Sutarti_Grobogan

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mengenal Penulis melalui Karyanya (Part-18)

Mengenal Penulis melalui Karyanya (Part-18)

Rabu, 27 April 2022

TAGUR-365 (34)

***

Semangat pagi sobat semuanya. Semoga dalam keadaan sehat dan dilancarkan puasanya hari ini, Aamiin YRA.

Pagi ini masih bersama dengan resensi tulisan sobat hebat dalam buku antologi "Colourful Ramadan". Sudah ada tujuh belas karya sahabat yang saya baca, ternyata tulisannya begitu luar biasa dan penuh makna. Bulan Ramadan ini banyak belajar dari tulisan sahabat yang tergabung dalam buku tersebut.

Mengenal Penulis melalui Karyanya, merupakan judul yang saya pilih untuk meresensi karya sahabat semua. Walaupun belum pernah bertemu, setidaknya dengan membaca karya-karya penulis hebat tersebut rasa rindu ini akan terobati. Membaca sekaligus memahami membuat hati ini seakan-akan sudah mengenal jauh lebih dekat. Dunia maya tempat kita bertemu dan saling menyapa. Semoga ada waktu dan kesempatan untuk saling bersua.

Setelah sebelumnya karya Bapak Mursalim Nawawi yang hebat, kali ini masih dengan penulis terkenal dan berbakat di MediaGuru Indonesia. Mau tahu siapa dia?

Kali ini ingin belajar mengenal Bapak Irwanto. Beliau seorang guru MAN dari kota Pariaman, Sumatera Barat. Sedikit yang saya tahu tentang beliau adalah seorang guru Matematika yang pandai merangkai kata di blog Gurusiana. Menulis cerita bersambung adalah merupakan keahliannya. Beberapa kali masuk menjadi pemenang lomba menulis bulanan MGI. Selain itu, beliau juga pernah menjadi narasumber dalam acara webinar yang diadakan oleh MediaGuru Indonesia. Berbicara tentang prestasi mungkin tak kan pernah ada habisnya. Seorang guru Matematika yang pandai membuat cerbung, saya katakan luar biasa karena jarang banget penulis seperti itu. Kita ulas tulisan beliau dalam buku antologi "Colourful Ramadan" selengkapnya di bawah ini.

Bapak Irwanto memilih judul Ramadan, Rindu Kebersamaan. Membaca judulnya saja sudah merasa terharu apalagi membaca isinya. Penasaran?

Banyak kisah unik yang bisa dikisahkan dari pengalaman menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Mulai dari menyambut dan menjalaninya, sampai berpisah dengan bulan Ramadan. Banyak momen yang sayang jika dilewatkan, sehingga pantaslah bulan ini disebut sebagai bulan yang sangat istimewa.

Sebelum memasuki bulan Ramadan, masyarakat sudah menjalani aktivitas yang menandai bulan Ramadan akan tiba. Ada yang datang di tempat pemandian yang dikenal dengan acara balimau, yang pada prinsipnya bermaksud untuk membersihkan diri sebelum menghadapi bulan suci. Tidak hanya raga, tapi juga jiwa. Bagi perempuan yang baru menikah di umur pernikahan yang belum cukup satu tahun, mendatangi rumah mertua, dikenal dengan istilah maantaan limau, membawa makanan sebagai buah tangan.

Menjelang bulan puasa, masyarakat yang berada dalam ikatan satu kaum atau beberapa kaum yang mempunyai lahan pekuburan leluhurnya, bergotong royong membershkan pusara, berziarah, dan ditutup dengan doa bersama. Doa dipimpin oleh pemuka agama kaum, yang dikenal dengan nama urang siak. Bersama-sama, tua dan muda, anak-anak dan orang dewasa, pria dan wanita, para suami dan para istri, duduk berbaris di tikar, menyantap hidangan yang dikenal dengan istilah makan bajamba.

Kebersamaan tidak hanya tercipta dalam memasuki bulan Ramadan, sepanjang hari dalam satu bulan puasa, banyak momen kebersamaan yang bisa dijumpai. Masjid tidak hanya dikunjungi pada saat salat Tarawih. Setiap waktu salat, masjid penuh sesak dengan jemaah untuk melaksanakan ibadah. Ibu-ibu membawa makanan ke masjid untuk berbuka bersama dan saur bersama, dan masjid pun menjadi tempat berkumpulnya para perantau yang berasal dari berbagai daerah.

Akhir Ramadan pun disambut dengan suka cita dengan takbiran bersama. Namun, kebersamaan itu hilan seketika, saat pandemi COVID-19 melanda dunia. COVID-19 menutup rapat-rapat setiap perkumpulan sehingga Ramadan tahun ini merupakan tahun yang sepi dari kebersamaan dan kunjungan. Ramadan menjadi sebuah kerinduan, rindu akan kebersamaan untuk mengajak anggota keluarga menunaikan ibadah di rumah Allah.

Semoga pandemi cepat berlalu sehingga kebersamaan pada bulan Ramadan tidak lagi sekadar rindu yang menjadi warna dalam bingkai cerita.

Tulisan Bapak Irwanto begitu luar biasa. Banyak belajar dari tulisan beliau. Mulai dari bahasanya dan ternyata kegiatan-kegiatan Ramadan di sana itu sangat seru sekali. Ketika membaca tulisan beliau itu seakan-akan masuk dan larut dalam suasana keseruannya.

Karya antologi ini seharusnya memakai bahasa yang nyata dan apa adanya. Namun, Bapak Irwanto ini menyajikan dan meramu cerita dengan memakai bahasa cerpen. Memang benar, penulis jika sudah terbiasa dan jago menulis cerpen, cerbung, dan bahkan novel. Bahasanya pasti tak jauh dari bahasa cerpen.

Keren banget pokoknya Bapak Irwanto.

Salam literasi dari Grobogan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post