PERJALANAN BERBAGI DAN MENYUSURI KENANGAN LAMA DI MALALO
Pada Sabtu, 6 November 2025, rombongan Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau berangkat memberikan bantuan kemanusiaan kepada PP YASTU Malalo dan MTI Tarbiyah Padang Laweh Malalo. Pagi itu cuaca mendung membuat keberangkatan sempat tertunda, tetapi menjelang pukul 10.00 matahari kembali bersinar cerah. Setelah itu, saya berangkat ke Lima Kaum untuk menjemput sang bidadari yang juga ingin ikut serta. Kami sudah berjanji menunggu rombongan Pimpinan dan Kepala Madrasah di Batipuh, namun karena kekhawatiran tertinggal, kami sempat melewati rumah dan terus melaju hingga Pitalah. Ternyata pimpinan sudah sampai di rumah, sedangkan kami sudah jauh di depan. Akhirnya kami menunggu di Simpang Sumpur sampai rombongan Honda Thawalib terlihat dan kami pun melanjutkan perjalanan bersama melewati jembatan Sumpur yang sempat sedikit macet.
Setibanya di YASTU, banyak kenangan masa lalu datang bertubi-tubi. Saya pernah tiga tahun belajar di sini ketika bersekolah di MTs YASTU. Bangunan lama tempat saya menimba ilmu masih kokoh berdiri, tetapi beberapa lokal baru di sebelahnya tampak rusak akibat gelodoh. Halaman tempat kami bermain dulu rusak, warung kecil tempat kami berbelanja juga hancur, bahkan pohon ketaping—yang dahulu menjadi saksi bisu cinta monyet masa remaja—hilang terbawa arus. Banyak kisah indah di YASTU: berjalan kaki dari Taluk, belajar malam bersama, bercanda di halaman, hingga kegiatan mengelilingi danau yang penuh tawa dan persahabatan. Di tengah suasana haru mengenang masa lalu, kami disambut hangat oleh keluarga besar YASTU dan juga beberapa guru dari MTsN 17 yang turut hadir.
Setelah menyerahkan bantuan di YASTU, kami melanjutkan perjalanan ke MTI yang juga menerima dampak bencana meski bangunan pondoknya masih selamat. Lalu kami makan siang bersama di sebuah tempat dengan pemandangan indah. Karena tidak ada yang melayani di warung tersebut, para guru Thawalib turun tangan membagikan nasi, sambal, dan lauk sederhana. Suasana makan terasa hangat seperti keluarga besar: penuh cerita, canda, dan nostalgia masa-masa belajar dahulu. Setelah kenyang, kami berpisah dengan rombongan; sebagian melanjutkan perjalanan, sebagian lagi singgah menjenguk orang sakit. Saya dan bidadari memilih pulang ke rumah mertua, namun hujan deras membuat kami terkurung di sana hingga hampir magrib. Meski demikian, hari itu menjadi perjalanan penuh makna—perjalanan berbagi, bernostalgia, dan merasakan kembali hangatnya kebersamaan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
