BELUM PUAS....
Di sebuah kampung kecil yang tenang, hiduplah seorang laki-laki bernama Rahmat. Ia bekerja sebagai karyawan honorer di sebuah kantor desa. Gajinya pas-pasan, sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun Rahmat adalah sosok yang rajin dan taat pada atasannya. Ia pun berharap suatu saat bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Suatu hari, pemerintah mengeluarkan sebuah program bantuan bagi para pegawai honorer. Atas bantuan pimpinannya, Rahmat mendapatkannya. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, cukup untuk meringankan beban hidupnya. Tapi bukannya bersyukur, Rahmat berkata lirih, "Ah, kalau dibandingkan dengan orang lain, bantuan ini masih terlalu kecil..."
Hari-hari berlalu. Rahmat mendengar kabar bahwa pemerintah juga memberikan sertifikat keahlian kepada para pegawai tertentu — sebuah pengakuan resmi yang dapat membuka peluang kenaikan gaji. Lagi-lagi, ia meminta pimpinan untuk membantunya. Rahmat pun mendapatkannya.
"Alhamdulillah, akhirnya saya dapat juga sertifikat itu," gumamnya. Tapi beberapa hari kemudian ia melihat tetangganya yang juga honorer, telah mendapatkan uang sertifikasi dan tambahan tunjangan. Dia pun gelisah lagi.
"Kenapa saya belum dapat tunjangan sertifikasi seperti mereka?" tanyanya dalam hati.
Setelah berusaha keras, Rahmat pun memperoleh tunjangan itu. Ia semakin naik pangkat, memiliki surat keputusan (SK) dari pemerintah, dan gajinya pun bertambah. Namun sekali lagi, hatinya belum damai.
"Aku sudah dapat SK sebagai pegawai tetap, tapi... aku tidak punya jaminan pensiun seperti ASN. Masih kurang," keluhnya kepada istrinya.
Sang istri hanya diam, menatap suaminya yang hatinya terus gelisah, tak pernah puas meski hidup sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hari berganti hari, usia Rahmat terus bertambah. Ia mengakhiri masa kerjanya dengan keluhan, bukan kenangan syukur. Hingga akhirnya, ajal menjemput tanpa memberi kesempatan lagi.
Di pemakaman yang sunyi, beberapa orang yang mengenalnya berkata, "Rahmat orang yang rajin, tapi selalu merasa kurang. Sepertinya dia baru merasa puas setelah masuk ke dalam kubur..."
Dalam satu kesempatan, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketamakan manusia tak akan pernah selesai:
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)." — HR. Bukhari dan Muslim
Sambil berdiri di antara nisan yang baru ditutup, seorang sahabat Rahmat menghela napas panjang dan berkata lirih, "Benarlah, dunia ini hanya singgah. Yang tak pernah merasa cukup saat hidup, tak akan tenang sebelum dikembalikan pada tanah."
Pesan Moral Kehidupan dunia akan terasa sempit bagi hati yang tak pernah puas, meski rezeki terus bertambah. Syukur adalah kunci kelapangan. Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an:
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu..." — QS. Ibrahim: 7
Semoga kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur, memahami bahwa kenikmatan dan ketenangan sejati bukan terletak pada banyaknya harta atau kedudukan—melainkan pada hati yang qana’ah, benar-benar merasa cukup dengan karunia Allah.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
