YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
''LIMA SENJATA AJAIB REZKI....

''LIMA SENJATA AJAIB REZKI....

Lima Kaitan Rezeki dengan Perbuatan Kita

Rezeki tidak berpintu, tetapi ia tidak turun begitu saja dari langit.

Rezeki itu laksana embun di waktu subuh. Ia turun dengan lembut, penuh keberkahan. Namun embun itu bisa saja tidak sampai ke tanah, terhalang oleh daun yang kering, oleh atap yang bocor, atau oleh debu yang menutup jalan turunnya. Begitulah rezeki. Allah telah menakar, tetapi perbuatan kitalah yang sering menjadi penghalangnya.

Buya Hamka pernah menulis, “Allah tidak pernah zalim kepada hamba-Nya, tetapi sering kali hamba itulah yang menutup pintu kebaikan untuk dirinya sendiri.”

Maka bila rezeki terasa sempit, mari kita bercermin. Ada lima hal besar yang sering menjadi penghalang turunnya rezeki.

1. Rezeki Sulit Datang karena Shalat Diabaikan

Banyak orang berkata, “Saya sudah bekerja mati-matian, tapi rezeki tetap sulit.” Namun jarang yang jujur bertanya, “Bagaimana shalatku selama ini?”

Ada yang meninggalkan shalat demi kerja, ada yang shalat sekadar menggugurkan kewajiban, bahkan ada yang mengejar rezeki hingga lupa kepada Pemberi Rezeki.

Allah berfirman:

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Thaha: 132)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Para sahabat sangat memahami ini. Abdullah bin Mas‘ud r.a. berkata:

“Barang siapa ingin bertemu Allah besok sebagai Muslim, maka jagalah shalat-shalat ini.”

Shalat bukan penghalang rezeki. Shalat adalah pembuka jalan rezeki. Jika shalat rusak, jangan heran bila rezeki terasa berat.

2. Rezeki Sempit karena Hubungan dengan Orang Tua Rusak

Ada orang yang hidup nyaman: tidur di kasur empuk, makan makanan enak, jalan-jalan setiap minggu. Namun orang tuanya tidur di tikar usang, makan seadanya, dan jarang sekali diperhatikan.

Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat sahabat, Uwais Al-Qarni—seorang tabi‘in yang sangat berbakti kepada ibunya—tidak terkenal di bumi, tetapi namanya dikenal di langit. Doanya mustajab, rezekinya cukup, hidupnya penuh keberkahan.

Buya Hamka berkata, “Air mata ibu yang terabaikan bisa menjadi sebab tertutupnya rahmat Allah.”

Jika rezeki terasa sempit, datangilah orang tua, genggam tangannya, bahagiakan hatinya. Di situlah letak rezeki yang sering kita cari jauh-jauh.

3. Rezeki Seakan Diambil Orang karena Istri Tidak Dimuliakan

Ada orang berkata: “Hampir dapat proyek, tapi diambil orang.” “Sudah di depan mata, tapi gagal.”

Bisa jadi Allah sedang menegur: bagaimana sikap kita kepada istri?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku adalah yang paling baik kepada istriku.” (HR. Tirmidzi)

Istri bukan sekadar pendamping hidup. Istri adalah pembuka atau penutup keberkahan rezeki.

Ada kisah sahabat Abdurrahman bin Auf r.a.—seorang saudagar kaya. Ia sangat memuliakan istrinya, lembut, penuh senyum, dan tidak pelit. Hartanya tidak pernah habis, bahkan makin bertambah.

Buya Hamka menulis, “Rumah tangga yang penuh kasih adalah ladang rezeki yang tidak pernah kering.”

Hati-hati wahai para suami: Jika engkau membahagiakan istrimu, Allah akan membahagiakan hidupmu. Jika engkau menyakiti istrimu, rezekimu bisa disempitkan tanpa engkau sadari.

4. Rezeki Terasa Jauh karena Sedekah Terlupakan

Ada yang sudah ke sana ke mari: ganti usaha, ganti pekerjaan, ganti strategi—namun rezeki tetap jauh.

Allah berfirman:

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Utsman bin Affan r.a. menyedekahkan sumur Raumah, membeli dengan hartanya sendiri lalu diwakafkan. Allah melapangkan rezekinya, namanya harum hingga hari ini.

Sedekah tidak harus besar. Seribu, dua ribu setiap hari, membantu orang, meringankan beban—itulah kunci rezeki yang sering diremehkan.

Buya Hamka berkata, “Tangan yang memberi tidak pernah miskin.”

5. Rezeki Cepat Datang, Cepat Pergi karena Silaturahmi Terputus

Ada yang rezekinya banyak, tapi cepat habis. Tidak berkah, tidak meninggalkan bekas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi dengan keluarga, dunsanak, sanak famili, dan tetangga adalah penyangga keberkahan.

Buya Hamka menulis, “Harta tanpa silaturahmi ibarat air di telapak tangan; sebentar ada, sebentar hilang.”

Jika rezeki cepat pergi, periksa hubungan kita dengan orang-orang terdekat.

Rezeki memang tidak berpintu, tetapi ia bisa terhalang oleh shalat yang lalai, orang tua yang terabaikan, istri yang tersakiti, sedekah yang dilupakan, dan silaturahmi yang terputus.

Mari perbaiki diri, maka Allah akan memperbaiki hidup kita.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3 )

"rezki tidak bisa kita atur bahkan kita rencana namun rezki bisa hilang dan datang tiba tiba saja, ini lah kekuasaan allah yang maha kuasa. rezki bukan yang dilihat di mata zahir saja namun rezki banyak yang tak terlihat oleh mata zahir hanya mata batin yang melihatnya namun terkadang mata bathin kita terkadang tertutup oleh debu debu yang mengelilinginya .. maka sadarlah kita hanya berusaha dan berdoa .... "

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post