BERSIHKAN DIRI
Tulisan ini kami tulis bukan untuk menggurui para pendai atau kiyai atau orang pendakwah tapi hanya sekedar memberikan inforamsi karena banyak nya rintihan hati jamaah mengatakan bahwa ilmu yang didapatkan disaat mendengarkan dakwah ceramah atau tausiah jarang yang masuk untuk perubahan hanya sekedar mendengar dilokasi saja setelah itu tidak teringat lagi apalagi untuk mengerjakannya, untuk itu boleh jadi kita melihat diri kita sebagai pendakwah, apakah kekeliruan tersebut terdapat dalam diri kita. ...
Dalam Islam, menyampaikan kebenaran adalah kewajiban, namun ia harus diiringi dengan kebersihan jiwa, keikhlasan, dan keteladanan. Banyaknya pesan dakwah yang tidak sampai ke hati jamaah seringkali bukan karena isi pesannya salah, tetapi karena ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan sang penyampai pesan. Allah menegur keras orang yang menyuruh kebaikan tapi tidak melakukannya, sebab hal itu dapat menjadi penghalang turunnya hidayah bagi pendengar.
Mengamalkan Sebelum MenyampaikanAllah memerintahkan agar setiap pendakwah, guru, dan penyeru kebaikan mengamalkan dahulu apa yang ia sampaikan. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَكَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. As-Shaff: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa keteladanan lebih kuat dari sekadar kata-kata. Jika seorang guru atau ustadz tidak mempraktikkan ilmunya, maka pesan dakwah bisa kehilangan pengaruh. yang kita sampaikan terkadang tidak sanggup kita melakukannya padahal itu tidak berat sekali sebagai contoh melaksanakan sholat jamaah setiap waktu, atau sholat subuh berjamaah di lokasi kita setiap paginya kita bisa melaksanakannya apalagi orang lain yang tak pernah menyampaikan pesan dakwah dia melaksanakanya dengan rutin namun terkadang kita tidak saggup melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan beribu alasannya. ini harus menjadi renungan diri kita kenapa kita berani menyampaikan dakwah ditengah tengah umat padahal ibadah subuh kita saja tidak terlaksanakan, jangan jangan kita yang masuk neraka duluan dari jamaah kita sebab kita mengetahui dan menyampaikan kepada umat tapi kita tidak melaksanaknnya.
Ilmu yang Diamalkan Membawa KetenanganIlmu yang tidak diamalkan justru menjadi hujjah (argumen) yang memberatkan pelakunya di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
العِلْمُ شَجَرَةٌ، وَالعَمَلُ ثَمَرَتُهُ، وَلَيْسَ يَنْفَعُ عِلْمٌ بِلَا عَمَلٍ، كَمَا لَا يَنْفَعُ شَجَرٌ بِلَا ثَمَرٍ
“Ilmu itu laksana pohon, dan amal perbuatan adalah buahnya. Ilmu tanpa amal tidak bermanfaat, sebagaimana pohon tanpa buah tidak berguna.”(HR. Ad-Dailami)
Hadis ini mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan amal, bukan hanya menjadi hiasan lisan. Seorang pendakwah yang mengamalkan ilmunya akan memiliki wibawa spiritual yang membuat dakwahnya menembus hati pendengar. sayang hari ini banyak ilmu hanya penghisan lisan saja waktu menyampaikan luar biasa bahkan sampai menangis seakan akan benar benar kejadian sehingga jamaah banyak yang terpesona cuman sayang hanya dimimbar saja setelah turun apa yang disampaikan tidak dikerjakan ... bukan banyak
Larangan Menjadikan Ilmu Sebagai Alat Mencari Dunia
Nabi ﷺ memperingatkan keras orang yang menjadikan dakwah atau ilmu sebagai sarana mencari keuntungan dunia, apalagi sampai berbohong demi mendapatkan harta atau pujian:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Barangsiapa mempelajari ilmu agama yang seharusnya untuk mencari ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi peringatan agar para penyampai ilmu tidak menjadikan dakwah sebagai komoditas semata, melainkan murni sebagai ibadah.
Menjadi Panutan di LingkunganDakwah yang berhasil adalah dakwah yang ditopang oleh akhlak dan keteladanan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)
Artinya, seorang penyampai ilmu harus menjaga akhlaknya agar menjadi contoh hidup. Keteladanan lebih kuat pengaruhnya dibandingkan nasihat lisan.
inilah pesan rasulullah yang sangat relevan dengan pembersihan diri kita, pernah rasul mengatakan bahwa calon penghuni sorga tersebut bukan orang taat bukan seorang alim tinggi ilmunya tapi tanyakan saja kepada teman dekatnya tetangganya saudaranya atau karib kerabatnya jika semua orang ini mengatakan dia baik maka dia sudah terbuka pintu sorga baginya. ini adalah persolaan akhlak atau buah daripada ibadah yang kita laksanakan. banyak ibadah tapi tidak ada implementasinya di lanagan maka ibadah tersebut tidak berpengaruh kepada kita.
Dampak Jika Tidak Membersihkan DiriOrang yang berbicara tetapi tidak melaksanakan akan mendapatkan ancaman yang berat di akhirat. Nabi ﷺ bersabda:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ فِي الرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka. Ususnya terburai dan ia berputar-putar seperti keledai yang berputar di penggilingan. Penduduk neraka berkata: ‘Wahai fulan, bukankah engkau dulu memerintahkan kami kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Ia menjawab: ‘Dulu aku memerintahkan kalian kebaikan tetapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari kemungkaran tetapi aku justru melakukannya.’”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa besarnya azab bagi yang menyuruh orang lain berbuat baik tetapi tidak mengamalkannya.
Membersihkan diri sebelum menyampaikan ilmu adalah syarat utama keberhasilan dakwah. Seorang guru, ustadz, atau penceramah harus:
Mengamalkan ilmu yang disampaikan.
Menyampaikan dengan hati yang ikhlas dan niat karena Allah.
Tidak menjadikan dakwah sebagai alat mencari dunia.
Menjadi teladan akhlak yang baik di tengah masyarakat.
Dengan demikian, pesan dakwah akan lebih mudah diterima, menggetarkan hati, dan membawa perubahan yang nyata.
Keteladanan adalah bahasa dakwah yang paling universal dan paling menyentuh hati manusia. kita usahakan apa yang kita sampaikan tersebut sudah kita kuasai shahir dan bathin ( kita mengusai ilmunya dan mengamalkannya ) jangan harapkan perubahan datang dari langit seperti turun embun diwaktu pagi jika kita tidak merobah pandangan hidup kita.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
