YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Allah Menegur Dengan Cara yang Lembut

Ketika Allah Menegur Dengan Cara yang Lembut

Jumat itu menjadi hari yang tidak pernah akan kulupakan. Pagi-pagi aku mendatangi Bank BPD untuk mengambil uang, namun sebuah kejadian kecil membuat hatiku terasa runtuh. Aku dituduh oleh seseorang telah melanggar antrian—padahal demi Allah aku tidak pernah berniat mengambil nomor antrian orang lain. Suara tuduhan itu menusuk perasaanku. Aku hanya diam, menahan malu. Selesai urusan di bank, hatiku masih terasa tidak enak, seakan ada beban yang terbawa pulang.

Malam harinya, mataku tiba-tiba gatal. Aku garuk sedikit, tak kusangka esok pagi bangun dalam keadaan bengkak di bawah mata. Aku lihat cermin, dan aku hanya bisa menghela napas: “Beginikah cara Allah menegurku?”

Seperti biasa, pagi itu kami masak dan sarapan bertiga. Anak gadis berangkat duluan, sedangkan aku dan istriku pergi bersama. Anak bujang kami sedang kuliah pascasarjana di UIN, jadi rumah terasa lebih sepi tanpa dirinya.

Sesampainya di kantor KUA, bengkak di mataku semakin besar. Teman-teman mulai menggoda, “Lah, Cina datang pagi-pagi!” katanya. Aku hanya tertawa. Mereka pun bercerita macam-macam, ada yang bilang pakai garam hangat, ada yang bilang pakai singlet panas, ada yang menyuruh langsung ke puskesmas saja. Karena makin tidak nyaman, aku meminta izin kepada Pak KUA.

Beliau berkata dengan lembut: “Pergilah cepat berobat, jangan sampai jadi penyakit lain.” Aku pun pamit dan menuju puskesmas.

Sampai di puskesmas, aku ambil nomor antrian—nomor 6. Datang jam 8 pagi, tapi nomor 3 pun belum dipanggil. Ternyata ada masalah jaringan BPJS. Aku sabar saja, meski hati mulai gelisah karena orang-orang yang baru datang justru dipanggil duluan. Di saat itulah aku tersentak:

“Bukankah begini perasaan orang yang melihatku seolah-olah mendahului antrian di Bank BPD kemarin?”

Allah seperti sedang memperlihatkan cermin kepadaku.

Nama aku akhirnya dipanggil. Petugas itu tersenyum karena dia mengenal baik diriku sejak aku masih memimpin pondok di Thawalib. Bahkan saat masuk ke ruang dokter, suasananya seperti bertemu saudara. Dokternya kenal aku, aku pun kenal mereka. Pemeriksaannya penuh candaan, penuh kehangatan. Begitulah indahnya ketika kita saling mengenal dan menjaga silaturahmi—bukan karena jabatan, bukan karena harta, tapi karena hubungan manusia yang tulus.

Hasil pemeriksaan: aku hanya alergi dingin. Diberikan obat, tensi pun seperti biasa: agak tinggi. Dokter menyarankan agar aku banyak olahraga dan menjaga makanan.

Dalam perjalanan pulang, aku banyak merenung. Mungkin Allah ingin aku merasakan bagaimana rasa tidak enaknya ketika dianggap mengambil hak orang lain. Mungkin Allah ingin aku belajar untuk tidak su’uzan, tidak buru-buru menilai, dan tidak terlalu memikirkan pandangan orang.

Aku menengadahkan hati: “Ya Rabbi, jika aku bersalah, ampunilah aku. Jika Engkau ingin mengajariku, aku menerimanya. Jadikan aku hamba yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih lapang hati.”

Dan pada hari itu aku benar-benar memahami: teguran Allah tidak selalu berupa musibah besar—kadang hanyalah rasa gatal di mata, antrian yang tertunda, dan hati yang disadarkan dalam diam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post