Hati yang Tetap Mengajar Kenangan Hari Guru dalam Perjalanan 25 Tahun
Tahun 2001 menjadi tahun bersejarah dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku resmi mengajar dan memegang amanah sebagai seorang guru. Sejak hari pertama memasuki ruang kelas, aku merasakan hidupku menemukan arah baru. Setiap senyum murid, setiap tanya yang polos, dan setiap keberhasilan kecil mereka membuatku jatuh cinta pada dunia pendidikan. Enam tahun lamanya aku mengabdi di tingkat SMP hingga akhirnya melanjutkan pengabdian ke tingkat SLTA. Perjalanan itu menghadirkan begitu banyak kenangan, tawa, haru, dan pelajaran berharga.
Salah satu momen paling indah adalah setiap kali tiba Hari Guru. Murid-murid datang dengan ucapan selamat, memberikan bunga, hadiah sederhana, atau sekadar senyuman hangat. Tapi bagiku, penghargaan terpenting bukanlah benda—melainkan perhatian, cinta, dan rasa hormat dari anak-anak didik. Di hari itu, aku selalu merasa menjadi guru paling bahagia di dunia.
Delapan tahun setelahnya, takdir Allah membawaku menjadi kepala sekolah. Amanah baru ini jauh lebih menantang, namun juga memberi ruang lebih luas untuk membangun suasana pendidikan yang terbaik. Hari Guru menjadi semakin meriah. Aku dan para guru lainnya menyusun acara bersama siswa: ada pentas seni, penghargaan guru teladan, hingga penyerahan sertifikat kepada santri, siswa, dan guru. Kenangan-kenangan itu masih sangat membekas—tawa bersama, kehangatan keluarga besar sekolah, dan rasa haru yang selalu muncul saat melihat dedikasi para guru.
Namun, delapan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2025, perjalanan hidup kembali berubah. Aku harus meninggalkan dunia sekolah dan pindah tugas ke kantor KUA. Sebuah amanah baru, lingkungan baru, dan tanggung jawab yang berbeda. Untuk pertama kalinya setelah 25 tahun, aku tidak lagi bisa merayakan Hari Guru bersama murid-murid dan rekan sejawat seperti biasanya. Ada rasa hampa yang tak bisa disembunyikan, ada kerinduan yang sulit dijelaskan.
Meski begitu, satu hal yang tidak pernah berubah: jiwa guru itu tetap hidup dalam diriku. Walaupun sekarang aku hanya mengajar setiap hari Sabtu, rasa sebagai seorang guru tidak pernah hilang. Mengajar bukan sekadar pekerjaan—mengajar adalah napas, adalah cinta, adalah pengabdian.
Tahun ini, meskipun tidak lagi berdiri di depan kelas setiap hari, aku tetap mengucapkan Selamat Hari Guru kepada seluruh guru di mana pun berada. Karena bagiku, guru adalah cahaya yang tidak pernah padam. Aku bangga pernah menjadi bagian dari barisan orang-orang mulia itu selama 25 tahun, dan aku akan selalu merasa bangga.
Terima kasih kepada semua murid yang pernah kutemani, semua guru yang pernah berjalan bersamaku, dan semua kepala sekolah yang pernah membimbingku. Perjalanan ini mungkin berubah arah, tapi cinta dan pengabdian sebagai guru akan selalu hidup, selamanya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
