YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KETIKA DOA TELAH DIKABULKAN , JANGAN BIARKAN SYUKUR KABUR'

KETIKA DOA TELAH DIKABULKAN , JANGAN BIARKAN SYUKUR KABUR'

Ada seorang hamba Allah. Dahulu, sebelum ia mendapatkan pekerjaannya sekarang, ia berdoa setiap hari. Ia berharap, “Ya Allah, seandainya saja aku bisa bekerja di tempat itu… seandainya setiap bulan rekeningku berbunyi dengan gaji jutaan seperti mereka… aku akan rela memberikan waktuku, tenagaku, bahkan umurku untuk pekerjaan itu.”

Ia melihat teman dekatnya bekerja bertahun-tahun di sana. Ia membayangkan betapa bahagianya jika suatu hari ia bisa berada di posisi yang sama. Saat itu ia masih honorer, gajinya tak sampai seperempat dari gaji pegawai. Namun ia tetap bersabar dan berdoa, sambil terus bekerja dengan rajin, mengikuti setiap kegiatan, tidak pernah pulang sebelum waktunya. Semua ia lakukan demi menunjukkan bahwa ia pantas menjadi pegawai tetap.

Lalu takdir berubah. Pemerintah membuka tes, semua yang terdata bisa ikut. Ia mendaftar, ia belajar, dan dengan izin Allah… ia lulus. Doanya terkabul. Ia pun mendapat gaji bahkan lebih tinggi dari teman-temannya dahulu.

Namun pelan-pelan, sesuatu mulai berubah. Semangat yang dulu membara kini mulai padam. Kedisiplinan yang dulu menjadi kebanggaannya kini mulai longgar. Ia mulai datang sesuka hati, pulang sesuka hati, dan mencari seribu alasan untuk mengurangi tanggung jawab.

Padahal setiap bulan, rezeki yang dulu hanya menjadi angan kini masuk ke rekeningnya melebihi dari yang pernah ia inginkan.

Sahabatku, jika engkau memiliki sifat seperti ini — berhentilah sejenak, mari kita renungkan.

Lihatlah petani yang bekerja dari pagi hingga matahari terbenam. Lihatlah kuli bangunan, nelayan, pedagang, pembantu rumah tangga yang bekerja dari jam 7 pagi hingga 5 sore. Upah mereka kadang tidak sampai seratus lima puluh ribu per hari. Mereka bekerja dengan keringat, tenaga, dan seluruh fisiknya.

Sementara kita? Kita duduk di kantor, melayani masyarakat, kadang bisa istirahat, bisa duduk, bahkan bisa tidur saat tidak ada orang. Jam kerja kita tetap, tugas kita ringan, tapi mengapa justru kita yang sering mencari alasan pulang cepat, datang terlambat, atau tidak disiplin?

Cobalah renungkan… Uang yang kita makan itu halal kah? Sudah sepadan belum antara gaji yang kita terima dengan jam kerja yang kita berikan? Jangan sampai Allah mengambil rezeki kita dengan cara yang tidak kita duga, hanya karena kita tidak bersyukur setelah doa kita dikabulkan-Nya.

Ingatlah janji kita dulu… Janji yang kita ucapkan dalam hati: “Jika aku diterima, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak akan mengecewakan, dan akan menjaga amanah.”

Janji itu Allah dengarkan. Janji itu Allah kabulkan. Maka jangan kita sendiri yang menghancurkan berkahnya.

Marilah kita jaga kantor kita bersama-sama. Datang sesuai waktu, pulang sesuai aturan, bekerja dengan hati, melayani dengan ihsan. Walaupun atasan tidak menegur, Allah tetap melihat. Dan tidak ada amal sekecil apa pun yang luput dari penilaian-Nya.

Semoga kita menjadi hamba yang tetap bersyukur setelah doa kita dikabulkan, bukan hamba yang lupa diri setelah diberi nikmat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post