'. KETIKA LINGKUNGAN MENGALAHKAN ILMU.'
Sering kita mengira bahwa ilmu yang kita miliki sudah cukup untuk membentengi diri. Namun kenyataan di lapangan kerap berkata lain. Lingkungan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding ilmu yang tersimpan dalam kepala. Pengalaman penulis ketika KKN di Desa Mudik Malih menjadi bukti nyata betapa kuatnya pengaruh lingkungan itu.
Sebagai ketua kelompok KKN, penulis melihat suasana desa yang damai, masyarakatnya ramah dan sopan. Namun ada satu hal yang sangat menggelitik: tidak ada warga yang shalat Subuh berjamaah di mushalla. Malam pertama, penulis dan anggota memutuskan tetap pergi shalat jamaah. Malam kedua dan ketiga juga begitu. Tetapi Subuh keempat, tanpa terasa, penulis dan tim ikut tertidur dan gagal pergi ke mushalla. Padahal sebagai mahasiswa agama, sebelumnya selalu berusaha menjaga Subuh berjamaah.
Ini menjadi pukulan keras: ternyata lingkungan bisa membuat orang yang terbiasa disiplin menjadi longgar.
Namun bukan berarti lingkungan tak dapat diperbaiki. Alhamdulillah, Mushalla tempat kami KKN itu akhirnya bisa kami tingkatkan statusnya menjadi Masjid, dan hingga hari ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah warga. Tapi pelajaran besarnya tetap sama: jika lingkungan tidak mendukung, kebiasaan baik pun dapat runtuh.
Dari cerita di atas, kita bisa merasakan bahwa kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Orang tua kita sering berkata:
“Jangan jadi tukang pancing di bawah tempat banyak ikan—lama-lama hanyut juga.”
Sebagus apa pun kebiasaan kita, bila setiap hari berada di lingkungan yang bermalas-malasan, tidak disiplin, atau tidak menghargai nilai agama, maka sedikit demi sedikit kita ikut terbawa arus. Bahkan ada orang yang sesungguhnya ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi karena lingkungannya lemah, ia hanya bisa pasrah dan akhirnya menyerah pada keadaan.
Sebaliknya, orang yang tadinya jarang shalat berjamaah, ketika pindah ke komplek yang disiplin berjamaah, lama-lama ia pun menjadi terbiasa. Karena itu, pepatah Arab berkata:
“Al-‘ādah muhakkamah” – Kebiasaan itu menentukan.”
Buya Hamka memberi pesan yang sangat indah:“Gunakanlah mata lebah, jangan mata lalat.”
Lebah selalu mencari bunga, mengambil yang baik, menghisap yang harum. Lalat sebaliknya, selalu mencari tempat kotor dan busuk. Begitulah manusia: apa yang ia cari, itulah yang ia dapat.
Jika lingkungan kita adalah ladang bunga—kumpul dengan orang baik, rajin ibadah, giat belajar—maka kebiasaan kita menjadi baik. Tetapi jika kita memilih lingkungan lalat—gosip, malas, penuh maksiat—maka tanpa sadar kita ikut menjadi seperti itu.
Dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:
“Seseorang tergantung agama (gaya hidup) teman dekatnya. Maka lihatlah siapa yang kamu jadikan teman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Inilah fondasi psikologi lingkungan dalam Islam.
Ilmuwan dan psikolog modern pun menguatkan hal ini.
Kurt Lewin, tokoh psikologi sosial dunia, mengatakan:
Perilaku = fungsi dari individu + lingkungan. Artinya, sebaik apa pun seseorang, ketika lingkungannya buruk, perilakunya ikut berubah.
Philip Zimbardo, dalam eksperimen Stanford-nya, membuktikan:
Bahkan orang baik bisa berubah buruk hanya karena kondisi lingkungan yang buruk.
James Clear (penulis buku Atomic Habits) menegaskan:
“Lingkungan adalah arsitek kebiasaan.” Jika ingin kebiasaan baik, bentuklah lingkungan yang mendukung.
Dengan demikian, pandangan Islam, ulama Nusantara, serta ilmuwan Barat bertemu pada satu titik: lingkungan adalah penentu utama karakter manusia.
Jangan mudah memilih teman, tempat kerja, dan lingkungan tempat tinggal. Karena lebih dari 80% kepribadian, karakter, dan kebiasaan kita dibentuk oleh lingkungan sehari-hari.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW:
“Lihatlah siapa temanmu.”
Sebab siapa yang kita dampingi hari ini, itulah arah hidup kita di masa depan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
