6 CARA MENGHILANGKAN KEMISKINAN
Hutang hanya dianjurkan untuk kebutuhan mendesak (darurat), bukan untuk gaya hidup. Hutang yang tidak produktif membuat seseorang sulit keluar dari kemiskinan karena penghasilannya habis untuk membayar cicilan dan bunga.
Dasar Al-Qur’an:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)
Hadis Nabi:
Rasulullah SAW bersabda: “Jiwa seorang mukmin itu tergantung dengan hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. Tirmidzi)
Sejarah: Umar bin Khattab RA sangat hati-hati dalam berhutang. Ia hanya akan berhutang untuk kepentingan umat, bukan untuk kebutuhan pribadi. Bahkan beliau menganjurkan umat Islam untuk menghindari hutang yang tidak perlu karena bisa membuat seseorang hidup dalam kegelisahan.
2. Sisihkan Penghasilan untuk DitabungTabungan adalah bentuk ihtiyath (kehati-hatian) agar ketika ada kebutuhan mendesak, kita tidak terjerumus pada hutang. Islam mengajarkan perencanaan dan tidak menghabiskan semua harta.
Dasar Al-Qur’an:
“…dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)
Hadis Nabi:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari & Muslim) (Tangan di atas = memberi, Tangan di bawah = meminta. Menabung memudahkan kita berada di posisi memberi.)
Sejarah: Nabi Yusuf AS memberi teladan dengan menabung hasil panen selama 7 tahun masa subur untuk menghadapi 7 tahun masa paceklik. (Lihat QS. Yusuf: 47–48). Inilah contoh perencanaan keuangan jangka panjang dalam Islam.
3. Kurangi Makan di LuarMakan di luar biasanya lebih mahal daripada memasak sendiri, apalagi jika dilakukan terlalu sering. Selain boros, bisa mengurangi keberkahan harta.
Dasar Al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Hadis Nabi:
“Makanlah bersama-sama dan janganlah makan sendiri-sendiri, karena makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang.” (HR. Ibnu Majah) (Hadits ini mengajarkan kebersamaan dan penghematan.)
Sejarah: Rasulullah SAW hidup sangat sederhana, sering makan hanya dengan kurma dan air putih. Ketika mendapatkan makanan yang lebih baik, beliau tetap secukupnya dan berbagi dengan sahabat.
4. Belanja Sesuai Kebutuhan, Bukan KeinginanMenahan diri dari belanja konsumtif menjaga harta dari pemborosan. Kebutuhan (hajah) berbeda dengan keinginan (raghbah).
Dasar Al-Qur’an:
“…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan…” (QS. Al-Isra: 26-27)
Hadis Nabi:
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa kesombongan dan tanpa berlebih-lebihan.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah)
Sejarah: Umar bin Abdul Aziz (khalifah Bani Umayyah) dikenal hidup sangat sederhana. Beliau memadamkan lampu minyak negara jika urusan pribadi, supaya tidak menghabiskan harta umat secara sia-sia. Ini contoh disiplin membedakan kebutuhan pribadi dan publik.
5. Catat Pengeluaran dan PemasukanMencatat keuangan membantu kita mengontrol arus uang, tahu ke mana harta pergi, dan mencegah kebocoran finansial.
Dasar Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (QS. Al-Baqarah: 282)
Ayat ini adalah dalil pencatatan transaksi – bisa juga diterapkan dalam pencatatan pribadi agar lebih teratur.
Sejarah: Rasulullah SAW ketika menjadi pedagang selalu mencatat transaksi dan menjaga kejujuran. Sahabat-sahabat juga diajarkan untuk teliti dalam urusan harta.
6. Banyak Memberi dan BersedekahSedekah adalah cara spiritual mengundang keberkahan. Meskipun secara matematis mengurangi harta, secara spiritual Allah melipatgandakan gantinya.
Dasar Al-Qur’an:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Hadis Nabi:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Sejarah: Abu Bakar RA adalah sahabat yang dikenal paling dermawan. Pada saat perang Tabuk, ia menginfakkan seluruh hartanya untuk Islam. Nabi mendoakan keberkahan baginya, dan Allah mengganti dengan rezeki yang lebih baik.
KesimpulanKeenam cara ini saling melengkapi:
Menghindari hutang → mengurangi beban.
Menabung & mencatat → menjaga perencanaan.
Menghemat belanja & makan di luar → mengurangi pemborosan.
Bersedekah → menambah keberkahan harta.
Jika dijalankan bersama, insyaAllah seseorang akan jauh dari kemiskinan, baik secara materi maupun spiritual.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
