YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
'Menjaga Lidah dan Anggota Badan Jalan Menuju Puasa yang Berbuah Takwa'

'Menjaga Lidah dan Anggota Badan Jalan Menuju Puasa yang Berbuah Takwa'

Allah ﷻ telah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā” Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Al-Qur'an, Surah Asy-Syams: 8)

Di dalam diri setiap manusia telah ditanamkan dua kecenderungan: fujur (kejahatan) dan takwa (ketaatan). Tinggal kita yang memilih, ke mana arah hati akan melangkah. Terlebih di bulan suci Ramadan, bulan penyucian jiwa, bulan latihan kesabaran, bulan di mana amal dilipatgandakan.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah pendidikan ruhani. Jika lapar saja yang kita tahan, tetapi lidah, mata, dan hati kita masih liar, maka puasa hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.

Agar puasa kita bersih dan berbuah takwa, sekurangnya ada lima perkara yang mesti kita jaga.

1. Ghibah — Lidah yang Gemar Menggunjing

Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain ketika ia tidak hadir di hadapan kita. Walaupun yang kita katakan itu benar, tetaplah ia ghibah. Apalagi jika ditambah-tambah dan diada-adakan, maka itu sudah menjadi fitnah.

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan tentang ghibah. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika yang kami katakan itu benar?” Beliau menjawab, “Jika benar, itulah ghibah. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya.”

Betapa mudah lidah ini menyebut aib orang lain. Seakan-akan ringan, padahal pahala puasa kita tergerus sedikit demi sedikit. Laksana kayu yang dimakan rayap dari dalam, tampak utuh di luar, namun rapuh di dalam.

Orang yang menjaga lidahnya, sejatinya sedang menjaga pahala puasanya.

2. Namimah — Mengadu Domba yang Menghanguskan Persaudaraan

Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya. Ia bukan sekadar bercerita, tetapi membawa api permusuhan.

Enaknya bergunjing sering berakhir dengan pahitnya permusuhan. Seseorang berkata, “Si Fulan berkata begini tentang engkau.” Padahal maksudnya belum tentu seperti yang disampaikan. Namun karena kita menjadi “pembawa bensin”, api pun menyala.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”

Bayangkan, hanya karena lidah yang tidak dijaga, tali persaudaraan putus, hati menjadi panas, dan pahala puasa pun terancam hangus.

3. Dusta — Bohong yang Memakan Pahala

Berdusta adalah mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, baik dalam perkara kecil maupun besar.

Orang tasawuf sangat berhati-hati terhadap dusta, bahkan terhadap isyarat dan candaan yang berpotensi menipu. Sebab mereka tahu, kebohongan adalah noda bagi hati.

Orang Arab pernah berkata:

“Jika pedang melukai tubuh, masih ada harapan sembuh. Tetapi jika lidah melukai hati, ke mana obat hendak dicari?”

Ada sebuah kisah di masa Rasulullah ﷺ. Seusai salat Subuh, beliau menyebut seseorang sebagai ahli surga. Para sahabat pun penasaran, apakah ibadahnya luar biasa? Ternyata setelah diamati, ibadahnya biasa saja. Namun ia tidak pernah menyakiti hati orang lain dengan lisannya.

Betapa besar nilai menjaga lidah.

4. Menjaga Pandangan — Mata yang Berpuasa

Puasa bukan hanya puasa perut, tetapi juga puasa mata. Di zaman kini, ujian mata bukan lagi hanya di pasar atau di jalan, tetapi juga di layar telepon genggam.

Banyak gambar dan tontonan yang tidak pantas. Jika kita biarkan mata ini bebas memandang, maka hati pun akan ternodai.

Saya teringat seorang guru di kampung. Pada hari Jumat di bulan Ramadan, beliau tidak mau melewati pasar, karena khawatir pandangannya jatuh kepada aurat yang terbuka. Bukan karena merasa dirinya suci, tetapi karena ia takut puasanya ternoda.

Betapa halus perasaan orang yang ingin menjaga puasanya.

5. Sumpah Palsu — Dosa yang Berat

Sumpah palsu adalah bersumpah atas nama Allah untuk menguatkan kebohongan. Ini bukan sekadar dusta biasa, tetapi kebohongan yang menyeret nama Allah di dalamnya.

Dalam syariat, sumpah palsu termasuk dosa besar. Ia menghilangkan keberkahan, merusak kepercayaan, dan menghancurkan integritas diri.

Bayangkan seseorang yang bersumpah demi mendapatkan keuntungan dunia—menjual tanah, berdagang, atau menghindari tanggung jawab—padahal ia tahu bahwa sumpahnya itu dusta. Puasa seperti apa yang ia harapkan berbuah takwa jika lisannya masih berani mempermainkan nama Tuhan?

Puasa Harus Sesuai Ketentuan

Jangan sampai kita telah berpuasa 20 tahun, 40 tahun, bahkan 60 tahun, tetapi bekas puasa itu tidak tampak dalam kehidupan kita.

Puasa seharusnya melahirkan pribadi yang lembut lisannya, bersih pandangannya, jujur ucapannya, dan amanah sikapnya.

Perumpamaannya seperti seseorang yang diminta mencangkul sawah. Ia bekerja keras seharian, mencangkul dan membersihkan. Namun ternyata sawah yang ia kerjakan bukan milik orang yang menyuruhnya. Maka ketika ia meminta upah, dikatakan kepadanya, “Itu bukan sawahku. Engkau bekerja tidak sesuai perjanjian.”

Demikian pula puasa. Jika tidak sesuai dengan ketentuan Allah—tidak menjaga lisan, tidak menjaga pandangan, tidak menjaga kejujuran—maka bagaimana kita berharap balasan yang sempurna?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post