Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ternyata Jodoh

Ternyata Jodoh

Sabtu, 1 Mei 2021

TAGUR-95 (365)

***

Ternyata Jodoh

Karya : Sutarti

Malam yang dingin itu aku tidak dapat memejamkan mata. Bayangan Dedi selalu menghantui anganku. Kalimat yang terlontar dari mulut pemuda itu membuat jiwaku duduk terdiam seribu bahasa. Apa yang kutakutkan menjadi kenyataan. Kalimat yang tidak ingin kudengar itupun terucap.

“Fe... maafkan aku dengan apa yang terjadi ini, akupun tak ingin hal ini terjadi,” kalimat lirih itu terdengar dari mulut Dedi.

“Tapi... kenapa Kak? Tak bisakah kau berikan alasan yang mampu kuterima dengan akal sehatku?” jawabku sambil menahan tangis.

“Suatu saat nanti kamu akan tahu, Fe.” ucap Dedi sambil meninggalkan gadis itu sendirian.

Pembicaraan itulah yang membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak. Tak kuhiraukan malam semakin larut.. Bahkan pipiku ini tak terasa ketika ada nyamuk yang hinggap di sana. Kata-kata Dedi telah menghipnotis hati dan pikiranku. Akhirnya aku begadang berteman dengan suara kodok yang bersahut-sahutan.

Dalam lamunanku tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok dari luar rumah, tanda bahwa hari mulai pagi. Segera ku keluar dan bermaksud menghirup udara segar. Aku berjalan menyusuri gang sempit itu menuju ke taman desa yang tak jauh dari. Sudah dua hari ini aku bermalam di sana. Liburan semester ini memang ku sengaja untuk pergi ke desa dan melakukan satu misi penting. Bertemu dengan Dedi sekaligus menemani nenek yang tinggal sendirian.

Sesampai di taman itu ak melihat sepasang angsa putih yang sedang berlenggak lenggok berenang di danau sekitar taman. Ku melihatnya sambil tersenyum, dalam hatiku berkata,”Bahagia sekali angsa itu.”

Matahari mulai meninggi, akupun segera beranjak dan pulang. Secara tidak sengaja kulihat seorang pemuda yang mirip sekali dengan Dedi. Pemuda yang selama ini bersamaku itu telah berboncengan dengan seorang cewek. Kelihatan mesra sekali, terlihat tangan cewek itu memegang pinggang pemuda itu. Sambil sesekali tertawa cekikikan bersama.

Mulut ini terasa kaku dan bibir ini terasa kelu, tak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Aku ingin menyangkal bahwa apa yang kulihat itu hanya bayangan bukan hal yang nyata. Namun, dalam hatiku terus bertanya. Apa maksud dengan semua ini? Mengapa ini terjadi padanya? Apa salahku?

Segera ku berlari dengan kencang. Sesampainya di rumah dengan masih terlihat ngos-ngosan akupun langsung masuk kamar mandi. Di sana kutumpahkan semua isi hati ini. Tangisan itu pecah begitu saja. Ternyata Dedi memutuskan untuk tidak bersamanya karena gadis itu. Lalu siapa dia? Semuanya membuatku penasaran.

Rambut ini masih basah terkena air. Namun, terasa harus dan segar karena sudah tidak kumal lagi. Dari arah dapur Nek Mina tersenyum dan menyapaku.

“Dari mana saja, Nduk?” tanya nenek sambil memegang pipiku.

“Dari taman Nek. Ternyata kalau pagi ramai sekali ya, Nek?” kataku sambil menyembunyikan kesedihanku ini.

“Iya ramai sekali, sekarang kita sarapn yuk! Nenek sudah menyiapkan telur balado untukmu, kamu suka kan?” kata Nek Mina lagi.

Akupun mengangguk dan mengikuti nenek untuk makan. Kulahap satu persatu masakannya. Tak ada yang berbeda, masih enak dan lezat seperti dulu. Kuteguk air putih yang dengan sengaja disiapkan untukku.

“Terima kasih ya, Nek! Masakan nenek ini memang luar biasa enak,” kataku sambil mencium pipi keriputnya.

“Sama-sama sayang, apapun yang kamu suka pasti nenek masakin,” jawabnya liriih.

“Sekali lagi terima kasih, Nek! Fera keluar sebentar ya?” pamitku pada nenek.

Nenek mengangguk dan membiarkan cucu tersayangnya itu menghilang dari pandangannya. Aku kembali ke kamar dan menyandarkan badan ini pada tempat tidur reyot milik nenek yang ngengeni itu.

Aku mulai merasakan kantuk. Wajarlah karena semalaman tidak tidur. Akhirnya akupun tertidur dengan nyenyak.

“Fe, perkenalkan ini Rina calon istriku,” kata Dedi.

“Apa?? Calon istrimu?” kataku kaget luar biasa.

“Orang tuaku telah menjodohkan aku dengannya, kuharap kamu menerima semua ini,” katanya lagi.

“Sebenarnya aku tak terima dengan semua ini, tapi apapun keputusan kamu mungkin ini yang terbaik, aku ikhlaskan kamu dengannya.” kataku kemudian.

Hatiku hancur mendengar semua itu. Kenapa Dedi lebih memilih gadis itu? Wajahku juga cantik bahkan jauh lebih cantik dari dia. Semua pertanyaan itu ada dalam hatiku. Namun, ku tak mampu untuk mengungkapkan semua ini.

Tok...tok...tok...

Aku terbangun, ternyata semua ini hanya mimpi. Apa arti mimpiku ini? Akankah semua ini akan menjadi nyata? Semakin bingung rasanya. Akhirnya ku buat tidur lagi dan berharap mimpi itu tidak datang lagi.

***

Keesokan harinya Nek Mina mengajakku untuk pergi ke rumah temannya yang rumahnya ada di seberang jalan. Kami masuk dan diterima dengan baik oleh seorang yang seumuran dengan nenek, Oma Rita nama pemilik rumah itu.

“Oh, Nek Mina, silakan masuk!” katanya kemudian.

“Ada apa, Nek? Ada yang bisa kami bantu?” katanya kemudian.

“Kamu masih ingat perjanjian kita dulu? Yang akan menjodohkan cucu kita jika kelak sudah dewasa?” kata nenek yang membuatku kaget.

“Jelas masih ingat dong, bagaimana? Oiya, kebetulan cucuku juga ada di sini, sebentar aku panggilkan dulu,” katanya kemudian.

Aku jadi tidak tenang dengan arah pembicaraan keduanya. Segera ku ijin sebentar untuk ke kamar mandi. Di sana kutata hati ini, semakin bingung dengan keadaan ini. Belum selesai masalah Dedi, sudah ganti dengan masalah yang lain.

Kamar mandi jadi saksi jiwa ini yang sedang panik. Keringat dingin mengucur dengan sendirinya. Segera kubasuh wajah ini supaya terlihat lebih segar dan tidak galau lagi. Setelah beberapa saat kuberanikan diri keluar dan menemui mereka lagi.

“Maaf ya Nek agak lama,” kataku sambil tersenyum dengan keduanya.

“Tidak apa-apa, Nduk. Kamu kelihatan cantik, cucu nenek pasti langsung jatuh cinta sama kamu,” kata nenek itu sambil tersenyum lagi.

“Iya, pasti cucumu juga sangat suka dengan cucuku. Ganteng dan cantik pasti cocok kan?” kata nenek disusul dengan tawa mereka bersama.

Hatiku semakin panik dan resah. Gelisah melanda hati, ah seperti lagu saja. Penasaran juga dengan seseorang yang akan dikenalkan padaku. Kepalaku menunduk dan mataku terpejam beberapa saat.

Nduk, kenalkan ini cucu nenek!” kata nenek itu dan membuat mataku makin terpejam dan takut melihat kenyataan.

“Fera???” terdengar seseorang memanggilku dan suara itu tidak asing bagiku. Segera kubuka mata dan kulihat di depanku ada dia.

“Dedi?? Kok kamu ada di sini? Sebenarnya apa yang terjadi?” kataku bingung.

“Fera, aku juga baru tahu jika yang akan dijodohkan denganku itu kamu. Makanya waktu itu aku tak bisa kasih alasan ke kamu. Aku juga baru tahu ketika melihatmu menuju ke kamar mani tadi, kok ada kamu di sini?” katanya sambil mencairkan suasana hatiku yang sedang bingung.

“Aku masih tidak percaya, kamu jahat,” sambil kuayunkan tanganku ini ke arah muka Dedi.

Dengan sigap tangan Dedi menangkap tanganku ini. Kumulai menitikkan air mata. Antara sedih dan bahagia. Ternyata semua inisudah direncanakan Nek Mina dan Oma Rita. Tangan Dedi mengusap air mataku ini dan tersenyum padaku.

“Sekarang kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan,” kata Dedi.

“Maksudnya?” kataku lagi.

“Sekarang kamu tidak usah sedih lagi, kamu sudah dapat jawabannya kan?” tanyanya lagi sambil memegang jemari tangan ini.

“Iya, aku sudah jauh lebih lega dari sebelumnya. Jadi kita tetap bersama kan?” tanyaku lagi.

“Iyalah, sampai kapanpun kita akan bersama. Sekarang kita selesaikan dulu kuliah kita, kemudian kerja dan baru kita berumah tangga bersama,” kata Dedi panjang lebar.

“Baiklah, tapi ada sesuatu yang aku tanyakan sama kamu, cewek yang kulihat waktu itu siapa?” tanyaku.

“Yang mana?” kata Dedi sambil menggodaku.

Aku cemberut dan berusaha lari darinya. Ia pegang erat jemari ini dan berkata dengan lirih di dekat telingaku, “Jangan curiga dulu, jangan cemberut begitu, tenang saja, yang pasti aku hanya mencintaimu.”

Kata-kata Dedi membuatku hanyut dalam buaian asmara yang sedang menggelora. Tanpa kami sadari ada dua orang yang sedang memperhatikan gerak gerik kita, iya beliau adalah Nek Mina dan Oma Rita.

“Semoga kalian bahagia ya, Nak!” kata Nek Mina disusul anggukan oleh Oma Rita.

Segera kupeluk mereka berdua. Aku jadi semakin sayang dengan mereka.

Tiba-tiba dari arah pintu luar terdengar seseorang memanggil Dedi.

“Mas Dedi, dimana kamu?” katanya lagi.

Kami berdua segera keluar dan benar, ia cewek yang waktu itu yang kulihat dengan Dedi.

“Brenda, ada apa? Oiya, kenalkan ini jodoh yang disiapkan Oma Rita untukku,” kata Dedi kemudian.

“Cantik banget, siapa namanya? Aku Brenda, sepupunya Dedi,” katanya lagi.

“Fera.” Jawabku sambil tersenyum lega. Ternyata ia sepupu Dedi, pantas saja ia manja dengan cowok itu, ternyata saudara dekat.

Dedi tersenyum memandangku, sekarang sudah tidak ada keraguan lagi. Kami bisa bersama lagi. Merenda cinta murni dan menata hati yang sebelumnya sepi. Kami patri janji suci ini di lubuk hati kami yang paling dalam. Terkunci rapat dalam liontin hati bertuliskan “Ferdi alias Fera dan Dedi”.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post