AKU ISENG !
Cerpen:
Awalnya aku hanya iseng. Aku membuka Facebook, lalu mulai mengobrol lewat chat dengan seseorang yang ternyata sudah lama memperhatikan aku. Ia memulai dengan basa-basi, “O ya, aku ndak kenal kamu ya,” padahal ia sudah lama melihat profilku.
Obrolan kami mengalir. Ternyata orangnya asyik, santun, dan tidak sembarangan main HP. Dia selalu membalas chat dengan waktu yang pas, tidak tergesa-gesa. Aku jadi penasaran. Aku pun melihat profil Facebook-nya. Banyak tulisannya bagus-bagus, kata-katanya teratur dan berisi. Ketika kutanya dia tamat sekolah apa, dia menjawab, “SMA.” Aku tidak percaya—tulisan dan caranya bicara seperti orang yang pintar dan berpendidikan tinggi.
Lama kelamaan kami semakin akrab. Setiap malam aku selalu memberi kabar, dan dia juga begitu. Bahkan, dia pernah mengajariku cara membuat roti! Aku pun pernah mengajaknya datang ke rumah. Walaupun aku sudah berkeluarga, aku menganggap dia hanya sebagai teman… awalnya.
Namun, sesuatu berubah.
Dia mulai sulit dihubungi. Balasan chat-nya mulai jarang. Padahal aku selalu menunggu. Aku sempat menulis kalimat iseng, “Ajari aku melupakanmu dengan kata-kataku.” Ternyata dia menjawab, dan berkata bahwa dia bahagia denganku. Aku pun menjawab begitu juga. Kami semakin dekat. Siang malam kami saling menyemangati. Bahkan aku pernah berkata padanya, “Biar aku yang antarkan nasi besok untukmu bekerja.”
Rasa saling butuh itu makin kuat. Sampai suatu malam, dia berkata jujur:
“Aku mau kamu. Ceraikan suamimu. Aku yang akan menggantikan.”
Aku terkejut. Hatiku gemetar. Aku tak tahu harus menjawab apa.
Setelah itu, kata-kata cinta dan sayang terus ia ucapkan. Ia mulai meminta sesuatu yang membuatku makin bingung dan takut: ia memintaku menyediakan pakaian dalam, sabun, dan handuk untuknya. Ia berkata,
“Kalau kamu mencintaiku, besok kamu siapkan itu untukku.”
Hatiku gelisah. Aku berkata, “Bagaimana kita ketemu dulu?” Tapi ia terus mendesak. Aku tak mau… aku takut… aku bingung…
Lalu… tanpa penjelasan…
Dia memblokirku.
Semuanya hilang. Hanya tersisa sepi, luka, dan tanda tanya di hati. Namun tak lama, blokir itu dibuka kembali. Ia kembali menelponku, dengan suara yang begitu kukenal.
“Ayo kita bertemu. Ada banjir bandang, aku ingin cerita langsung.”
Suara di seberang sana membuat jantungku berdetak lebih cepat. Hari itu Senin, dan aku hanya bisa menjawab dengan hati yang gelisah.
“Aku takut… bagaimana kalau nanti kamu memaksaku menikahimu? Bagaimana dengan suamiku?”
Dia terdiam, lalu nada marahnya muncul. Sejurus kemudian, aku kembali diblokir. Dadaku sesak. Aku merasa bersalah. Tapi beberapa hari kemudian, ia kembali menyapaku dengan ramah.
“Apa kabar?”
Aku menjawab singkat, “Baik.”
Kami pun kembali berbalas chat. Aku tahu ia kini menjual bahan elektronik di Facebook. Aku sempat menggodanya, “Dulu rotinya laris manis, sekarang barang elektroniknya.”
Sampai suatu ketika, ia tahu di rumahku tak ada televisi. Dengan antusias ia menawarkan, “Biar aku yang pasang antenanya.” Bahkan ia memintaku melakukan video call untuk melihat lokasi pemasangan. Tapi aku diam saja, menahan diri. Suamiku tidak tahu apa-apa, dan aku tak ingin semakin dalam terjebak.
Hubungan kami tetap berlanjut. Kadang obrolan hangat, kadang ia kembali menunjukkan rasa inginnya padaku. Hingga suatu hari, di Hari Guru, aku sedang berada di sekolah ketika ponselku berdering.
“Sayang, aku rindu…” suaranya terdengar mesra.
Aku menarik napas panjang. “Tidak mungkin. Aku punya suami. Dan suamiku tidak bersalah apa-apa. Tak mungkin aku meninggalkannya.”
Tapi ia terus merayu. Telepon itu berlangsung lama—lebih dari satu jam. Berkali-kali ia mencoba menembus hatiku, berkali-kali pula aku menjawab dengan penegasan.
Aku sadar, kata-kata manis yang dulu pernah kuucapkan—“sayang”, “seandainya kita jadi suami istri”—telah memberinya harapan. Padahal, aku hanya mengatakannya karena tidak enak hati jika menolak. Aku ingin membuatnya senang. Tapi aku salah. Aku telah memberi janji semu, dan itu membuatnya berharap lebih.
Hari itu, percakapan panjang kami berakhir dengan keputusan yang berat. Aku mengatakan, “Maaf… aku tidak bisa menjadi istrimu. Walau kata-kata sudah terlanjur keluar, aku tetap milik suamiku.”
Sejak itu, aku sadar. Tidak semua kebaikan kita dianggap baik oleh orang lain. Ada kalanya kebaikan justru dimaknai berbeda. Dan tidak semua yang singgah harus dipelihara. Ada yang cukup datang sebentar, lalu pergi meninggalkan pelajaran.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
