Ambisi yang kepeleset Cermin (1.851)T.352
Ambisi yang Kepeleset Cermin (1.851)T.352
Karya: Tin Faza
Ada langkah-langkah yang ingin melesat
secepat kilat menembus langit,
bahkan sebelum tanah menyentuh jejak
atau pengalaman sempat bertanya:
“Sudahkah kau belajar berjalan?”
//
Ada ambisi yang gemetar,
seperti roket kardus yang memaksa terbang,
menendang kanan-kiri,
menabur drama di setiap tikungan waktu—
seolah dunia adalah panggung
dan ia pemeran utama tanpa latihan.
//
Lalu terdengarlah bisikan besar:
“Lihat aku!
Aku luar biasa!”
Kalimat itu bergaung keras
namun sayang,
gaungnya hanya memantul pada dinding ego
dan jatuh kembali—
lebih sunyi dari detak jam rusak.
//
Semut-semut kecil pun tertawa pelan,
bukan menghina,
tapi heran:
“Mengapa manusia suka berlari
sementara pijakan belum kuat?”
Ia hanya menggeleng—
mungkin karena tahu,
puncak bukan soal cepat,
tapi soal layak.
//
Ah… validasi.
Sebuah candu yang tampak berkilau,
namun hambar ketika akhirnya ditelan.
Kau mencari tepuk tangan,
atau dirimu sendiri yang hilang
di balik topeng ambisi?
//
Maka berjalanlah perlahan,
di rel yang sabar,
dengan langkah yang tahu arah.
Karena pelangi tak pernah lahir
dari badai yang memaksa,
melainkan dari hujan yang rela
dan cahaya yang tiba pada waktunya.
Kota Delta, 17 Des 2025.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan