GURUKU PANUTAN KU
Oleh
Yinnedi.M, S.Ag.M.Pd
Semua yang menjadi guru kita tentu mempunyai kelebihan dari kita, tidak seorang guru yang tidak baik bagi kita. Dalam tulisan ini penulis bukan membeda bedakan guru penulis, yang jelas setiap guru mempunyai kelebihan dan kebaikan untuk kita. Sebagai sahabat nabi di antara mereka mempunyai kelebihan dari yang lain jika kita bicara abu bakar sidiq dengan begitu banyak kelebihan nya ini bukan mengenyampingkan Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya. Sebab masing masing sahabat mempunyai kelebihan tersendiri. Kelebihan satu dengan yang lain akan menjadi contoh bagi kita bukan mengalahkan atau menganggap yang lain tidak baik.
Dalam tulisan ini penulis akan menulis kan kelebihan guru penulis yang pernah mendidik penulis di pondok pesantren Nurul Yaqin ringan ringan pakandangan Padang Pariaman. Penulis menulis ini karena hari ini adalah hari guru, semoga kita mempunyai kenangan tersendiri dari guru guru yang pernah mendidik kita. Judul tulisan ini menjelaskan panutan dalam bahasa Indonesia kita artikan dengan teladan. semua guru yang mengejar kita menjadi teladan bagi kita, namun ada yang tidak baik dari guru kita menjadi kan kita tidak panatik atau suka. Kita mengakui setiap manusia mempunyai kekurangan. walaupun dia guru kekurangan tetap ada. Murid yang baik adalah murid yang tidak terpengaruh oleh Kekurangan gurunya. Sehingga kita meminta supaya jangan di perlihatkan kekurangan guru kita tersebut oleh Allah kepada kita. Penulis tidak membandingkan guru guru yang pernah mendidik penulis, namun penulis memang melihat guru yang penulis ambil dalam tulisan ini belum melihat kekurangan dari segi adab bdan ilmu beliau. Penulis akan menulis kan selama lima tahun di pondok pesantren Nurul Yaqin ringan ringan pakandangan Padang Pariaman.
Setelah tamat Mts yastu pasar malalo penulis melanjutkan ke pondok pesantren Nurul Yaqin ringan ringan pakandangan.penulis duduk di kelas 4 karena di malalo sudah kelas 3 sudah belajar kitab juga. Di tahun pertama penulis tidak sekolah di luar sebab penulis bisa juga sekolah di man karena sudah tamat Mts. Dalam satu tahun tersebut penulis memang tidak di ajar oleh Abuya sebab Abuya khusus mengajar kelas tujuh dan sore setiap Rabu untuk masyarakat umum. Karena sistem pembelajaran di pondok pesantren waktu itu Pagi khusus kls tujuh sore Dan malam selain Kls tujuh. Penulis mengaji di malam hari maka penulis bisa masuk mendengar surahan tafsir dari Abuya pagi nya. Di malam hari penulis mengaji bersama guru yang lain yang disebut dengan tuanku. Sebutkan tuangku di pondok tersebut apabila sudah mendapatkan ijazah atau tamat kelas tujuh. Pembelajaran malam hari lengkap semua pembelajaran yaitu 4 atau 5 bidang studi yaitu tafsir, figih, tasawuf, nahwu, syaraf dan lainnya bergantian setiap malam nya. Di kelas 4 tersebut penulis merasa kan sama juga di waktu pembelajaran di Mts yastu mungkin perbedaan nya santri yang di ringan ringan tersebut sudah terbiasa membaca kitab gundul sedang kan' kami hanya sebagai pembelajaran tambahan, sehingga membaca kitab nya sudah fasih sedang kan' penulis masih belum. Perbedaan semacam ini membuat penulis bersemangat untuk belajar dan belajar kitab. Karena penulis di pagi hari tidak sekolah ke luar seperti man dan Mts maka penulis belajar kitab siang Dan malam bahkan masih teringat oleh penulis kami berdua saja belajar mengulang kitab di lokal Dengan GURU tuo, sekarang guru tuo penulis tersebut menjadi Khalifah dari syekh muda Ali Imran Hasan tersebut. Pembelajaran di lokal dan belajar dengan guru tuo tidak ada perbedaan dengan yang lainnya. Namun setelah masuk ikut mendengar kan Abuya di kelas tujuh ini bagi penulis menjadi kenangan yang tak terlupakan perbedaan yang tersendiri penulis rasakan baik belajar sebelum di pondok pesantren tersebut maupun sudah sampai ke perguruan tinggi tentang guru mengajar penulis.
Hari pertama masuk lokal kelas tujuh banyak perbedaan penulis rasakan. Masih ingat dan masih terbayang di saat Abuya masuk lokal kelihatan dari rumah nya saja keluar dari pintu rumah Abuya semua murid murid kelas berebutan untuk menjemput kitab yang Abuya bawah. Yang duluan menjemput Abuya dia yang membawa kitab Abuya. Suasana kelas Diam tidak ada pembicaraan satu pun, satu persatu murid kelas tujuh kedepan bersalaman dengan Abuya. Suara tidak ada lagi. Penulis menyaksikan baru' satu kali itu katebey baru masuk di lokal tersebut. Biasa nya penulis belajar di malam hari. Penulis melihat peraturan apa yang mereka buat kenapa bisa diam Dan tertib, penulis berusaha memperhatikan selama di pondok pesantren tersebut. Sebab dengan Abuya saja peserta didik yang seperti itu namun dengan guru yang lain tidak seperti itu. Perbedaan yang seperti ini yang membuat penulis memberikan judul tulisan ini dengan guruku panutan ku. Banyak kisah-kisah penulis dengan Abuya yang menjadi kan beliau guru panutan bagi penulis. Begitu banyak kisah penulis dengan beliau penulis menulis kan sebagiannya saja di antara nya adalah :
Setelah penulis sudah mulai masuk di kelas tujuh Dan melihat kondisi kejadian yang luar biasa membuat penulis semangkin salut dengan Abuya. Penulis tinggal berbeda dengan ssntri yang lain sebab santri yang lain tinggal di asrama yang besar dua tingkat, sedang kan penulis tinggal di sebuah tempat yang di busty oleh orang tua Santri yang berasal dari Pariaman isi tempat tersebut hanya 5 orang. Penulis kenalan baik dengan anaknya disaat khutbah iftitah yaitu perkenalan Santri baru. Maka penulis di bawahnya tinggal di tempat ysngy dibuat oleh orang tua Santri tersebut. Tempat tersebut dekat dengan rumah Abuya. Sehingga penulis sering bertemu dengan Abuya baik pagi dan sore hari. Di pagi hari Abuya sering setelah sholat subuh sebelum masuk lokal beliau berjalan sambil kerja sedikit kebun yang beliau tanam obat obatan. Abuya tidak pernah minta santri nya untuk membantu beliau namun santri tersebut yang datang saja ke Abuya membantu beliau. Di suatu Subuh penulis juga bersama Abuya, setelah sampai di tempat Abuya kami mengambil ember di tabsbi Abuya di saat itu Abuya membawa tanah dsruy tempat yang lain ke kebun nya. Sambil bucatdy cadsy osgiy itu Abuya bertanya di mana kampung nya penulis jawab di batusangkar Abuya ..oh di batusangkar rajin rajin belajar ya penulis jawab insya Allah. Penulis baru di pondok tersebut maka Abuya bekumy kenal dengan penulis. Di saat penulis datang dengan orang tua ke Abuya di rumah, nasihat nasehat Abuya begitu banyak kepada penulis, Abuya berpesan sebelum kuliah besok ngaji dan tamat kan kelas tujuh dulu dan nasehat nasehat yang lainnya.
Dengan kesibukan penulis waktu sudah mulai belajar di man Lubuk Alung, kelas 1 man penulis Juga menjadi ketua osip di pondok pesantren maka hubungan penulis semangkin dekat dengan pengurus pondok pesantren tersebut. Jika ada acara penulis sering rapat dengan pengurus pondok pesantren. Di kelas dua man penulis juga menjadi ketua OSIS di man lubuk Alung. Yang paling berkesan oleh penulis di saat kelas tiga di man penulis minta izin untuk tidak masuk lokal di pondok pesantren dan meminta juga masih tinggal di pondok pesantren sebab sebagian teman sudah banyak yang di kelas tiga tidak tinggal di pondok pesantren. Teman teman melarang penulis untuk menghadap ke Buya karena pasti marah jika masih tinggal di pondujy tidak masuk lokal. Namun penulis berusaha juga menemui Abuya. Disini dapat juga pembelajaran bagi penulis begitu banyak yang melarang untuk pergi ke Abuya namun penulis nekat juga.b setelah bertemu dengan Buya menceritakan kondisi penulis bahwa akan tetap tinggal di asrama namun tidak masuk lokal karena menghadapi ujian akhir di man, Abuya tidak marah dan tidak melarang juga tinggal di asrama. Nasehat nasehat beliau juga begitu banyak waktu itu. Maka penulis sudah pulang dari Abuya banyak yang bertanya apa kata Buya maka penulis menceritakan semua yang di sampaikan Buya dan membolehkan tinggal di asrama. Semua orang heran biasanya orang yang tinggal di asrama wajib' masuk lokal.
Begitu banyak kenangan yang baik dengan Abuya syekh muda Ali Imran Hasan ini beliau pendiri Pondok pesantren Nurul Yaqin ringan ringan pakandangan sehingga hari ini sudah ada 17 cabang nya di Sumatra barat. Penulis berani mengatakan bahwa banyak tauladan yang penulis dapat dari beliau baik secara beliau yang menyampaikan dan dari sikap suri tauladan beliau. Seperti penulis pernah membawa beliau dengan sepeda roda tiga pergi Jumat dan penulis juga pernah menemani beliau ke pasar Dan ziarah ke makam SYEKH BURHANUDDIN. Semoga semua amal ibadah beliau di terima Allah semua dosa beliau di ampun NYA aamiin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
