Mengenal Penulis melalui Karyanya (Part-11)
Rabu, 13 April 2022
TAGUR-365 (20)
***
Semangat pagi sobat semuanya. Semoga hari ini nanti menyenangkan dan tidak bingung lagi seperti kemarin. Si Ana sempat menghilang entah kemana, buat geger warga di blog Gurusiana yang super keren ini. Alhamdulillah, Si Ana sudah kembali dan buat kita semua tersenyum.
Kali ini masih seputar resensi buku antologi "Colourfull Ramadan". Sudah sepuluh gurusianer yang saya ulas tulisannya dan hari ini adalah yang ke-11. Penasaran siapa yang ingin saya kenal?
Iya, Bunda Nanih Solihat. Seorang guru di MI Negeri 5 Jakarta. Sempat mengenal beliau melalui tulisan di blog keren ini dan sering tegur sapa melalu SKSS. Masih sama dengan yang lain, kenal di dunia maya namun terasa dekat di hati.
Tulisan beliau di buku "Colourfull Ramadan" diberi judul "Ramadan tanpa Kurma". Baca judulnya langsung ingat sama kurma di kulkas yang masih utuh toplesnya. Berikut cerita yang ditulis beliau, sangat menarik perhatian saya dan tergelitik untuk meresensinya.
Ramadan adalah bulan suci yang selalu dinanti. Umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Hanya orang yang beriman yang akan mampu melaksanakan ibadah puasa tersebut dengan puasa memerlukan perjuangan yang luar biasa.
Buka puasa tidak lengkap jika belum makan kurma. Menu buka puasa yang paling afdal, kurma adalah buah yang hanya tumbuh subur di jazirah Arab. Tidak semua bisa menikmati kurma saat berbuka puasa walaupun banyak manfaatnya.
Bunda Nanih bercerita tentang masa kecilnya. Semasa kecilnya ketika berbuka puasa ingin sekali makan kurma. Namun, karena keterbatasan kemampuan orang tua kurma tak terbeli. Terlebih juga hidup dalam sebuah kampung yang jauh dari kota membuat beliau hanya memupus keinginan tersebut.
Sepanjang bulan Ramadan yang beliau lalui ketika kecil tak pernah sekalipun mendapat kurma. Kuram menjadi buah yang sangat berharga. hanya di dapat oleh orang-orang yang pulang haj, itu pun paling banyak hanya lima butir dan harus dibagi rata.
Walaupun Bunda Nanih semasa kecil berbuka tanpa kurma tapi tetap semangat. Ramadan tanpa kurma tak menjadi penghalang untuk tetap beribadah. Pengalaman masa kecil yang tak pernah makan buah kurma jangan sampai terulang kembali.
Cerita masa kecil Bunda Nanih membuat hati ini terenyuh dan seketika air mata ini mengalir dengan sendirinya. Pengalaman beliau tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga buat kita semua. Bunda luar biasa sekali, tulisan bisa mengena di hati pembaca. Saya merasa seakan benar-benar sudah kenal dekat dengan beliau.
Ada sedikit masukan untuk tulisan Bunda Nanih Solihat yaitu tentang kalimat yang panjang. Lebih baik kita menggunakan kalimat efektif dan memutilasi kata-kata yang tidak terpakai. Jika membaca dalam hati mungkin tidak begitu bermasalah. Namun, jika kita membacanya dengan bersuara pasti berbeda. Takutnya nanti kita membaca tanpa henti dan membuat napas kita tidak teratur. Selain itu pasti kita akan terengah-engah seperti dikejar oleh teman yang kita pinjami uangnya.
Satu kata untuk Bunda Nanih Solihat, keren.
Salam literasi dari Grobogan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
