YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KEWAJIBAN MENCARI NAFKAH YANG HALAL DAN BAIK

KEWAJIBAN MENCARI NAFKAH YANG HALAL DAN BAIK

Dalam kehidupan berkeluarga, seorang suami dan istri memikul amanah besar. Amanah itu bukan hanya membesarkan anak, tetapi juga memastikan bahwa setiap suap makanan yang masuk ke dalam tubuh anak-anak berasal dari rezeki yang halal dan baik.

Karena sesungguhnya, makanan yang dimakan anak-anak kita bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi memengaruhi pertumbuhan jasmani, kecerdasan otak, serta kebersihan hati mereka. Dari rezeki yang halal lahir generasi yang kuat iman dan akhlaknya. Sebaliknya, dari rezeki yang syubhat apalagi haram, lahir kegelisahan hidup dan rusaknya keberkahan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat ini bukan hanya perintah makan halal, tetapi perintah mencari yang halal sebelum dimakan.

Kisah Ibrah tentang Rezeki yang Tidak Jelas

Diceritakan dalam sebuah riwayat, ada seorang syeikh yang diberikan kelebihan oleh Allah untuk merasakan hakikat sesuatu. Suatu hari seseorang datang membawa sedekah kepadanya. Anehnya, sang syeikh menolak pemberian itu, padahal sedekah orang lain biasa ia terima.

Orang tersebut pulang dengan hati gelisah. Ia merenung dan meneliti kembali asal hartanya. Ia berpikir berulang-ulang hingga akhirnya teringat: dahulu ia menanam pohon kelapa yang bibitnya diambil dari batang yang hanyut di depan rumahnya tanpa mengetahui siapa pemiliknya.

Kelapa itu tumbuh, berbuah, lalu dijual. Dari situlah uang sedekah tadi berasal.

Maka ia sadar — sesuatu yang tampak kecil, namun tidak jelas kepemilikannya, ternyata memengaruhi keberkahan harta.

Jika satu pohon kelapa saja bermasalah, bagaimana dengan harta yang diperoleh melalui cara curang, manipulasi, atau kezaliman?

Kisah Imam Syafi’i dan Hafalannya

Imam besar, Imam Syafi’i, pernah mengadu kepada gurunya tentang hafalannya yang melemah. Gurunya menasihati:

“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

Para ulama menjelaskan, salah satu sebab tertutupnya ilmu adalah makanan dan rezeki yang tidak terjaga kehalalannya.

Artinya, keberkahan hidup, kecerdasan, bahkan kemudahan memahami ilmu sangat berkaitan dengan apa yang kita makan dan dari mana asalnya.

Lima Syarat Mencari Nafkah yang Halal dan Baik

Agar usaha kita bernilai ibadah dan membawa keberkahan bagi keluarga, Islam memberikan beberapa ketentuan.

1. Rezeki Diperoleh dengan Cara yang Halal

Allah berfirman:

“Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisa: 29)

Artinya pekerjaan tidak boleh mengandung penipuan, riba, korupsi, suap, atau kezaliman. Harta yang halal mungkin sedikit, tetapi menenangkan hati.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)

2. Tidak Merugikan atau Menyakiti Orang Lain

Rezeki yang baik tidak dibangun di atas penderitaan orang lain.

Pedagang yang jujur, pekerja yang amanah, dan pemimpin yang adil termasuk pencari nafkah yang diridhai Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi dan orang saleh.” (HR. Tirmidzi)

3. Dikerjakan dengan Niat Ibadah

Bekerja bukan sekadar mencari uang, tetapi menjalankan perintah Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Maka seorang ayah yang berkeringat demi anaknya sejatinya sedang beribadah.

4. Menjauhi yang Syubhat (Meragukan)

Tidak semua yang halal itu jelas. Ada perkara samar.

Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kadang keberkahan hilang bukan karena haram, tetapi karena kita meremehkan yang meragukan.

5. Digunakan pada Jalan yang Baik dan Benar

Harta halal pun bisa menjadi sia-sia jika digunakan untuk maksiat.

Allah berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Rezeki yang baik harus mendidik anak menjadi saleh, bukan menjerumuskan mereka pada kemewahan tanpa iman.

Hadirin yang dirahmati Allah…

Seorang ayah mungkin pulang dengan tubuh lelah, pakaian basah oleh keringat. Namun bila nafkah itu halal, maka setiap tetes keringatnya berubah menjadi pahala.

Ingatlah, anak-anak kita bukan hanya tumbuh dari makanan, tetapi dari keberkahan rezeki orang tuanya.

Jangan sampai kita meninggalkan harta banyak, tetapi meninggalkan dosa yang panjang. Lebih baik rezeki sedikit namun halal, daripada melimpah tetapi mengundang murka Allah.

Semoga Allah menjadikan pekerjaan kita ibadah, rezeki kita halal, keluarga kita penuh keberkahan, dan anak-anak kita menjadi generasi saleh penyejuk mata.

Amin ya Rabbal ‘alamin

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post