Titin Kusminarsih

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Ayah , Cerita Tentangmu Tak Pernah Usai (1.798)T. 299

Ayah, Cerita Tentangmu Tak Pernah Usai (1.798)T.299

Karya: Tin Faza

Kembali mengurai tentangmu ayah. Kau tinggalkan kami hanya 4 hari meregang nyawa di HCU RSUD kabupaten Sidoarjo, 11 tahun lalu.

Ayah, jika aku ingat engkau, air mataku selalu menggenang di pelupuk. Aku tahu kau pejuang tangguh keluarga kami dengan 5 anak kecil - kecil hanya sebagai PNS. Dengan gaji yang kecil, tapi demi anak- anaknya dapat bersekolah tinggi, 4 anakmu dapat kuliah , 2 yang Jadi PNS aku dan adikku.

Engkau rela mencari tambahan nafkah lain dengan menyewa tanah sawah dikerjakan saat sore pulang mengajar.

Ceritaku tentang ayah kumulai dari yang kuingat, dari kakakku tertua. Sebetulnya kami 7 bersaudara , tetapi anak ayah dan ibu nomer 2 meninggal bayi usia 3 bulan, dan anak ayah ke 5 adikku umur 6 bulan meninggal dunia . Sehingga sebetulnya aku anak nomer 5, tetapi dihitung dari saudara yang hidup aku menjadi anak nomer 4 dari 5 saudara yang hidup.

Kakakku perempuan bercerita aku adalah anak kesayangan ayah karena nyawaku hampir melayang saat aku umur 2 tahun . Aku terserang dhipteri hebat. Aku kecilnya sering bermain di tanah.. entah tangan ini tidak bersih, saat makan, mungkin ada kuman dari tanah.

Alhasil tenggorokan ku sakit bengkak, sampai tidak dapat bernafas , hanya "megap - megap" tak bisa tidur hanya terlentang di kamar tidur . Aku dilarikan ke RSUD dr Soetomo Surabaya, dokter mendiagnosis cepat , "anak bapak terserang dipteri!.. cepat! untuk menyelamatkan jiwa anak bapak, harus segera dioperasi tenggorokannya untuk membersihkan dhipterinya" , lanjut fokter. Ibuku, menggendong aku, dengan hamil besar 9 bulan. Antara aku diberikan dokter , apa tidak, untuk dioperasi tarik ulur dengan ayah. Ayah tak berpikir panjang satu keyakinan nya anakku harus hidup ayah kemudian mengiyakan perkataan dokter. Y, dok ! Saya tanda tangan persetujuan operasi dipteri anak saya.

Ibu meraung - ruang keras pikirannya bagaimana anakku tenggorokannya dilubangi, pikirannya tak karuan.

Operasi berhasil, saat itu kata kakak , pensterilan , pasca operasi masih sangat manual , yaitu dari uap panas air yang di rebus di cerek , itu yang di salurkan ke Tenggorokanku, untuk pembunuhan kuman pasca operasi.

Ibu yang menunggu ku pasca operasi dengan tidur di kursi sambil hamil besar 9 bulan.

Dengan kejadian itu, aku sakit, seluruh saudaraku juga diperiksa dokter kuatir tertular dengan penyakitku dipteri tadi.

Aku akhirnya dinyatakan pasca operasi diperbolehkan pulang. Sejak saat itu ayah berjanji aku anak yang paling di sayanginya, tak pernah aku dipukul ayah karena nyawaku hampir melayang tadi, saat umur 2 tahun kejadiannya tahun 1976.

Tidak itu juga ingatanku, ayah jika kami sakit ayah selalu bawa kami ke klinik ke mantri di kota saat itu agar dapat nomer 1 periksa selalu bawa kami usai subuh.. karena bapak mantri periksa pasien sebelum dinas di RS umum.

Saya ingat saat SD ya kurang tahu, sering saja sakit eksim, gudik bermuncul jika tubuh panas , kalau sudah begitu tidak dapat bersekolah, sekolah dengan pakai sandal diantar ayah, ayah lalu terus melanjutkan perjalanan dinas di kabupaten lain, perjalanannya ada naik getek karena melewati Bengawan yaitu sungai lebar, untuk sampai di SD dinas ayah.

Sampai waktu itu sebagai PNS era bapak Suharto, Ayah mendapat jatah beras antren. Berasnya pernah terjatuh di Bengawan , ditolong oleh pengendali Getek, kemudian di rumah beras di jemur kembali agar bisa dinanak .

Cerita dengan ayah ingatanku melayang saat SMPN , aku sekolah di SMPN. Yang jauh dari rumah berjarak 6 km , nah saya badannya kecil tapi dibelikan aku sepeda baru poniex biru yang besar, jadi besar sepedanya daripada anaknya yang naiiki yaitu aku .

Susahnya saat sungai besar melintas desaku dikeruk, karena pendangkalan, sepedaku kena lumpur sehingga tak bisa diputar atau dinaiki.. lalu kutuntun sepeda. Sambil dijemput ayah di ujung desa . Aku ingat ayah dengan sigap dicuci sepedaku , dimasukkan ayah ke sungai kecil yang deras yang mengalir ke sawah, dengan begitu roda sepedaku dapat berputar normal kembali .

Tak cukup itu saat pulang sekolah hujan deras putih , mengaburkan pandanganku, ayah khawatir karena aku melewati sawah tuang yang panjang , hujan deras , ada guntur petir ayah menjemputku dengan kasih sayang nya takut kenapa - kenapa anaknya di jalan.

Kesabaran ayah menjagaku tak ada duanya selalu nomer satu , ayah pemenangnya .

Saat SMAN juga begitu ayah saat itu sepedanya dijual. Karena usai kecelakaan di serempet mobil polisi sehingga jari kelingking tangan kirinya harus diamputasi di RSUD Dr Soetomo Surabaya juga . Jadi ayah di ujung dinas nya lebih baik tidak mengendarai sepeda motor , naik kendaraan umum saja . Saat masuk desa tidak ada oplet. Ia bawa sepeda miniku saat SMPN dulu , karena 4 km masuk desa rumahku. Aku pulang sekolah juga naik bemo pulang sekolah menunggu ayah diparkir sepeda dibonceng ayah dengan sabar menuju rumah masuk desaku.

Ayah, kisahmu, aku tutup, engkau menjadi pahlawan keluarga, nafkah tidak cukup , karena ibu juga ibu rumah tangga biasa, ayah di samping berdinas pagi siang nya masih mengajar Madrasah ibtidaiyah( MI) di Yayasan NU di desa kami . Aku murid ayah juga di MI. Aku tahu ayah sangat cerdas dalam mengajar tulisan nya sangat rapi dan bagus di papan tulis hitam.

Mudah dimengerti jika menjelaskan matematika .

Saat aku kuliah PGSD aku dapat tugas mendongeng. Saya dilukiskan ayah sebuah kambing di tengah sawah sebagai pendukung dongengku.

Ayah seorang ulet di SDN Cangkir kec . Driyorejo Kabupaten Gresik Jatim, Ia untuk mencari tambahan gaji ia beri les siswa- siswanya ,hingga purna tahun 1994 usia 60 th.

Di usia senjanya usai purna , Saya saat hamil tua anak bungsu , ayah sempat sakit parah dioperasi prostat, Alhamdulillah sembuh .

Di kekosongan purna ayah selalu tekun berkebun di belakang rumah, diciptakan seperti Kebun Raya , disapu bersih dirawat aneka buah dan tanaman di belakang rumah ada nangka, rambutan, pepaya , pisang , kelapa ,cerme dan nanas .

Kenangan tak dapat kulupa sampai kapanpun sebagai jejak aku melangkah arungi kehidupan ,potret ayah selalu di hati aku dan saudara - saudaraku.

Ayah memjemput ajalnya tidak sakit lama, tidak dirawat lama oleh kami anak - anaknya ,terkena serangan stroke ke 2, hanya 4 hari di HCU RSUD kabupaten Sidoarjo, ditunggui ibu. Batang otak Ayah pendarahan sehingga paru- paru ayah pecah juga, keluar buih putih - putih terus dari mulutnya sambil kedua tangannya harus diikat di tempat tidur karena gerak reflek ayah yang tak bisa terkontrol .Ibu menunggu dengan urai air mata saat itu. Kami menyaksikan kesakitan ayah . Ibu masih sehat saat itu menunggu ayah dan berdoa, y Alloh kami serahkan kepadamu jika engkau ambil nyawa bapaknya anak- anak, ambil lah saya iklhas dengan mengusap dada ayah. Ayah kemudian beberapa saat menghembuskan nafas terakhirnya pukul 9 malam hari Selasa tanggalnya aku lupa, tahun 2014. Usia 80 tahun , 20 tahun usai purna PNS .

Jasad dinginnya, sampai di rumah di bawa ambulans dari RS, telapak kakinya yang dingin kupegangi terus, sebelum di mandikan, malam itu juga ayah dimakamkan , tetangga berdatangan.

Ayah itulah kenangan cerita tentangmu ayah , seorang guru abadi dengan badan tinggi. Tapi kurus sampai usia senjanya, tapi jika diulik kisah lainnya tak pernah selesai ayah. Semoga engkau selalu ada di surga firdaus -Nya, Ayah aamiin .

Kota Delta, 24 Okt 25

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post