'Tidak Sia-Sia Amalku yang Lalu
Tidak Sia-Sia Amalku yang Lalu”
Renungan Seorang Penuntut Ilmu di Usia Lima Puluh Tahun
Waktu berjalan begitu cepat.Usia sudah di atas kepala lima, uban mulai menyapa, langkah tak lagi sekuat dulu,namun hati ini masih ingin terus belajar — mencari ridha Allah di setiap hela nafas.
Aku pernah beribadah dengan penuh keyakinan sebagaimana diajarkan oleh para guru di pesantren.Aku membaca usalli dengan khusyuk, aku qunut subuh setiap pagi, aku mendengar gema tahlil dan manaqib,dan semua itu menenangkan hatiku.
Namun waktu membawa aku bertemu dengan sahabat-sahabat baru.Di sana aku belajar tentang cara lain beribadah — berbeda, tapi tetap bersumber dari Qur’an dan Sunnah.Aku mulai memahami dalil-dalil Muhammadiyah sebagaimana dahulu aku mendalami mazhab Syafi’i.Timbul tanya dalam hati:
“Apakah dengan aku berubah cara, amalanku dulu sia-sia?Apakah semua sujud dan air mataku di sepertiga malam yang lalu tak lagi bernilai?”
Tapi kemudian aku membaca firman Allah:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman (amal) kalian.”(QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini turun ketika para sahabat bingung,shalat mereka dahulu menghadap Baitul Maqdis — kini diarahkan ke Ka‘bah.Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan shalat-shalat kami yang dulu?”Maka Allah menenangkan mereka:
“Tidak akan Aku sia-siakan iman kalian.”
Aku pun tersenyum lirih…Ternyata, Allah tidak melihat ke arah mana aku menghadap, tapi ke mana hatiku tertuju.
Aku teringat pula sabda Nabi ﷺ:
إنما الأعمال بالنيات“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dulu aku beramal dengan niat mencari ridha Allah.Sekarang aku pun masih beramal untuk tujuan yang sama.Bagaimana mungkin Allah yang Maha Adil membatalkan amalan yang tulus hanya karena perbedaan cara?
Tidak, amalanku tidak hilang.Qunutku dulu berpahala, meski kini aku meninggalkannya.Usalliku dulu diterima, meski kini aku cukup berniat di hati.Karena Allah tahu — semua itu aku lakukan bukan untuk kelompok, tapi untuk-Nya.
Aku sadar, berubah karena ilmu bukan berarti tidak istiqamah.Bahkan Imam Syafi’i, guru yang aku cintai, pun pernah berubah pendapat dari qaul qadim ke qaul jadid.Beliau berkata:
“Aku tidak meninggalkan guruku, tapi aku mengikuti kebenaran yang lebih jelas bagiku.”
Maka aku pun berbisik kepada diriku sendiri:
“Engkau tidak meninggalkan NU, engkau tidak berpaling dari pesantren,engkau hanya melanjutkan perjalanan ilmu — mencari wajah Allah yang satu.”
Kini aku paham, perbedaan bukanlah pertentangan,tapi cabang dari pohon besar yang sama: Islam rahmatan lil ‘alamin.NU, Muhammadiyah, Perti, Persis — semuanya hanyalah cabang yang meneduhkan umat.Akar mereka sama: Al-Qur’an dan Sunnah.
Buya Hamka pernah berkata:
“Yang penting bukan caramu bersedekap, tapi apakah hatimu tunduk kepada Allah.”
Dan KH. Hasyim Asy’ari menegaskan:
“Perbedaan fiqih jangan menjadi perpecahan, karena semuanya bersumber dari Rasulullah ﷺ.”
Betapa indahnya dua tokoh besar ini — satu dari Muhammadiyah, satu dari NU —tapi hatinya bertemu dalam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kini aku ingin belajar tanpa takut ditertawakan.Jika ada yang berkata, “Kau sudah berubah,”aku akan menjawab dengan tenang,
“Ya, aku berubah — bukan karena aku ragu, tapi karena aku ingin lebih mengenal Tuhanku.”
Jika ada yang berkata, “Ilmu NU tidak membuatmu tenang ya?”Aku akan tersenyum dan menjawab,
“Ilmu NU yang dulu membuatku mencintai ilmu.Dan ilmu Muhammadiyah kini membuatku lebih bijak memandang perbedaan.Keduanya membawaku mendekat kepada Allah.”
Usia boleh bertambah, tapi semangat mencari kebenaran tak boleh padam.Karena kata Imam Al-Ghazali:
“Barang siapa berhenti belajar di usia tua, maka ia telah menutup pintu rahmat sebelum waktunya.”
Dan KH. Maimoen Zubair pernah berpesan lembut kepada santri-santrinya:
“Jangan takut ditertawakan manusia jika Allah tahu niatmu suci.”
Maka aku berjanji dalam hati —aku akan tetap menuntut ilmu,akan tetap beramal,dan tidak akan menyesali apa pun yang telah kulakukan.Sebab aku yakin, semua sujudku, qunutku, dzikirku, dan air mataku di masa lalu,telah ditulis di sisi Allah sebagai amal yang ikhlas.
Ya Allah...Jika dulu aku beramal dengan pengetahuan yang sedikit,dan kini Engkau tambahkan sedikit cahaya lagi,maka jangan hapuskan pahala yang dulu telah Kau tulis.
Ya Allah...Jadikanlah perubahan ini bukan tanda berpaling,tetapi tanda kedewasaan dalam memahami rahmat-Mu yang luas.
Ya Allah...Satukanlah hatiku dengan saudara-saudaraku,biarlah lidah kami berbeda, tapi arah sujud kami tetap satu — menuju-Mu.
“Tidak sia-sia amal yang dilakukan dengan cinta kepada Allah.”Karena Allah tidak melihat dari mana aku datang,tapi ke mana aku menuju.Dan aku —masih menuju kepada-Nya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
