YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

'CERITA TENTANG TIGA KUCING, CINTA, DAN PERGI TANPA PAMIT'

CERITA TENTANG TIGA KUCING, CINTA, DAN PERGI TANPA PAMIT

Di rumah kami, tak pernah ada rencana memelihara kucing. Semuanya terjadi begitu saja, seperti takdir yang datang diam-diam, lalu meninggalkan luka yang juga diam-diam.

Blu Blu: Datang Sebagai Bayi

Kucing pertama datang saat masih sangat kecil, mungkin baru berusia tiga minggu. Tubuhnya mungil, matanya masih polos memandang dunia. Kami memberinya nama Blu Blu. Awalnya aku kurang setuju memelihara kucing. Tapi hari demi hari, melihat caranya tidur, bermain, dan mengeong pelan saat lapar, hatiku mulai luluh.

Setiap siang, akulah yang selalu pulang ke rumah. Anak dan yang lain tidak. Maka akulah yang memberinya makan. Dari situlah ikatan itu tumbuh — tanpa disadari, Blu Blu bukan lagi sekadar kucing, tapi bagian dari rumah.

Momoy: Hadiah Persaudaraan

Beberapa waktu kemudian, anakku pergi berwisata ke Kepala Banda, Payakumbuh. Di sana, ia bertemu seorang anak sebaya. Mereka akrab, seperti saudara lama yang baru bertemu. Anak itu ikut mampir ke rumah, dan dari pertemuan sederhana penuh kehangatan itulah kami diberi seekor kucing berusia tiga bulan. Kami menamainya Momoy.

Awalnya Blu Blu dan Momoy sulit bersatu. Tapi waktu mengajarkan mereka cara berbagi. Blu Blu yang lebih besar selalu mengalah. Momoy yang kecil tumbuh menjadi adik yang manja. Mereka seperti ibu dan anak, atau kakak dan adik — saling memahami tanpa kata.

Si Kecil Ketiga: Datang Karena Kasihan

Suatu hari, anakku membawa pulang seekor kucing lagi. Sangat kecil. Terlalu kecil. Aku menolak. Aku menyuruhnya mengembalikan kucing itu ke induknya.

Anakku beralasan, “Dia datang sendiri ke rumah, papa.” Aku tetap ngotot.

Belakangan baru aku tahu, kucing itu sebenarnya ditemukan di jalan. Anakku kasihan. Ia ingin menyelamatkannya, sampai rela berdusta sedikit. Dan akhirnya… aku luluh. Kucing ketiga itu kami terima.

Bintang yang Terlalu Terang

Kucing kecil itu luar biasa. Cantik, agresif, penuh energi. Semua mata tertuju padanya. Tanpa sadar, Blu Blu dan Momoy mulai tersisih.

Suatu hari, karena terlalu aktif, kucing kecil itu dimasukkan ke kamar mandi agar tenang. Beberapa jam kemudian aku sendiri yang membukakan pintu. Tapi sejak hari itu… ia berubah.

Ia menghilang. Empat hari tak pulang.

Hari keempat, terdengar kabar dari rumah sebelah: kucing itu ditemukan lemas, tubuhnya dingin, tak mau makan. Anak dan istriku merawatnya dengan penuh cinta. Tidur di dekatnya. Menjaganya malam demi malam.

Aku membeli susu dan obat kucing. Aku paksa ia minum. Sedikit mau, lalu tidak lagi. Kami bukan dokter hewan. Kami hanya manusia yang mencoba menyelamatkan nyawa kecil dengan kemampuan seadanya.

Enam hari ia melawan sakit. Dua hari kami berjuang bersamanya. Dan akhirnya… ajal menjemput.

Kami bertiga melepasnya dengan air mata. Saat itu aku baru benar-benar paham: binatang juga punya perasaan. Binatang juga bisa trauma. Binatang juga bisa patah hati.

Momoy dan Blu Blu Setelah Kepergian

Tinggallah dua kucing: Momoy dan Blu Blu.

Momoy berubah menjadi kucing petualang. Ia sering keluar, punya banyak “teman lelaki”. Datang siang dan malam. Seperti kucing yang sedang jatuh cinta. Blu Blu berbeda. Ia penakut. Tidak suka keluar. Rumah adalah dunianya.

Namun entah apa yang terjadi… Blu Blu berhenti makan. Tidak mau dipegang. Tidak lagi ceria.

Kami tak tahu penyebabnya. Apakah karena makanan berganti? Ataukah karena kehilangan?

Pergi untuk Tidak Menyusahkan

Saat sakit, Blu Blu justru memilih pergi. Dua hari ia tidak pulang. Padahal sebelumnya, ia tak pernah tidur di luar rumah.

Suatu sore, ia menampakkan diri. Tubuhnya lemah. Datanglah Momoy. Dengan penuh semangat ia bermain, seolah ingin menghibur. Tapi Blu Blu hanya diam.

Di sana kami melihat sesuatu yang menyayat hati: Momoy tahu Blu Blu sakit. Tatapannya berbeda. Sedih. Diam.

Hari itu adalah pertemuan terakhir yang begitu mengharukan.

Muncul Lagi, Lalu Hilang

Hari ketiga, anakku melihat Blu Blu tidur di depan rumah tetangga. Ia dibawa pulang. Diberi susu. Dan Blu Blu mau minum. Kami lega. Ia masih hidup.

Malam itu ia tidur di dalam kardus. Pagi harinya, kardus kosong. Blu Blu pindah ke tempat tidur, seolah sudah punya tenaga.

Kami sibuk. Ia tidur di bawah kulkas. Satu jam kemudian… Blu Blu hilang.

Tidak ada suara. Tidak ada jejak. Tidak ada pamit.

Bersambung…

Mungkin Blu Blu pergi untuk tidak merepotkan kami. Mungkin ia memilih tempat sunyi untuk mengakhiri hidupnya. Atau mungkin… ia masih hidup, berjalan pelan, membawa kenangan rumah yang pernah mencintainya.

Yang pasti, rumah ini tak lagi sama. Dan kami belajar satu hal yang sangat mahal harganya:

Cinta tidak selalu datang dengan rencana. Dan perpisahan tidak selalu memberi kesempatan untuk mengucap selamat tinggal.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post