumini menunjuk seorang anak lelaki yang mungkin berumur enam tahun, yang berlari kecil menuju ke arah kami. Anak itu yang kujumpai di belokan tadi dan menunjukkan arah ke rumah ini. Dia memberiku isyarat, dia akan menemukan orang yang kucari.
Berkat anak kecil itu, aku bersyukur bisa bertemu Tumini setelah setengah hari berputar-putar mencari rumahnya. Dan, masih lagi harus lama menunggu dia pulang entah dari mana. Semula aku sudah hampir hilang harap.
“Ibu kerja di mana, Tum?”
“Di Jakarta, Bu.”
“Sejak kapan Ibu kerja?”
“Sejak saya masuk SMP, Bu.”
“Lha semula Ibu kerja di mana?”
“Di ladang. Sekarang saya menggantikan Mamak.” Dia menjawab sambil masih tertunduk.
Aku menatap wajahnya dari samping. Aku diam. Aku kehabisan kata-kata. Segala yang kupikirkan untuk menegur dia saat berangkat dan sampai detik aku hilang begitu saja. Di mataku, tergambar bayangan-bayangan bagaimana dia harus mengurus adik dan ladang bersamaan pada usia semuda ini. Dalam kekurangan.
Ah, Tuhan. Aku teringat anak-anakku di rumah. Betapa mereka lebih beruntung berkali lipat dibandingkan Tum dan adiknya.
“Begini, Tum. Walaupun Tum tidak punya HP, tolong tetap kerjakan tugasnya ya.”
“Iya, Bu. Saya juga sudah mengerjakan. Tapi, maaf, saya belum sempat mengumpulkan ke sekolah. Nanti setelah gaplek ini benar-benar kering, saya akan ke sekolah untuk mengumpulkan tugas saya. Saya ndak berani meninggalkan gaplek ini, Bu. Saya takut kalau kehujanan.”
Ingin rasanya aku memeluk anak perempuan di sebelahku ini. Mataku berkaca-kaca. Huft!
“Ibu percaya, Tum pasti tidak akan menyusahkan Bapak Ibu Guru.” Segera aku menghibur diri sendiri. Aku menepuk bahunya.
Mendung makin menggelayut di langit. Panas yang kurasakan saat sampai di rumah ini benar-benar memberi tanda akan kedatangan hujan. Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Tum, Bu Rumi pamit pulang dulu ya?”
“Iya, Bu.”
“Segera siapkan semua tugasmu dan Kamis besok Ibu akan ke sini lagi untuk mengambil semua tugasmu.”
Entahlah, tanpa rencana, aku menawarkan diri untuk mengunjungi dia lagi. Tugas visitasi yang semula memberatkan langkahku, tetapi ketika melihat anak ini aku menyadari: betapa aku harus berada bersama mereka. Aku tahu, mereka sangat membutuhkan orang-orang yang mereka sebut guru; untuk paham dan untuk tahu.
“Terima kasih banyak, Bu Rumi,” jawab dia sambil tersenyum.
Tiba- tiba dia memelukku. Aku membalas pelukannya. Aku mengelus kepalanya yang setinggi dadaku.
“Kapan sekolah dibuka lagi, Bu? Saya ingin sekolah saja.” suaranya parau.
“Semoga segera. Tum, lihat. Sama seperti mendung itu, mungkin langit juga akan segera menurunkan hujan. Sekolah kita juga demikian.”
Kulepaskan pelukanku dan berjalan menuju motorku.
***
Aku meninggalkan Tumini. Pulang. Rintik hujan turun ke bumi. Aku menaiki motorku perlahan, membiarkan titik-titik hujan membasahi wajahku. Aku malu. Keberatanku ketika berniat berkunjung tadi, kini telah luruh bersama air hujan yang makin lama kian deras.
Aku tersenyum, karena Kamis nanti akan bertemu Tumini lagi.
***
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan