YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'BERGUNJING '

'BERGUNJING '

BAHAYANYA MENGGUNJING (GHIBAH): MEMAKAN DAGING SAUDARA SENDIRI

Ghibah atau menggunjing adalah salah satu dosa yang sangat besar dampaknya. Rasulullah SAW menggambarkan ghibah sebagai perbuatan “memakan daging saudara sendiri”—ungkapan yang menunjukkan betapa hina dan kejinya perbuatan tersebut. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentu kalian merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Suatu kisah diceritakan tentang seorang murid yang datang kepada gurunya. Ia mengeluh bahwa belakangan ini ia malas beribadah, baik ibadah sunnah maupun yang wajib. Gurunya kemudian “melihat” kondisi batinnya dan berkata, “Engkau telah memakan sesuatu sebesar tubuh seorang yang gemuk, dengan ciri-ciri begini dan begitu.” Seketika murid itu tersadar, “Itu adalah orang yang aku gunjingkan kemarin!” Gurunya menegaskan, “Benar. Jika apa yang engkau ucapkan itu benar, maka engkau telah memakan dagingnya. Jika tidak benar, engkau telah berdusta.”

Begitu dahsyatnya ghibah hingga ia dapat merusak hati, mematikan semangat ibadah, serta menggelapkan nurani seseorang.

Sering kali kita duduk dalam suatu majelis lalu tanpa sadar mulai membicarakan keburukan saudara sendiri. Obrolan itu awalnya sekadar candaan, lalu berkembang menjadi gunjingan yang membuka aib orang lain. Padahal setiap kalimat yang keluar tentang keburukan saudara kita adalah “dagingnya” yang kita makan secara batin.

Kita merasa ringan mengatakannya, padahal balasannya amat berat di sisi Allah. Ghibah bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga menghancurkan ukhuwah, menimbulkan prasangka, dan memutuskan hubungan persaudaraan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ghibah adalah engkau menyebut sesuatu dari saudaramu yang ia tidak suka. Jika yang engkau katakan itu benar, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak benar, maka engkau telah berdusta atasnya (buhtan).” (HR. Muslim)

Di zaman modern ini, ghibah telah mengambil banyak bentuk baru. Jika dulu ghibah terjadi dalam percakapan langsung, kini ia hadir melalui:

Grup WhatsApp dan media sosial

Percakapan telepon

Pesan pribadi

Komentar-komentar online

Status media sosial yang menyindir atau membuka aib orang lain

Setan membuka jalannya dari pintu yang paling kecil dan paling cepat: jari-jari kita sendiri.

Setiap ketikan yang berisi keburukan orang lain tercatat sebagai ghibah. Bahkan lebih berbahaya, sebab ghibah digital bisa tersebar luas, kopiannya tetap ada, dan dosanya berkelanjutan selama orang lain masih membacanya.

Ghibah adalah dosa besar yang dapat menghapuskan amal kebaikan, menggelapkan hati, dan merusak hubungan sesama manusia. Ia dilarang keras oleh Al-Qur’an dan diperjelas oleh hadis Nabi.

Menggunjing sama dengan memakan daging saudara sendiri—ungkapan yang menggambarkan kebiadaban moral yang sangat jijik bagi seorang mukmin.

Karena itu, mari menjaga lisan dan tulisan kita:

Tahan diri untuk tidak membicarakan keburukan orang lain

Alihkan obrolan kepada hal yang bermanfaat

Ingat bahwa setiap kata yang kita tulis atau ucapkan disaksikan malaikat

Jaga grup, telepon, dan percakapan digital dari ghibah

Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita dari perbuatan yang membinasakan ini. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post