Kartini, Sang Pejuang Emansipasi yang Berliterasi
Kartini, Sang Pejuang Emansipasi yang Berliterasi
Kartini terlahir dari keluarga priyayi-santri yang berdedikasi dalam menjalankan pengabdian pada negeri dan tekun dalam beragama. Ayahnya adalah seorang bangsawan Jawa yang menjabat Bupati di Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Sedang Ibundanya bernama M.A. Ngasirah putri dari seorang Kiai di Telukawur, Kota Jepara. Sebagai putri bangsawan Kartini berkesempatan sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah Belanda untuk anak-anak Indonesia atau keturunan Belanda-Indonesia.
Sejak sekolah itulah Kartini sangat suka membaca. Hobi Kartini dalam membaca mendapat dukungan dari ayahnya. Dalam masa pingitannya banyak buku, majalah, dan surat kabar dibelikan ayahnya untuk Kartini muda. Dibacanya juga karya-karya Multatuli (nama pena dari penulis Belanda Eduard Douwes Dekker). Tak ketinggalan berbagai roman dibacanya juga dan semuanya berbahasa Belanda. Sehingga semakin luas tentang ilmu pengetahuan dan kazanah budaya. Berkat buku-buku yang dibacanya, Kartini mulai tertarik dengan cara berfikir wanita Eropa.
Dalam keyakinannya, seorang wanita seharusnya memiliki peran penting sebagaimana pria dalam kemajuan suatu bangsa. Ia berharap semua wanita bisa memperoleh pendidikan seperti dirinya. Karena di zamannya wanita pribumi memiliki status sosial yang masih rendah di masyarakatnya. Ia terus memperdalam pengetahuannya dengan belajar kepada sahabat-sahabat Belandanya dan saling berkirim surat menceritakan keinginan hatinya. Ia bercita-cita mendirikan sekolah untuk para wanita di Indonesia.
Akhirnya Kartini muda dapat mewujudkan impiannya menjadi guru dan mendirikan sekolah yang pada awalnya untuk kerabat dan teman-temannya. Pelajaran yang di berikan berupa menjahit, menyulam, memasak, dan Bahasa Jawa. Ia pun sangat senang karenanya. Untuk memperdalam keilmuwannya Kartini mengajukan beasiswa sekolah di Eropa.
Namun, sebelum permohonannya dikabulkan, Ia harus mempersiapkan diri menikah dengan seorang bangsawan dan sekaligus Bupati Rembang yang beristri tiga. K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat. Surat dari Pemerintah Belanda mengabarkan diterimanya permohonan beasiswa datang saat Kartini harus menghadapi pernikahannya. Sebagai gantinya, Ia usulkan seorang pemuda cerdas, Agus Salim namanya.
Dalam kehidupan beragama, Kartini merasa hampa karena ia hanya belajar mengeja dan membaca Al Quran dari gurunya. Sedang arti dan isi kandungannya tidak dapat dipahaminya. Ia mengibaratkan belajar al-Qur’an sedemikian menjadikan umat islam tidak memahamii mutiara hikmah yang terkandung didalamnya. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan ayat-ayat Al-Qur’an justru Kartini mendapat amarahnya. Kartini mulai mengalami kegelisahan karenanya. Di sisi lain, kecerdasan Kartini dalam berusaha memahami Al-Qur’an dan Islam tidak tercatat dalam sejarah Indonesia.
Hingga suatu ketika Kartini dipertemukan dengan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani atau lebih di kenal dengan Mbah Sholeh Darat. Saat ada acara pengajian yang berlangsung di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakan pamannya. Dalam kesempatan itu, Kiai Sholeh Darat menafsirkan Surat Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa.
Kartini pun terkesima, Ia menangkap kata demi kata yang disampaikan sang Kiai dengan penuh makna. Pada satu kesempatan, Kartini protes kepada Kiai Sholeh, karena selama ini Ia hanya diajari membaca Al Qur’an tanpa mengerti maknanya. Kartini pun meminta Kiai Sholeh untuk menuliskan tafsir seluruh Alquran agar bisa dipelajari dan dimengerti isi kandungannya.
Rasa penasaran Kartini telah menggugah Kiai Sholeh untuk menerjemahkan Al Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Akhirnya Beliau mulai menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz, hingga mencapai tiga belas juz (Al Fatihah sampai Surat Ibrahim), dan terjemahan itu dihadiahkan untuk pernikahan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado terindah yang tak ternilai harganya. Ia senantiasa berulang-ulang membacanya. Beliau tidak bisa merampungkan penerjemahan hingga tiga puluh juz karena Wafat.
Semangat literasi Kartini tetap membara meskipun sudah berumah tangga dan menjadi lebih bahagia saat sang suami mendukung keinginannya. Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di sebelah timur pintu gerbang perkantoran Rembang, yang kini menjadi gedung pramuka. Selain untuk para gadis remaja, Ia mendatangkan pengukir kayu dari Jepara untuk mengajari pertukangan bagi anak bujang juga. Namun, tak lama setelah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Soesalit Djojo Adiningrat Kartini menghembuskan nafas terakhirnya di usia yang masih sangat muda (21 April 1879 - 17 September 1904).
Beberapa karya R.A. Kartini antara lain: Habis Gelap Terbitlah Terang (terinspirasi dari surat Al Baqoroh 257 “Min al-dzulumat ila al-nur” yang berarti “Dari kegelapan menuju cahaya”). Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904, Panggil Aku Kartini Saja (Karya Pramoedya Ananta Toer), Kartini, Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, Aku Mau... Feminisme dan Nasionalisme, dan Surat-surat kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
Surat-surat R.A. Kartini mengilhami J.H.Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku dengan judul “Door Duisternis tot Licht” atau Dari Kegelapan Menuju Cahaya pada tahun 1911. Sebagai penghargaan gelar Pahlawan Nasional pun di sematkan oleh Presiden RI dalam Surat Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964, tanggal 12 Mei 1964. Dan ditetapkannya tanggal kelahiran Beliau, 21 April sebagai Hari Besar yang diperingati setiap tahun.
Pemikiran R.A. Kartini terus menginspirasi generasi ibu pertiwi, W.R. Soepratman berhasil menciptakan lagu yang kita nyanyikan sampai saat ini “Ibu Kita Kartini”. Pada tahun 2017 kisah Beliau juga diceritakan kembali dalam bentuk film oleh sutradara Hanung Bramantyo dengan judul “Kartini” yang semula berjudul “Surat Cinta Kartini” agar menjadi teladan dan inspirasi generasi masa kini. Kartini telah memulai, tidak hanya emansipasi tetapi juga berliterasi. Mari kita teladani dan teruskan semangat R.A. Kartini dengan prestasi tanpa mengingkari kodrat Ilahi dan tetap menjadi wanita sejati. Semangat Hari Kartini!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
