Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengenal Penulis melalui Karyanya (Part-13)

Mengenal Penulis melalui Karyanya (Part-13)

Minggu, 17 April 2022

TAGUR-365 (24)

***

Semangat pagi sobat semuanya, semoga hari ini puasanya lancar dan menyenangkan. Kali ini masih bersama Mengenal Penulis melalui Karyanya memasuki bagian ke-13. Penasaran mau meresensi tulisannya siapa? Cek selengkapnya di bawah ini.

Sudah ada 12 sobat gurusianer yang saya kupas tulisannya. Karya yang luar biasa, tulisan yang penuh semangat, dan inspiratif mereka suguhkan. Masih di buku antologi "Colourful Ramadan", kali ini kita akan berkenalan dengan Bunda Fransisca Setyatun alias Bunda Atun. Pasti sudah ada yang mengenalnya kan? Saya mengenal beliau ketika mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh MediaGuru. Narasumber keren dan cantik. Walaupun hanya melalui dunia maya rasanya sudah begitu dekat karena seringnya melakukan SKSS di blog Gurusiana. Beliau merupakan tokoh penggerak literasi dari SMP Fransiskus Bandarlampung yang smart dan keren banget.

Dalam buku antologi "Colourful Ramadan", beliau mengambil judul "Bulan Suci Merekat Toleransi". Dari judulnya saja sudah terlihat hebat dan luar biasa apalagi isinya.

Bulan Ramadan merupakan catatan indahnya keberagaman, aneka warna kegiatan, dan tradisi yang menghiasi hari-hari yang rekat toleransi. Bagimana tidak, di kampung Bunda Atun dengan aneka keyakinan semua ikut memaknai dan menghargai Ramadan. Semua ikut merayakan hingga Idulfitri tiba, pintu-pintu rumah terbuka lebar untuk saling maaf dan pengampunan.

Bunda Atun terlahir dari keluarga Budha. Kakek nenek penganut Hindu dan keluarga besar beliau hampir semua muslim. Beliau bersama sang adik beragama Katholik. Semuanya hidup dalam kedamaian dan persaudaraan.

Ada cerita unik di kampungnya Bunda Atun. Mengawali Ramadan dengan padusan di tempat pemandian sakral, menyucikan diri memuliakan perjalanan suci olah hati dilakukan dengan meriah dan suka cita. Kegembiraan menyambut Ramadan menunjukkan bahwa masa indah itu sangat dinanti dengan kerinduan yang mendalam.

Hari ke-21 Ramadan adalah hari istimewa sebagai awal memulai I'tikad, mengharapkan datangnya Lailatul Qadar yang mulia dibandingkan dengan malam lainnya. Disebut malam seribu bulan untuk memperbanyak amal dan ibadah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang tak terputus.

Sampai di akhir Ramadan semua keluarga menyiapkan hidangan untuk kendurian khas tradisi kampung beliau. Saling berbagi kue apem dan bernostalgia. Kebahagiaan Ramadan di kampung halaman Bunda Atun penuh kedamaian. Orang yang berpuasa tetap terjaga, bahkan yang lain rela berpuasa dengan penghayatan masing-masing. Suasana itulah yang tetap beliau jalani di perantauan.

Bunda Atun tetap merasa bahagia di tengah keluarga yang beda keyakinan. Bahagia karena diterima dengan tangan terbuka di mana pun berada. Latar keberagaman keluarga mampu menjaga dan menghargai toleransi yang sudah menyatu dalam hati. Sampai kapan pun Ramadan suci ini akan makin merekat toleransi. Menggores lukisan indah dalam kanvas bertabur warna penuh berkah.

Tulisan Bunda Atun memang benar-benar luar biasa. Saling menjaga, menghargai, dan menjunjung tinggi nilai toleransi dengan sesama yang beda keyakinan.

Baru tahu saya kalau di kampung Bunda Atun juga ada apem, sama seperti di tempat saya.

Salam literasi dari Grobogan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post