umi hasanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Hari yang Tak Terlupakan

Hari yang Tak Terlupakan

Hari ini, tanggal 1 Oktober 2026, tepat satu tahun yang lalu. Saat teman-teman bersemangat bersama murid-murid melaksanakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, aku terbaring di ranjang rumah sakit. Hari itu tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak meyangka akan menjalani operasi. Yang aku rasakan adalah kepasrahan atas takdir yang terjadi. Aku menyadari bahwa semua yang kita miliki sejatinya adalah titipan, bahkan diri kita sendiri.

Keputusan besar itu tidak datang tiba-tiba. Sebelum akhirnya bersiap dengan pakaian operasi, ada bulan-bulan panjang yang penuh ikhtiar. Berbagai pengobatan telah kujalani, dan beragam terapi telah kucoba demi memperjuangkan kesembuhan. Hari itu, saat aku periksa yang kesekian kalinya, dokter tidak memberiku obat. Namun, di ruang periksa yang tenang, dokter menyampaikan kalimat yang seketika membuat dadaku sesak: rahimku harus diangkat.

Aku sempat bertanya seraya tidak percaya, “Tidak adakah alternatif lain, Dok?” suaraku bergetar. “Dari riwayat kesehatan ibu, berbagai alternatif pengobatan sudah panjenengan Jalani, saya menyarankan ini sebagai alternatif yang terakhir.” Beliau tegas menjelaskan. Aku terdiam. Perasaan kaget, cemas, bingung, dan takut campur aduk membuatku tak membekukan lidahku hingga tak mampu memberikan jawaban saat itu juga. Melihatku terdiam, dokter seolah mengerti perasaanku.

“Saya mengerti perasaan Ibu. Jangan khawatir, ibu tidak usah takut, operasi angkat rahim itu seperti operasi sesar saat melahirkan. Bukankah ibu melihat sendiri, banyak ibu-ibu lain yang menjalani operasi dan sehat kembali.” Kata Beliau mencoba menepis keraguanku.

“Iya, Dok. Saya tahu itu. Tapi…saya perlu waktu untuk menyiapkan diri dan menata hati.” Saya juga ingin memberitahu dan minta izin suami.” Jawabku lirih.

“Baiklah, saya tunggu satu minggu lagi ya, Bu. Minggu depan ibu datang lagi ke sini Bersama suami, apa pun keputusannya. Nanti saya yang akan menjelaskan masalah operasi dan dampaknya kepada suami ibu.”

Aku keluar ruang periksa masih dengan perasaan yang tidak karuan. Kata "angkat rahim" bergema di telingaku bagai petir di siang bolong. Rasa takut, cemas, dan kehilangan mendadak merayap cepat. Bisakah aku menerima takdir ini? Bagaimana kehidupanku setelahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menari di kepalaku. Aku butuh waktu untuk menata hati.

Dalam kesendirian dan kebingungan, aku menyampaikan pesan dokter kepada suami dan keluarga. Diskusi malam itu tidak hanya membicarakan prosedur medis, tetapi juga tentang penerimaan, masa depan, dan arti sebuah keikhlasan. Suamiku sebenarnya masih berharap ada alternatif pengobatan lain, sama sepertiku. Sementara ayahku menyarankan agar aku menyetujui saran dokter demi menjaga kesehatanku. Mungkin beliau trauma, ibuku tiada setelah menjalani pengobatan dan tindakan yang terlambat karena kanker rahim.

Melalui dukungan tanpa henti dari orang-orang tercinta, perlahan ketakutanku mulai meluruh. Aku menyadari bahwa kesehatan dan kesempatan untuk terus hidup serta mendampingi mereka yang kucintai jauh lebih berharga dari apa pun. Dengan mengucapkan bismillah, aku menetapkan hati dan menyetujui tindakan operasi tersebut.

Kini, tepat satu tahun berlalu sejak hari itu. Dari balik jendela rumah sakit tahun lalu hingga melangkah pada hari ini, aku belajar satu hal berharga: melepaskan bukan berarti kalah. Menyerahkan keputusan terbaik kepada Sang Pemilik Jiwa adalah bentuk tertinggi dari rasa percaya. Rahimku mungkin telah diangkat, tetapi aku merasa belajar ikhlas dan lebih bersyukur. Segala puji bagiMu ya Allah, atas Napas dan kesehatan yang masih engkau berikan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post