YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'RENUNGAN KEBAHAGIAN DIMALAM TAHUN BARU '

'RENUNGAN KEBAHAGIAN DIMALAM TAHUN BARU '

Empat Sikap Rasulullah ﷺ yang Menjaga Kebahagiaan Batin

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a., beliau berkata:

“Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku: ‘Ah!’ dan tidak pernah bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ atau ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik r.a. adalah sahabat yang hidup bersama Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun penuh, dari bangun tidur hingga berbagai aktivitas harian beliau. Ia mengenal Rasulullah ﷺ bukan hanya sebagai Nabi, tetapi sebagai manusia agung dalam keseharian. Dari kebersamaan itulah, tercatat akhlak-akhlak Rasulullah ﷺ yang menjadi kunci ketenangan dan kebahagiaan batin.

Para ulama tasawuf menyimpulkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki empat “senjata batin” yang menjaga hati beliau tetap lapang, tenang, dan bahagia.

1. Tidak Sibuk Mengomentari Pekerjaan Orang Lain

Rasulullah ﷺ tidak pernah mempertanyakan apa yang sedang dikerjakan orang lain, apalagi menilai dengan prasangka:

Tidak bertanya: “Apa yang kamu kerjakan?”

Tidak mengomentari: “Seharusnya begini…”

Tidak menggurui dengan nada merendahkan

Beliau menjaga mata dan hati dari penyakit merasa paling benar.

    Orang yang terlalu sibuk menyalahkan pekerjaan orang lain sering kali lupa memperbaiki dirinya sendiri. Ia melihat ketidaksempurnaan orang lain, tetapi buta terhadap kekurangannya sendiri. Dalam tasawuf, ini disebut ghaflah (kelalaian hati).

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

Perbaiki hatimu, bukan sibuk mengadili amal orang lain.

2. Tidak Memaksa Orang Melakukan Sesuatu

Rasulullah ﷺ tidak pernah berkata:

“Kenapa kamu tidak mengerjakan ini?”

“Kamu harus melakukan itu!”

Padahal beliau adalah Nabi, pemimpin, dan panutan. Namun beliau menghormati kondisi, kemampuan, dan proses setiap manusia.

    Orang yang terlalu sibuk mengatur urusan orang lain, sering kali lupa bahwa hidupnya sendiri belum tentu teratur. Ia ingin semua orang bergerak sesuai keinginannya, lalu kecewa ketika realitas tidak sejalan.

Tasawuf mengajarkan:

Hidayah bukan dipaksa, amal bukan diperintah dengan amarah.

3. Tidak Mengeluh atas Sesuatu yang Tidak Ada

Jika sesuatu tidak tersedia, Rasulullah ﷺ tidak berkata:

“Kenapa tidak ada?”

“Seandainya ada…” (dengan nada keluhan)

Beliau hanya berkata dengan lembut:

“Seandainya ada, tentu itu lebih baik.”

Tanpa keluhan. Tanpa keresahan.

   Sebaliknya, ada orang yang sangat tergantung pada satu hal atau satu benda. Jika itu tidak ada, ia tidak mau bergerak, tidak mau melanjutkan usaha, bahkan merasa hidupnya runtuh.

Dalam tasawuf, ketergantungan seperti ini disebut ta‘alluq bil asbāb (bergantung pada sebab), bukan kepada Allah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan:

Ketenangan bukan karena memiliki segalanya, tetapi karena ridha dengan apa yang ada.

4. Berserah Diri Saat Terjadi Perselisihan

Jika terjadi perbedaan atau sesuatu yang tidak sesuai harapan, Rasulullah ﷺ tidak larut dalam perdebatan. Beliau mengatakan:

“Ini telah ditentukan oleh Allah.”

Beliau tetap berusaha, tetapi tidak bertengkar demi memenangkan ego.

   Orang yang gemar berdebat sering mengira dirinya menang, padahal ketentuan Allah-lah yang tetap berlaku. Kemenangan sejati bukan menundukkan orang lain, tetapi menundukkan hawa nafsu.

Tasawuf mengajarkan:

Orang yang hatinya berserah, tidak membutuhkan kemenangan dalam perdebatan.

     Jalan Kebahagiaan Batin

Empat sikap Rasulullah ﷺ ini adalah jalan kebahagiaan batin:

Tidak sibuk mengomentari pekerjaan orang

Tidak memaksa orang lain

Tidak mengeluh atas yang tidak ada

Berserah diri pada ketentuan Allah

Barang siapa mengamalkan empat perkara ini, insyaAllah kebahagiaan akan datang dengan sendirinya — tanpa menghilangkan ikhtiar dan usaha.

Janganlah kita seperti wayang, yang ke mana saja diarahkan oleh dalangnya. Dan jangan pula seperti kertas, yang terbang ke mana saja ditiup angin.

Tetaplah berusaha, tetapi dengan hati yang tenang, yakin, dan bersandar kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bahagia bukan karena dunia tunduk kepada beliau, tetapi karena hati beliau tunduk kepada Allah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.....

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post