umi hasanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Alarm Ilahi

Alarm Ilahi

Alarm Ilahi

“Dek, cepat bangun. Ayo solat!” Suara suami sambil mengusap lenganku.

Tangan dinginnya membuatku segera terjaga. Dia sudah selesai mengambil air wudhu. Bersiap menuju musala kecil kami. Aku berusaha mengumpulkan energi, duduk di tepi ranjang. Tak lupa bersyukur dan berdoa, aku masih diberi kesempatan menikmati hari ini.

Kicau merdu kutilang di pohon kelengkeng belakang sudah terdengar. Artinya, saat ini sudah jam setengah lima pagi. Kutilang-kutilang itu terus berkicau bersahutan hingga jam setengah enam. Mereka hinggap di ranting kelengkeng dari satu dahan melompat ke dahan lain. Begitu riang dan bahagia. Sesekali mereka mematung buah kelengkeng di dekatnya.

Aku bergegas ke kamar mandi, langsung berwudhu dan menyusul suami solat berjamaah. Ya Allah, maafkan aku. Hari ini bangun kesiangan. Sampai-sampai nyanyian kutilang yang kudengarkan. Bukan suara tahrim ataupun lantunan azan. Biasanya bangun tidur, aku minum segelas air putih hangat. Namun, kali ini kicau tidak sempat. Sebab, harus segera salat.

Walaupun di rumah aku tidak memelihara burung, setiap hari aku menikmati kicauannya. Halaman depan rumahku ada pohon mangga dan belimbing buah. Beberapa sarang burung tampak di sebagian dahannya. Terkadang sarang itu jatuh tertimpa air hujan. Depan rumahku, seberang jalan ada kebun tetangga yang pohonnya tinggi-tinggi. Tempat itu menjadi habitat banyak burung.

Beberapa kutilang juga membuat sarang di pot bunga gantungku. Aku menyadarinya pas pagi-pagi menyiram bunga gantung, beberapa burung kabur dari sarangnya. Terkadang mereka bergelantungan di batang bunga gantung yang menjuntai. Mereka berkicau sahut-sahutan. Membuat pagiku semakin indah. Di lain waktu, beberapa burung dara mematuk-matuk karak (nasi yang dijemur hingga kering) di halaman samping.

Kata anak gadisku. “Serasa kita yang memelihara burung-burung itu, ya Buk?”

“Iya ya, malah kita beruntung. Tidak perlu membuatkan sangkar dan memberi makan.”

“Menikmati kicauannya tanpa harus memenjarakannya.”

“Bener itu, Nduk.” Jawabku sambil tersenyum.

Sesekali aku sengaja menyebar beras untuk mengundang mereka datang. Terkadang aku iseng mengambil gambar burung-burung itu. Saat mereka mematuk-matuk karak, ketika mereka bertengger di pucuk dahan kelengkeng, atau pas menggantung di batang tanaman yang menjuntai. Rasanya hal sederhana itu membuat suasana hati berbeda. Senang dan bahagia. Alhamdulillah, ya Allah.

Begitu pun ketika senja tiba. Sekitar jam lima sore. Kicauan kutilang kembali terdengar bersahutan. Seolah mereka kembali dari mencari rezeki dan kembali ke sarang. Bagiku, kicauan kutilang-kutilang itu adalah alarm. Ya, dia adalah alarm Ilahi. Jika kutilang sudah berdendang, tandanya pagi sudah datang. Waktu subuh pun tak dapat ditahan. Aku sangat bersyukur bisa menikmatinya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post