Munuju Istitoah
Menuju Istitoah
Pagi itu, udara masih terasa segar ketika suami saya mengetuk pintu kamar.
"Sudah siap, Dek? Jangan sampai kita terlambat," ajaknya mengingatkan.
Hari yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba: panggilan pemeriksaan kesehatan bagi calon jemaah haji.
"Sudah, Mas. Tugas mengajar juga sudah saya serahkan ke guru piket, dan saya sudah izin ke Kepala Sekolah," jawab saya mantap sambil mengemas tas. Setelah memastikan semua keperluan lengkap, kami pun bergegas berangkat.
Puskesmas Kecamatan Mojo sudah mulai ramai saat kami tiba. Beberapa calon jemaah haji tampak duduk rapi menunggu antrean. Semua berharap mendapat predikat istitoah (kelayakan kesehatan ). Di halaman belakang, bangku-bangku panjang terisi oleh wajah-wajah penuh harap. Para perawat dan petugas kesehatan berseragam putih sibuk lalu lalang menyiapkan peralatan medis.
Setelah mengambil nomor antrean, kami bergabung duduk bersama jemaah lainnya, menikmati suasana pagi yang tenang. Satu per satu nama dipanggil. Rangkaian pemeriksaan berjalan runtut, mulai dari skrining kesehatan umum, pengukuran tekanan darah, hingga pengambilan sampel darah dan urine di laboratorium.
Suasana tenang itu mendadak mencair ketika giliran seorang kakek yang sudah sangat sepuh dipanggil.
"Mbah, rokoknya dikurangi, ya! Supaya Mbah Kong tetap sehat sampai waktu keberangkatan haji nanti," saran dokter penuh perhatian usai memeriksa beliau.
Mbah Kong menatap dokter, lalu menjawab dengan polosnya, "Lah, saya ini merokok dari kecil, Dok. Selama ini ya tidak apa-apa."
"Kan Panjenengan sekarang sudah sepuh dan akan berangkat haji, Mbah. Eman-eman kalau sampai sakit di sana," tutur dokter dengan nada lembut dan hati-hati.
"Salah siapa saya harus menunggu lama! Waktu daftar 12 tahun lalu, saya ini masih sehat dan kuat," protes si Mbah lagi.
Gelak tawa ringan seketika pecah di halaman belakang puskesmas. Kami semua yang mendengar tidak bisa menahan tawa melihat tingkah polos dan celetukan jujur Mbah Kong.
"Iya ya, Mbah... Coba kalau begitu daftar langsung berangkat, Panjenengan pasti masih muda dan kekar," sahut Bu Dokter sambil tersenyum maklum.
Celetukan Mbah Kong sebenarnya mewakili realita yang kami rasakan bersama. Menunggu adalah ujian pertama bagi para calon jemaah haji. Kami yang mendaftar pada rentang 2011 hingga awal 2012 awalnya memiliki estimasi keberangkatan pada tahun 2022. Namun, pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Masa tunggu terpaksa mundur dua tahun, menggeser harapan kami ke tahun 2024.
Meski demikian, tidak ada rasa sesal. Semua ini adalah bagian dari takdir dan skenario terbaik dari-Nya. Terpenting bagi kami saat ini adalah terus berikhtiar—menjaga kesehatan fisik dan menyiapkan mental—agar kelak dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar.
Kita manusia wajib berusaha dan berdoa, tatapi Allah SWT jualah Penentu akhirnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
