Gerimis di Jalan Kantor, Kenangan di Jalan Kebun
Pagi itu gerimis turun ketika aku dalam perjalanan menuju kantor. Rintik kecil di jaketku tiba-tiba menarik ingatanku jauh ke masa lalu—masa ketika aku sering menemani orang tuaku menderes karet demi biaya sekolah dan kuliahku.
Saat kuliah, uang semester, uang kos, hingga uang jajan bukanlah hal yang mudah. Aku mengikuti langkah orang tuaku ke kebun, memegang pisau deres, belajar dari keringat mereka. Dan yang paling kuingat adalah masa setelah aku tamat kuliah namun belum bekerja. Setiap pagi, aku tetap menemani ibuku ke kebun, karena aku tahu—betapa beratnya mereka mencari uang untuk kami.
Ibu selalu bangun sebelum matahari muncul. Jam enam pagi kami sudah berjalan kaki menuju kebun, hampir tujuh kilometer jauhnya. Kadang dingin menusuk, kadang gerimis menyertai, tapi kami tetap melangkah berdua. Dalam perjalanan, ibu tak pernah membiarkan suasana terasa berat. Ia menasihatiku dengan kata-kata lembut:
“Kerja dulu nak… semoga besok hidupmu tidak seperti ibu.”
Sesampai di kebun, kami berbagi tugas. Ibu selalu mengambil bagian yang tersulit—pendakian terjal, batang yang licin, jalan yang tajam. Aku mendapat bagian yang lebih mudah. Aku sering merasa malu, tapi begitulah kasih ibu: ia ingin aku kuat tanpa harus terluka.
Saat menderes, ibu kerap memanggilku, memastikan aku tidak jatuh. Setelah selesai, kami pulang kembali berjalan kaki, membawa kayu bakar dan sedikit bahan makanan untuk dimasak di rumah. Hasil deres kadang cukup, kadang tidak. Kadang hujan membuat getah tak terkumpul. Tapi ibu selalu berkata:
“Biarkan sedikit… yang penting halal.”
Dari perjalanan itu aku belajar—bahwa cinta ibu bukan hanya dari pelukan, tapi dari keringat, dari rasa cemas, dari doa yang tak bersuara.
Dan pagi ini, ketika aku menuju kantor hanya dengan hujan gerimis dan mengendarai motor, aku merenung dalam hati:
Beginilah aku mencari nafkah untuk anak-anakku yang sedang kuliah. Dulu orang tuaku berjalan masuk rimba, keluar rimba… dan kini aku berdiri di sini karena perjuangan mereka.
Luar biasa kerja orang tua dulu. Luar biasa kasih mereka. Dan jika hari ini aku bisa bekerja, bisa berteduh, bisa menghidupi keluarga—itu karena mereka pernah berjalan di bawah hujan, dalam dingin, di jalan tanah yang panjang… demi aku.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
