YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Cerita di Ujung Sore

Cerita di Ujung Sore

Cerpen Jalan Pulang Menuju Tenang

Malam itu rumah megah milik Fahri tampak sunyi. Lampu gantung kristal berkilauan, mobil mewah terparkir rapi di garasi, namun di dalam kamar utama, seorang lelaki tampak gelisah.

Ia duduk di tepi ranjang, matanya merah, dadanya sesak. Istrinya, Nadia, menatap dengan khawatir.

“Abang kenapa lagi? Sudah beberapa malam begini terus. Rumah ada, mobil ada, anak-anak sehat. Apa yang kurang, Bang?” tanya Nadia lembut.

Fahri mengusap wajahnya. “Entahlah, Di… hati ini tidak pernah tenang. Setiap kali tidur, terasa ada yang menekan. Aku iri dengan orang-orang yang bisa tidur nyenyak walau hidup pas-pasan.”

Nadia menarik napas panjang. “Mungkin abang terlalu capek kerja. Coba banyak ibadah, banyak dzikir.”

Fahri terdiam. Hatinya makin gundah.

Keesokan harinya, Fahri memberanikan diri menemui Ustaz Hasan, seorang guru agama di kampung yang dikenal bijak.

Setelah saling bersalaman, Fahri langsung mengadu. “Ustaz, saya tidak tahu kenapa hati saya tidak tenang. Hidup saya cukup, usaha maju, tapi batin saya selalu gelisah.”

Ustaz Hasan menatap tajam namun penuh kasih. “Nak Fahri, coba jujur, dari mana asal pekerjaanmu?”

Fahri menunduk, suaranya bergetar. “Saya… dulu dapat posisi ini dengan sogokan, ustaz. Semua orang bilang itu biasa. Tapi… apakah itu salah?”

Ustaz tersenyum getir. “Itu bukan biasa, itu dosa. Itulah asal kegelisahanmu. Hati tidak akan damai selama kau hidup dari yang haram. Tinggalkan pekerjaan itu, cari rezeki yang bersih.”

Fahri cepat-cepat menggeleng. “Tapi ustaz… kalau saya berhenti, anak-istri saya makan apa? Saya takut mereka sengsara.”

Ustaz Hasan menepuk bahunya. “Kalau engkau yakin pada Allah, jangan takut. Dia Maha Pemberi Rezeki. Namun kalau hatimu belum siap, perbanyaklah ibadah.”

Fahri pun mencoba. Ia shalat tepat waktu, tahajud tiap malam, dzikir panjang. Namun setiap kali berdiri di hadapan Allah, hatinya kosong.

Suatu malam ia kembali menemui Ustaz Hasan. “Ustaz, saya sudah beribadah. Tapi tetap tidak khusyuk. Apa salah saya?”

Ustaz menatapnya dalam. “Makananmu, Nak. Apa yang masuk ke tubuhmu dari harta haram akan menghalangi kekhusyukan. Shalatmu hampa, dzikirmu kosong.”

Fahri menunduk. Air matanya menetes. “Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Bersedekahlah, bantu orang miskin, ringankan beban sesama. InsyaAllah hatimu akan lembut.”

Fahri mulai rajin bersedekah. Ia menyantuni yatim, membantu masjid, memberi makan fakir miskin. Namun anehnya, hatinya tetap gundah. Ia pulang ke rumah, tetap resah.

Yang lebih aneh, usaha dan hartanya justru makin bertambah. Rumah makin megah, kendaraan bertambah. Namun malam-malamnya tetap kering.

Nadia sering menangis melihat suaminya. “Bang, kenapa Allah beri kita banyak rezeki tapi abang tidak bahagia? Apa salah kita?”

Fahri hanya menggeleng, tak mampu menjawab.

Hingga suatu malam, ia mendengar ceramah Ustaz Hasan di masjid. Suaranya bergetar menembus hati jamaah.

“Saudaraku, kalau hati kita tidak tenang, jangan hanya mencari kesalahan dalam ibadah. Lihat juga hubungan kita dengan sesama. Bersihkan rumah tangga kita, perbaiki hubungan dengan tetangga, dengan lingkungan. Kalau tetanggamu ridha padamu, kalau masyarakat menganggapmu baik, maka insyaAllah surga dekat denganmu.”

Fahri tertegun. Kata-kata itu menusuk kalbunya. Ia merasa selama ini hanya sibuk mengejar ibadah pribadi, tapi lupa memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Esoknya, Fahri memulai langkah baru. Ia menyapa tetangga yang selama ini jarang ia tegur. Ia membantu memperbaiki jalan kampung, ikut gotong royong membersihkan masjid.

Suatu kali, tetangganya sakit, Fahri yang pertama datang membawa obat. Ketika ada anak yatim yang butuh biaya sekolah, Fahri turun tangan.

Lama-kelamaan, masyarakat melihat perubahan itu. “Fahri sekarang orangnya baik. Tidak sombong lagi. Banyak membantu orang,” begitu kata orang-orang.

Dan yang paling berharga, hatinya mulai menemukan kedamaian. Shalatnya perlahan terasa hidup, dzikirnya basah oleh air mata, tidurnya pulas.

Suatu malam, Nadia mendapati suaminya tersenyum dalam tidur. Ia heran, lalu membangunkannya pelan. “Bang, kenapa abang tersenyum?”

Fahri membuka mata, menatap istrinya dengan tatapan hangat. “Karena untuk pertama kalinya, Di… hati ini tenang. Aku sadar, tenang itu bukan karena banyaknya harta, bukan juga karena ibadah yang hampa. Tapi karena kita hidup baik dengan sesama, hingga Allah ridha pada kita.”

Nadia ikut tersenyum, lalu menangis haru. Malam itu, rumah megah itu akhirnya benar-benar terasa hangat—bukan oleh lampu kristal yang berkilauan, melainkan oleh ketenangan hati yang selama ini hilang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post