Benar Menurut Kita, Belum Tentu Salah Menurut Mereka Menyikapi Perbedaan Amaliah
''. IBADAH DENGAN ILMUNYA"..JANGAN SALING MENYALAHKAN ...
orang lain dianggap keliru. Sikap seperti ini kerap muncul dalam praktik ibadah sehari-hari di tengah masyarakat, seperti perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, antara Jamaah Syattariyah dan Naqsyabandiyah, antara PERTI dan NU, antara qunut dan tidak qunut, antara usalli dan tidak usalli, antara bacaan basmalah jahr atau sirr, jumlah rakaat tarawih, hingga perbedaan bacaan iftitah.
Perbedaan-perbedaan ini, jika tidak disikapi dengan ilmu dan kelapangan dada, dapat melahirkan rasa bangga berlebihan (ego kelompok) yang berujung pada saling menyalahkan, bahkan memecah ukhuwah Islamiyah.
Perlu ditegaskan, perbedaan dalam Islam bukan hal baru, melainkan sudah ada sejak generasi sahabat dan imam mazhab.
1. Sikap Para Imam MazhabImam Abu Hanifah berkata:
“هذا رأينا، وهو أحسن ما قدرنا عليه، فمن جاءنا بأحسن منه قبلناه” “Ini adalah pendapat kami, itulah yang terbaik menurut kemampuan kami. Siapa yang datang dengan pendapat yang lebih baik, kami menerimanya.”
Imam Malik ketika diminta Khalifah agar kitab Al-Muwaththa’ dijadikan standar tunggal umat Islam, beliau menolak dan berkata:
“Sesungguhnya para sahabat Rasulullah telah berpencar ke berbagai negeri, dan setiap kaum memiliki ilmu.”
Imam Syafi’i berkata:
“Pendapatku benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar.”
Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah mencela mazhab lain, bahkan shalat di belakang imam yang berbeda pendapat dengannya.
Intinya: Para imam mazhab saling menghormati, bukan saling menyalahkan.
Sikap Ulama MuhammadiyahKH. Ahmad Dahlan menekankan persatuan umat dan tidak fanatik buta. Bahkan dalam praktik, tokoh Muhammadiyah dikenal fleksibel secara sosial.
Dikisahkan:
Tokoh Muhammadiyah ketika menjadi imam di lingkungan NU, tetap membaca qunut Subuh demi menjaga kenyamanan jamaah.
Ini bukan inkonsistensi, tetapi kebijaksanaan dakwah.
Sikap Ulama NUKH. Hasyim Asy’ari menegaskan:
“Perbedaan dalam furu’iyah (cabang) adalah rahmat, selama tidak menyentuh pokok akidah.”
NU tidak pernah mengkafirkan atau menyesatkan amalan Muhammadiyah, karena sadar semuanya punya dasar dalil dan metode istinbath masing-masing.
Beberapa contoh nyata di masjid dan surau:
“Masjid ini tidak pakai basmalah jahr.”
“Masjid ini tidak qunut.”
“Di sini tidak pakai usalli.”
“Di sini tidak tahlilan.”
“Ustaz, di sini biasanya pakai qunut ya?”
“Kalau jadi imam, jangan baca bismillah keras-keras ya.”
Masalahnya bukan pada perbedaannya, tetapi pada cara menyikapinya. Ketika ustaz atau individu memaksakan kebiasaan pribadinya, jamaah bisa merasa tidak nyaman dan terasing di rumah Allah.
1. Perbedaan yang DIBOLEHKAN
Qunut atau tidak qunut
Tarawih 8 atau 20 rakaat
Basmalah jahr atau sirr
Usalli atau tidak
Tahlil atau tidak
Dzikir berjamaah atau sendiri
Semua ini punya dasar dalil dan pendapat ulama.
2. Hal yang TIDAK BOLEH DiubahShalat Subuh menjadi 4 rakaat
Puasa wajib diganti di luar Ramadhan
Menghalalkan yang jelas haram
Jika suatu amalan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis yang qath’i, serta tidak dilarang secara tegas, maka tidak layak disesatkan.
Ilmu sebelum beramal Ketahui dasar amalan kita dan pahami bahwa orang lain juga punya dasar.
Dakwah dengan hikmah Allah berfirman:
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik” (QS. An-Nahl: 125)
Ustaz harus peka sosial Jangan mempertahankan ego mazhab hingga jamaah tidak nyaman.
Masjid adalah rumah semua umat Bukan milik satu kelompok, ormas, atau mazhab.
Persatuan lebih utama dari menang debat Menjaga hati umat lebih penting daripada mempertahankan pendapat pribadi.
Perbedaan dalam Islam adalah sunnatullah. Ia bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipahami. Jika para imam mazhab, para sahabat, dan para ulama besar mampu saling menghormati, maka tidak pantas bagi kita—yang ilmunya jauh di bawah mereka—untuk mudah menyalahkan dan merendahkan amalan orang lain.
Mari beribadah dengan keyakinan, berdakwah dengan kebijaksanaan, dan hidup beragama dengan kasih sayang. .... perbedaan amalan tidak akan menjadikan permusuhana ... amalan yang akan menilai adalah Allah swt dan dapat kita lihat dari akhlak kehidupan sehari hari hari... jangan seperti batang pohon yang yang besar dan rimbuan dan kuat tapi tidak berbuah .....
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
