YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CERITA FADLI DI GUNUNG MERAPI

CERITA FADLI DI GUNUNG MERAPI

Pada suatu hari, penulis pergi ke Rumah Sakit Umum Padang Panjang dengan tujuan melihat anak dari adik yang sedang sakit. Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan. Pagi itu kami berdua—penulis dan pujaan hati—berangkat dengan sepeda motor Honda. Tidak ada rencana sama sekali untuk pergi ke rumah sakit karena masing-masing sudah membayangkan aktivitas yang cukup padat.

Penulis sendiri sudah siap mengikuti kegiatan PKKM (Penilaian Kinerja Kepala Madrasah). Namun, sesampainya di sekolah, suasana berubah: ada yang mengawas ujian, ada yang melanjutkan pekerjaan, sedangkan penulis ternyata tidak memiliki agenda pasti karena PKKM dibatalkan. Ibu pengawas madrasah berhalangan hadir, sebab beliau ada kegiatan di Padang selama tiga hari.

Kesempatan itu dimanfaatkan penulis dan rekan-rekan untuk mengadakan rapat membahas kelanjutan proses pembelajaran. Maklum, kami baru saja menyelesaikan ujian semester pertama dan sedang merencanakan kegiatan class meeting.

Pagi itu pula, masuk pesan WhatsApp dari grup kecamatan. PK Camat Pariangan menuliskan imbauan agar kepala sekolah segera membagikan masker kepada siswa dan melarang siswa melakukan aktivitas di luar ruangan. Alasannya, Pariangan cukup dekat dengan Gunung Merapi yang baru saja erupsi beberapa hari sebelumnya.

Kami di sekolah langsung mengumpulkan seluruh wakil kepala dan guru untuk rapat darurat. Rapat lebih kurang berlangsung tiga puluh menit dan menghasilkan delapan kesepakatan penting. Salah satunya: sekolah diliburkan sementara, dan kegiatan class meeting tetap dilaksanakan tetapi melalui HP dari rumah, menggunakan TikTok atau media serupa, dikelola oleh waka kesiswaan dan OSIS.

Tak lama setelah rapat selesai, masuk pesan dari rumah. Keluarga menanyakan apakah kami bisa pergi ke rumah sakit untuk melihat anak adik yang dirawat. Karena kegiatan di sekolah sudah selesai dan PKKM tidak jadi, penulis menjawab bisa. Supaya lebih cepat, penulis menunggu di sekolah karena jalur menuju rumah sakit memang melintasi sekolah. Setelah itu, kami segera berangkat ke rumah sakit agar bisa tiba sebelum waktu besuk pukul satu siang.

Sesampainya di rumah sakit, kami melihat kondisi anak yang dirawat sambil berbincang dengan keluarga. Di sela-sela itu, ada seseorang mengatakan bahwa di rumah sakit ini juga ada korban erupsi Merapi yang dirawat, bernama Padli. Mendengar itu, kami langsung terkejut—terutama ibu guru yang mengenal Padli sebagai alumni SMP 3, tempat beliau mengajar. Tanpa menunggu lama, kami bergegas menuju ruang sebelah untuk melihat Padli.

Kesempatan ini penulis manfaatkan untuk mewawancarai Padli secara langsung. Hari itu, dokter sudah menyatakan bahwa Padli boleh pulang. Mendengar kabar itu, penulis semakin semangat berbincang panjang dengan Padli.

Padli adalah mahasiswa Politeknik Negeri Padang, jurusan Teknik Sipil. Ia berasal dari Lima Kaum, Batusangkar. Sebelumnya Padli sempat kuliah satu tahun di UIN Batusangkar sebelum pindah ke Politeknik. Ia alumni SMA Simabur dan SMP 3 Batusangkar. Dari tiga bersaudara, Padli adalah anak kedua.

Menurut pengakuannya, mendaki gunung sudah menjadi aktivitas yang cukup sering ia lakukan—sekitar dua belas kali. Pendakian ke-12 ini tidak direncanakan. Sehari sebelumnya, seorang temannya mengajak dengan mengatakan, “Besok kita naik gunung, ya.” Tanpa berpikir panjang, Padli menjawab, “Iya.”

Maka berangkatlah Padli bersama rombongan mahasiswa Politeknik sebanyak delapan belas orang. Mereka berangkat dari Padang pada hari Sabtu pukul delapan pagi dan tiba di puncak Gunung Marapi sekitar pukul satu dini hari.

Di puncak, kegiatan berlangsung seperti pendakian biasa. Rencana semula mereka turun pukul sembilan pagi hari Minggu. Namun, cuaca hujan menghalangi mereka. Akhirnya rombongan berteduh di puncak. Setelah hujan reda dan cuaca kembali cerah, mereka menikmati pemandangan di sekitar tugu Abel dan puncak Merpati.

Pukul dua siang, rombongan mulai bersiap turun. Sebagian teman masih berada di puncak Merpati, sementara kelompok Padli sudah lebih dekat ke tugu Abel—sekitar satu kilometer dari kawah. Mereka beristirahat sebentar di area itu.

Tiba-tiba terdengar letusan keras tanpa tanda apa pun. Semua terkejut dan panik. Dalam sekejap, awan hitam dan batu-batu besar berjatuhan. Enam orang, termasuk Padli, berlindung di bawah bebatuan. Mereka masih sadar, meski terkena batu panas dan awan panas. Mereka tak tahu nasib teman-teman lain—mungkin ada yang tertimpa batu atau terpapar abu panas.

Awan hitam pekat membuat mereka tidak bisa melihat apa pun. Hanya tangan yang bisa saling berpegangan. Padli merasakan sakit luar biasa pada tangan dan kakinya akibat batu panas yang menimpanya. Namun ia tetap menahan dan berusaha bertahan.

Dalam keadaan gelap dan mencekam itu, tiba-tiba ada sedikit cahaya. Salah satu teman masih memiliki HP yang menyala. Ia segera menghubungi PPDB—karena nomor tim penyelamat Gunung Marapi masih tersimpan di dalamnya. Alhamdulillah, panggilan dijawab. Tim penyelamat meminta rombongan mengirimkan foto lokasi untuk memastikan titik keberadaan mereka.

Mereka juga diminta bergerak perlahan turun agar lebih cepat ditemukan. Walau dalam kondisi luka bakar dan cedera, mereka berenam tetap berusaha turun perlahan sambil mendengarkan suara gemuruh gunung yang masih aktif.

Sekitar pukul delapan malam, tim penyelamat akhirnya tiba. Meski tanpa membawa obat lengkap, mereka segera mengevakuasi Padli dan rombongan menggunakan tandu. Perjalanan turun penuh rintangan. Setiap guncangan membuat rasa sakit tak tertahankan, namun Padli tetap bersyukur karena bisa diselamatkan. “Kalau tidak,” katanya, “mungkin kami juga sudah menjadi korban.”

Sekitar pukul lima subuh, mereka tiba di Rumah Sakit Umum Padang Panjang…

Begitulah cerita Padli.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post